Selasa, 27 Oktober 2026

Taman Enceng Gondok

 

Karya: Gutamining Saida

Setelah seharian bergelut dengan aktivitas di sekolah, saya mendapatkan ajakan yang cukup menarik. Bukan ajakan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, makan di restoran, atau jalan-jalan ke tempat wisata yang sedang ramai dikunjungi orang. Ajakannya sederhana, tetapi cukup membuat rasa penasaran saya muncul. Saya diajak melihat bunga enceng gondok yang sedang bermekaran di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Pemandangan itu sedang viral di media sosial. Wah, mendengar kata viral, rasa penasaran saya langsung bangkit. Maklum, zaman sekarang kalau ada sesuatu yang viral, rasanya sayang sekali kalau hanya menjadi penonton dari kejauhan. Apalagi lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Masa iya, orang lain sudah berfoto ria, sementara saya hanya bisa melihat unggahannya di layar ponsel?

Akhirnya, tanpa berpikir panjang, saya pun ikut berangkat. Anggap saja ini sebagai hadiah kecil untuk diri sendiri setelah menjalani rutinitas sebagai seorang guru. Seharian berada di sekolah tentu membutuhkan energi, kesabaran, dan pikiran yang tidak sedikit. Maka, menikmati pemandangan sore hari menjadi salah satu cara sederhana untuk menyegarkan pikiran.

Siapa tahu, setelah melihat bunga enceng gondok, pikiran gondoknya hilang. Hehehe!

Bengawan Solo bukanlah sungai yang asing bagi masyarakat di sekitar kami. Sungai ini memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Airnya menjadi sumber penghidupan bagi petani, membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, serta menjadi bagian dari kehidupan warga yang tinggal di sekitarnya.

Musim kemarau panjang membawa perubahan pada wajah sungai yang selama ini akrab dengan kehidupan masyarakat. Debit air menyusut, permukaan air menurun, dan bagian-bagian yang sebelumnya dipenuhi air kini tampak tanah. Di beberapa bagian, hamparan enceng gondok tumbuh memenuhi permukaan sungai.

Tanaman yang biasanya hanya dianggap tumbuhan air biasa itu kini justru menjadi pusat perhatian. Terlebih ketika bunganya bermekaran, menciptakan pemandangan yang menarik untuk dilihat. Siapa sangka, tanaman yang sering dianggap mengganggu aliran air itu mendadak naik kelas menjadi objek wisata dadakan?

Kalau biasanya orang berbondong-bondong mencari bunga di taman, kali ini bunga enceng gondok di Bengawan Solo pun berhasil mengundang perhatian. Tanpa tiket masuk, tanpa gerbang megah, dan tanpa papan bertuliskan "Welcome to Bengawan Solo" masyarakat sudah berdatangan untuk menikmati pemandangannya.

Begitulah kehidupan. Kadang-kadang sesuatu yang selama ini dianggap biasa, bahkan kurang diperhatikan, bisa mendadak menjadi istimewa ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Pemandangan ini ramai diperbincangkan. Hamparan tanaman air yang tumbuh memenuhi permukaan sungai terlihat menarik, apalagi ketika bunga-bunganya sedang bermekaran. Orang-orang berdatangan silih berganti. Ada anak-anak berseragam sekolah yang datang bersama teman-temannya, ibu-ibu yang asyik berbincang sambil mencari sudut foto terbaik, anak-anak yang ikut menikmati suasana, hingga kaum bapak yang ternyata tidak mau kalah dalam urusan berburu foto.

Pemandangannya benar-benar seperti tempat wisata dadakan. Semakin sore, jumlah pengunjung semakin bertambah. Ada yang berdiri berkelompok, ada yang sibuk mengatur posisi kamera, dan ada pula yang berkali-kali mengulang pengambilan gambar demi mendapatkan hasil terbaik.

Ternyata, kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh dan mahal. Cukup dengan pemandangan yang sedang menarik perhatian, suasana sore yang menyenangkan, dan teman untuk berbagi cerita, orang-orang sudah bisa menikmati waktu dengan penuh kegembiraan.

Di tengah keramaian itu, saya pun tidak ingin ketinggalan. Masa iya, sudah datang, tetapi pulang hanya membawa cerita tanpa bukti foto? Tentu saja tidak! Saya pun ikut mencari posisi yang bagus. Sesekali melihat ke arah hamparan enceng gondok, kemudian mengatur gaya, tersenyum, dan berusaha tampil sebaik mungkin di depan kamera.

Kalau hasil fotonya bagus, bisa dipajang di status WhatsApp. Kalau kurang bagus, tinggal diulang. Kalau masih kurang bagus juga, mungkin kameranya yang perlu diajak bermusyawarah. Hehehe!

Namanya juga usaha. Yang penting, hati senang dan kenangan tersimpan. Setelah puas menikmati suasana dan berfoto, saya merasa sayang kalau pengalaman sederhana ini hanya berhenti sebagai kenangan pribadi. Maka, beberapa foto pilihan pun saya unggah ke status WhatsApp.

Bagi saya, status WhatsApp menjadi jendela kecil untuk berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, teman kerja, dan orang-orang yang tidak bisa bertemu setiap hari. Termasuk anak-anak saya yang berada di luar kota.

Saya tahu, jarak membuat kami tidak selalu bisa menikmati momen bersama. Mereka memiliki kesibukan sendiri, begitu pula saya. Karena itu, melalui foto dan cerita sederhana, setidaknya mereka masih bisa mengikuti sebagian aktivitas uminya di rumah.

Saya tidak menyangka unggahan tentang bunga enceng gondok itu justru menuai berbagai komentar dari anak saya. Ada saja tanggapan mereka yang membuat saya tersenyum. Rasanya seperti sedang berada di rumah bersama mereka, meskipun sebenarnya kami terpisah jarak.

Saya membayangkan mereka melihat foto uminya yang sedang asyik menikmati pemandangan enceng gondok. Mungkin ada yang terkejut, mungkin ada yang geli, atau mungkin mereka berpikir, Wah, umi ternyata tidak mau kalah dengan anak-anak muda kalau urusan jalan-jalan dan berfoto!

Lho, memangnya kalau sudah menjadi nenek-nenek tidak boleh menikmati pemandangan? Tentu tidak! Usia boleh bertambah, tetapi semangat menikmati kehidupan jangan sampai ikut menua. Apalagi kalau ada kesempatan untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Mengapa harus dilewatkan?

Bunga enceng gondok bukan hanya memberi saya pengalaman melihat pemandangan yang sedang viral, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan kecil. Di balik keseruan berburu foto, saya sempat berpikir bahwa ada sesuatu yang bisa direnungkan dari kejadian sore itu.

Bengawan Solo sedang mengalami penyusutan air akibat musim kemarau panjang. Kondisi ini tentu bukan sesuatu yang sepenuhnya menggembirakan. Berkurangnya air sungai dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama petani dan warga yang bergantung pada ketersediaan air.

Di satu sisi, hamparan enceng gondok yang bermekaran menghadirkan pemandangan menarik. Di sisi lain, kita juga perlu mengingat bahwa pertumbuhan enceng gondok yang berlebihan dapat mengganggu aliran air dan keseimbangan ekosistem sungai. Artinya, kita boleh menikmati keindahan yang hadir, tetapi jangan sampai melupakan kondisi alam yang melatarbelakanginya.

Jangan pula karena ingin mendapatkan foto yang bagus, kita mengabaikan keselamatan. Bengawan Solo  tetaplah bengawan. Permukaan air yang tampak tenang belum tentu aman, terlebih ketika kondisi air sedang surut dan dasar sungai tidak terlihat jelas.

Menikmati keindahan alam tidak harus dengan mengambil risiko. Cukup melihat dari tempat yang aman, mengabadikan momen sewajarnya, dan tetap menjaga kebersihan lingkungan. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana. Tidak harus menunggu liburan panjang, tidak harus pergi ke luar kota, dan tidak harus mengeluarkan banyak uang.

Hidup tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk menghadirkan kebahagiaan. Ada kalanya, kebahagiaan justru bersembunyi di balik kejadian sederhana yang tidak pernah kita rencanakan. Hari ini bunga enceng gondok menjadi bintang. Besok mungkin ada pemandangan lain yang mencuri perhatian. Kesempatan untuk menikmati kehidupan dengan hati yang bersyukur. Viral boleh, berfoto jangan ketinggalan, tetapi yang paling penting, jangan sampai lupa bersyukur kepada Sang Pencipta.

Cepu, 27 Oktober 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar