Sabtu, 07 Maret 2026

Rindu Rumah Sendiri (RRS)

Karya : Gutamining Saida 
Rumah mewah, rumah besar, dan rumah yang sangat bagus sering kali menjadi impian banyak orang. Bangunannya kokoh, dindingnya indah, perabotannya mahal, bahkan mungkin dilengkapi berbagai fasilitas yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa kagum. Ada satu hal yang sering kali tidak dapat dibeli dengan kemewahan itu, yaitu rasa memiliki.

Ketika seseorang berada di rumah yang bukan miliknya, walaupun rumah itu besar dan nyaman, sering kali hati tetap merasa ada yang kurang. Tempat tidur mungkin empuk, ruangan mungkin sejuk, makanan tersedia dengan baik, tetapi rasa tenang tidak sepenuhnya hadir. Tidur terasa tidak senyenyak ketika berada di rumah sendiri. Pikiran masih terasa gelisah. Ada perasaan asing yang sulit dijelaskan.

Barangkali itulah yang sering dirasakan oleh banyak orang ketika sedang bepergian atau bermalam di tempat lain. Seindah apa pun rumah yang ditempati sementara, hati tetap merindukan rumah sendiri. Rumah yang mungkin tidak besar, tidak mewah, dan tidak dipenuhi perabot mahal, tetapi di sanalah hati merasa paling tenang.

Rumah sendiri memiliki kenangan, memiliki cerita, memiliki kehangatan keluarga. Di sanalah kita terbiasa menjalani hari-hari dengan sederhana tetapi penuh makna. Tidak heran jika baru satu hari saja tidak berada di rumah, hati sudah mulai merasa rindu. Ada dorongan kuat untuk segera pulang.

Rasa rindu itu muncul karena rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat hati berlabuh.
Ada satu tempat di dunia ini yang justru menghadirkan perasaan yang berbeda. Tempat yang membuat seseorang merasa semakin betah semakin lama berada di sana. Tempat yang justru membuat hati berat ketika harus meninggalkannya. Tempat itu adalah tanah suci, khususnya kawasan Masjidil Haram.

Banyak orang yang pernah berkunjung ke sana menceritakan pengalaman yang hampir sama. Ketika pertama kali melihat Ka'bah, hati terasa bergetar. Ada rasa haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mata sering kali tidak mampu menahan air mata.
Perasaan itu bukan sekadar kagum. Ia adalah perasaan spiritual yang menyentuh bagian terdalam dari hati manusia. Seolah-olah jiwa menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Di tanah suci, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Hari-hari dipenuhi dengan ibadah. Dari pagi hingga pagi kembali, pikiran hanya tertuju kepada Allah. Tidak ada kesibukan dunia yang mengganggu. Tidak ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tidak ada tugas mengajar yang menunggu di sekolah. Semua urusan dunia seakan tertinggal jauh.
Yang ada hanyalah doa, dzikir, shalat, dan harapan agar Allah menerima setiap amal yang dilakukan.

Pagi hari dimulai dengan shalat Subuh berjamaah. Setelah itu, banyak orang tetap duduk di masjid, membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa dengan khusyuk. Suasana masjid terasa begitu tenang meskipun dipenuhi ribuan orang dari berbagai negara.
Ketika siang datang, ibadah kembali dilakukan. Saat sore tiba, hati semakin lembut dengan lantunan doa dan dzikir. Malam hari pun tidak terasa berat karena dipenuhi dengan shalat dan munajat kepada Allah.

Dalam suasana seperti itu, hati merasakan ketenangan yang sangat dalam. Ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang mengatakan bahwa berada di tanah suci terasa seperti berada di rumah yang sebenarnya. Rumah bagi jiwa. Tempat di mana hati merasa dekat dengan Sang Pencipta.

Berbeda dengan ketika berada di rumah orang lain yang mewah. Walaupun segala fasilitas tersedia, hati tetap ingin pulang. Tetapi di tanah suci justru terjadi kebalikannya. Semakin lama tinggal di sana, semakin berat rasanya untuk pulang.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika tiba saatnya meninggalkan kota suci Makkah. Banyak orang yang menoleh berkali-kali ke arah Masjidil Haram, seolah tidak ingin berpisah. Bahkan ada yang meneteskan air mata ketika perjalanan pulang dimulai.

Air mata itu bukan karena kesedihan semata, tetapi karena rasa cinta kepada tempat yang telah memberikan pengalaman spiritual yang begitu mendalam.
Di tanah suci, manusia merasa kecil di hadapan kebesaran Allah. Kesibukan dunia yang selama ini terasa penting tiba-tiba menjadi kecil. Jabatan, pekerjaan, dan urusan dunia tidak lagi mendominasi pikiran.
Yang terasa penting hanyalah hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Bagi seorang guru yang sehari-hari disibukkan dengan mengajar, menyiapkan materi, memikirkan siswa, dan menjalankan berbagai tanggung jawab di sekolah, berada di tanah suci tentu menjadi pengalaman yang sangat berbeda. Untuk sementara waktu, semua kesibukan itu bisa dilepaskan.
Tidak ada jadwal pelajaran. Tidak ada tugas administrasi. Tidak ada kewajiban mengoreksi pekerjaan siswa.
Yang ada hanyalah kesempatan untuk memperbanyak ibadah.
Kesempatan untuk lebih banyak bersujud. Kesempatan untuk lebih lama berdoa. Kesempatan untuk berbicara kepada Allah dengan hati yang tulus.

Dalam suasana seperti itu, hati terasa ringan. Pikiran menjadi tenang. Jiwa terasa damai.
Tidak heran jika banyak orang yang berkata, “Seandainya bisa lebih lama tinggal di tanah suci.”
Bahkan ada yang berkata bahwa ketika kembali ke tanah air, kerinduan kepada tanah suci justru semakin besar. Kenangan tentang ibadah di sana terus terbayang. Suasana masjid, lantunan doa, dan pemandangan Ka’bah seakan selalu hadir dalam ingatan.
Kerinduan itu kemudian berubah menjadi doa.
Doa agar suatu hari nanti Allah kembali mengundang untuk datang ke rumah-Nya. Doa agar dapat kembali merasakan kedamaian yang pernah dirasakan di sana.

Pada akhirnya, manusia memang memiliki dua jenis kerinduan. Rindu kepada rumah tempat ia tinggal bersama keluarga, dan rindu kepada tempat di mana jiwanya merasa dekat dengan Allah.
Rumah dunia memberi kenyamanan bagi tubuh.
Tanah suci memberi ketenangan bagi hati.
Dan semoga suatu hari nanti, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali merasakan kedamaian itu. Datang sebagai tamu-Nya, beribadah dengan penuh keikhlasan, dan pulang dengan hati yang lebih bersih.
Aamiin.
Cepu, 7 Maret 2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar