Jumat, 06 Maret 2026

Raudhoh Kecil

Karya : Gutamining Saida 
Rasa rindu itu sudah lama bersemayam di dalam hati. Rindu untuk menginjakkan kaki di Raudhoh, tempat yang sering disebut sebagai taman surga. Setiap kali mendengar kisah orang yang pernah berdoa di sana, hati ini selalu bergetar. Terbayang suasana khusyuk, lantunan doa, dan air mata yang jatuh tanpa terasa. Keinginan itu sudah lama ada, terpendam dalam doa-doa yang sering dipanjatkan setelah shalat.

Saya sadar bahwa tidak semua keinginan manusia bisa langsung terwujud. Ada waktu yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Ada jalan yang harus dilalui sebelum sampai pada tujuan. Mungkin Allah Subhanahu Wata'alla belum mengizinkan saya menuju ke sana. Mungkin masih ada banyak hal yang harus saya jalani dalam  kehidupan ini.

Malam ini, Allah Subhanahu Wata'alla belum membawa saya ke Raudhoh yang ada di tanah suci. Allah Subhanahu Wata'alla menempatkan saya di sebuah ruangan yang bernama Raudhoh. Ketika pertama kali mendengar nama ruangan itu, hati saya tertegun sejenak. Sebuah nama begitu indah. Nama yang sama dengan tempat yang selalu saya rindukan. “Ya Allah, malam ini Engkau menempatkan saya di Raudhoh dengan cara-Mu sendiri.” Saya menarik napas panjang.  Hati terucap syukur  Alhamdulillah. Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk merasakan banyak hal dalam kehidupan ini.

Di ruangan ini saya tidak sendiri. Ada beberapa orang yang sedang menjalani ujian kesehatan. Masing-masing dengan cerita yang berbeda. Ada yang terbaring lemah. Ada yang duduk sambil menahan rasa sakit. Ada pula keluarga yang setia menunggu dengan wajah penuh harap.
 
Kali ini suasana hati saya justru dipenuhi rasa syukur.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Ucapan itu terlintas dalam hati. Kita semua memang milik Allah Subhanahu Wata'alla, dan kepada-Nya pula kita akan kembali. Allah Subhanahu Wata'alla masih sayang kepada saya dan keluarga. Buktinya ujian ini datang sebagai pengingat. Ujian ini bukan sekadar rasa tidak nyaman pada tubuh. Ujian ini seperti sebuah panggilan lembut dari Allah Subhanahu Wata'alla agar kita kembali mengingat-Nya lebih sering.Terkadang manusia baru benar-benar ingat kepada Allah Subhanahu Wata'alla ketika sedang diuji tidak enak. 

Saat tubuh sehat, langkah terasa ringan, dan kehidupan berjalan lancar, kita sering lupa bahwa semua itu adalah karunia.
Ketika sakit datang, manusia menjadi lebih banyak berpikir. Lebih banyak merenung. Lebih sering dan menyebut nama Allah.

Malam semakin larut. Sebagian orang mulai terlelap dalam tidurnya. Ketenangan itu tidak sepenuhnya sunyi. Sesekali terdengar suara rintihan dari luar ruangan.
Suara lirih, tetapi cukup membuat hati tergerak.
Membangunkan dari tidur. Mendengarkan rintihan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa iba, ada rasa haru, ada pula rasa syukur yang semakin dalam.

Ujian sakit pada anak justru membuka mata saya lebih lebar. Saya bisa melihat penderitaan orang lain. Saya bisa merasakan betapa beratnya perjuangan mereka yang sedang melawan penyakit.
Kadang kita tidak tahu betapa berharganya kesehatan sebelum merasakan sakit. Kadang kita tidak tahu betapa berharganya waktu sebelum melihat seseorang kehilangan kesempatan hidup.
Malam itu saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu.
  
Saya mendoakan orang-orang yang ada di ruangan ini. Mendoakan mereka yang sedang sakit agar diberikan kesembuhan. Mendoakan keluarga yang sedang berduka agar diberi ketabahan.
Dalam hati saya juga memohon, jika suatu saat Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan, semoga saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Raudhoh yang selama ini dirindukan. Tempat di mana doa-doa dilangitkan dengan penuh harap.
Allah menghadirkan “raudhoh kecil” di tempat yang tidak kita duga. Tempat yang justru membuat hati lebih dekat kepada-Nya.Di tengah ujian sakit dan tangisan manusia, saya merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wata'alla begitu dekat. Hati menjadi lebih lembut. Air mata menjadi lebih mudah jatuh. Doa menjadi lebih tulus.

Malam semakin larut. 
Sebelum mata benar-benar terpejam, satu kalimat terucap di dalam hati.“Ya Allah, terima kasih atas ujian yang Engkau berikan. Jadikan ini jalan agar aku semakin dekat kepada-Mu.” Aamiin. 
Cepu, 7 Maret 2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar