Karya: Gutamining Saida
"Shofa." Ketika kata itu terucap, pikiran seorang muslim seakan langsung melayang jauh menembus jarak ribuan kilometer menuju tanah suci. Sebuah tempat yang tidak sekadar menjadi tujuan perjalanan, tetapi menjadi tujuan hati. Tanah yang selalu dirindukan oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia. Tanah yang setiap jengkalnya menyimpan kisah keimanan, pengorbanan, dan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.
Di antara tempat yang sering terlintas dalam benak ketika membayangkan tanah suci adalah Bukit Shafa. Sebuah bukit kecil yang menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu yang penuh cinta dan keyakinan kepada Allah. Bukit ini berdampingan dengan Bukit Marwah, dan keduanya menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah sa’i ketika umat Islam melaksanakan umrah maupun haji.
Ketika menyebut nama Sofa atau Shafa hati terasa bergetar. Seakan ada panggilan halus yang mengetuk pintu rindu di dalam dada. Rindu yang mungkin belum pernah terbayar oleh langkah kaki, tetapi sudah lama hidup dalam doa dan harapan. Tanah suci bukan hanya tentang tempat. Ia adalah ruang spiritual yang mampu menggugah hati siapa saja yang datang dengan niat tulus. Banyak orang yang pernah menginjakkan kaki di sana bercerita bahwa rindu itu tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan semakin lama, rasa rindu itu semakin kuat. Seolah ada magnet spiritual yang terus menarik hati untuk kembali. Bukit Shafa menyimpan kisah yang sangat mulia. Di tempat itulah dahulu seorang ibu bernama Hajar berlari dengan penuh harap demi mencari air untuk putranya, Ismail. Dengan keyakinan penuh kepada Allah. Subhanahu Wata'alla beliau berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah. Tujuh kali perjalanan beliau tempuh, bukan sekadar langkah fisik, tetapi langkah keimanan yang dilandasi kesabaran dan tawakal.
Dari perjuangan itu kemudian Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan mukjizat berupa mata air Sumur Zamzam yang hingga hari ini masih mengalir dan menjadi berkah bagi jutaan manusia. Ketik membayangkan kisah itu, hati terasa kecil. Betapa besar keimanan seorang ibu yang tidak pernah putus berharap kepada pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla. Bukit Shafa bukan sekadar bukit batu atau tanah. Ia adalah simbol keteguhan iman. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap kesulitan selalu ada pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla yang datang pada waktu terbaik.
Menyebut nama Sofa menghadirkan harapan yang begitu tinggi. Ada doa yang diam-diam dipanjatkan setiap selesai sujud. Semoga suatu hari nanti Allah Subhanahu Wata'alla benar-benar mengizinkan kaki ini melangkah ke sana. Berdiri di tempat yang pernah menjadi saksi kesabaran seorang hamba yang begitu taat kepada Tuhannya.
Membayangkan berdiri di Bukit Shafa, memandang ke arah Ka’bah di dalam Masjidil Haram, tentu menjadi pengalaman spiritual yang tidak mudah dilukiskan dengan kata-kata. Hati mungkin akan bergetar, mata bisa saja basah oleh air mata. Air mata yang jatuh bukan karena kesedihan, tetapi karena rasa syukur yang begitu dalam.
Syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan seorang hamba dengan tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa dan bayangan. Syukur karena diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan niat lillah, semata-mata karena Allah Subhanahu Wata'alla.
Setiap kerinduan yang tumbuh di dalam hati seorang hamba tidak pernah sia-sia. Allah Subhanahu Wata'alla mengetahui setiap doa yang terucap, bahkan doa yang hanya tersimpan dalam hati. Mungkin hari ini kita hanya bisa membayangkan, menulis, dan memanjatkan harapan. Siapa yang tahu, suatu hari Allah Subhanahu Wata'alla membuka jalan yang tidak pernah kita duga.Bukankah banyak kisah orang yang awalnya hanya bermimpi pergi ke tanah suci, tetapi akhirnya benar-benar sampai di sana? Ada yang melalui tabungan bertahun-tahun, ada yang melalui undangan, bahkan ada yang mendapat jalan yang sama sekali tidak disangka-sangka.
Karena itu, harapan untuk bisa berkunjung dan beribadah di Bukit Shafa tetap saya simpan dalam hati. Harapan itu saya jaga dalam doa. Semoga suatu saat Allah memanggil dan mengizinkan saya menjadi tamu-Nya di tanah suci.
Bayangan untuk melangkah perlahan menuju Bukit Shafa, membaca doa, kemudian memulai sa’i dengan hati yang penuh harap. Setiap langkah bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi perjalanan jiwa menuju kedekatan dengan Allah. Ketika hari itu benar-benar datang, mungkin yang bisa dilakukan hanyalah menangis dalam diam. Menangis karena merasa begitu kecil di hadapan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla. Menangis karena menyadari bahwa semua yang terjadi adalah karunia-Nya.
Bukit Shafa akan tetap menjadi simbol rindu bagi banyak orang. Rindu untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Rindu untuk memperbaiki diri. Rindu untuk mendekatkan hati kepada Sang Pencipta.
Semoga suatu hari nanti, rindu itu tidak lagi hanya menjadi cerita dalam tulisan atau doa di dalam hati. Tetapi menjadi perjalanan nyata yang membawa langkah saya sampai ke tanah suci, berdiri di Bukit Shafa, dan beribadah dengan penuh keikhlasan. Lillah karena Allah. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla mengabulkan. Aamiin.
Cepu, 7 Maret 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar