Jumat, 06 Maret 2026

Ruang Pembelajaran

Karya: Gutamining Saida 
Waktu Ashar mulai mendekat. Cahaya matahari sore masuk perlahan melalui kaca ruangan. Sinar itu jatuh lembut di  dinding, memberi nuansa hangat di tengah suasana yang justru dipenuhi suara yang berbeda yaitu suara tangisan anak-anak kecil. 
Tangisan itu kadang lirih, kadang keras, seakan berlomba menyampaikan rasa yang tidak mampu mereka ucapkan dengan kata-kata.

Saya melangkah masuk dengan hati yang terkejut. Dalam hati sempat terlintas pertanyaan sederhana, mengapa tidak diam-diam saja? Namun pikiran itu segera saya sadari sebagai kekeliruan dalam diri saya. Anak-anak yang masih begitu kecil tentu belum mampu menyampaikan apa yang mereka rasakan dengan bahasa yang jelas. Dunia mereka masih sederhana. Ketika lapar, takut, sakit, atau merasa tidak nyaman, satu-satunya bahasa yang mereka miliki hanyalah tangisan.
Tangisan mereka bukan sekadar suara.
Tangisan itu adalah pesan.
Pesan tentang rasa yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Pesan tentang kebutuhan yang belum terpenuhi.
Pesan tentang tubuh kecil yang sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tidak mereka mengerti.

Saya duduk di kursi yang ada di sudut ruangan. Mata saya memandang ke sekeliling. Ada seorang ibu tampak sibuk menemani anak mereka. 
Di wajah ibu itu tampak berbagai rasa cemas, khawatir, lelah, tetapi juga penuh kasih sayang.Selang beberapa waktu, suasana ruangan berubah.    

Bagi saya, suara itu justru terasa menyayat hati.
Tangisan anak kecil selalu memiliki kekuatan. Ia mampu mengetuk pintu hati siapa saja yang mendengarnya. Bahkan bagi orang yang tidak mengenal anak itu sekalipun, tangisan itu tetap terasa menembus perasaan.
Saya menarik napas pelan.
Dalam hati saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan saya di ruangan ini pada waktu Ashar seperti sekarang?
Barangkali ini bukan sekadar kebetulan. Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengirimkan sebuah pelajaran yang halus.

Tidak lama kemudian, suasana ruangan berubah menjadi lebih sunyi sesaat. Seorang tenaga medis masuk dengan wajah yang tampak serius. Ia mendekati beberapa orang yang sejak tadi duduk dengan penuh harap.Beberapa kalimat pelan disampaikan.
Tidak ada suara keras. Tidak ada pengumuman panjang.
Tetapi kalimat yang singkat itu seolah membawa kabar yang sangat berat.
Dalam hitungan detik, suasana ruangan berubah.
Tangisan memenuhi ruangan disusul oleh tangisan orang dewasa. Beberapa ibu yang berada di dekat ruangan itu langsung menjerit. Tanpa ada komando, tanpa ada aba-aba, mereka menangis keras. Suara tangisan itu pecah seperti gelombang yang tiba-tiba datang.

Ada seorang saudara mereka yang baru saja menghembuskan napas terakhir.Tangisan ini penuh kehilangan. Ada yang memanggil nama orang yang telah pergi. Ada yang menutup wajah dengan kedua tangan.
Ada yang hanya terdiam sambil air mata terus mengalir.
Suasana ruangan berubah menjadi sangat haru. Bahkan orang-orang yang tidak memiliki hubungan keluarga pun ikut terdiam.

Saya merasakan dada saya tiba-tiba terasa sesak.
Entah mengapa, air mata saya ikut jatuh perlahan.
Padahal saya tidak mengenal siapa yang telah pergi itu.
Saya juga tidak mengenal keluarga yang sedang menangis. Tangisan mereka terasa begitu nyata. Begitu dalam. Begitu manusiawi.
Di saat seperti itu, batas antara orang yang dikenal dan tidak dikenal seakan hilang. Yang tersisa hanyalah rasa bahwa kita semua adalah manusia yang sama-sama rapuh di hadapan takdir Allah Subhanahu Wata'alla.

Kematian selalu memiliki cara yang sunyi untuk mengingatkan manusia.Ia datang tanpa memilih waktu yang kita inginkan.Ia datang tanpa menunggu kesiapan hati.

Akhir kehidupan dengan tangisan keluarga yang ditinggalkan.Air mata saya kembali jatuh perlahan.
Bukan hanya karena suasana yang begitu mengharukan, tetapi juga karena hati saya merasa diingatkan dengan sangat jelas.Bahwa kehidupan ini begitu singkat.
Bahwa setiap napas yang kita miliki adalah titipan.
Bahwa suatu saat nanti kita semua juga akan sampai pada titik itu menghembuskan napas terakhir.
Cepu, 6 Maret 2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar