Sore suasana kolam renang terasa tidak ramai. Pengumuman singkat dari sang pelatih bahwa beliau harus pergi ke luar kota. Hal tersebut tidak menyurutkan langkah ibu saya. Dengan penuh semangat, beliau mengajak saya untuk tetap pergi ke kolam renang guna melanjutkan sesi terapi airnya.
Melihat antusiasme ibu yang begitu tinggi demi menggapai kesembuhan dan kesehatan adalah sebuah pelajaran kepasrahan yang nyata. Beliau percaya bahwa air salah satu perantara rezeki kesehatan yang dititipkan oleh Allah Subhanahu Wata'alla. Semangat beliau yang tak padam itu seolah menularkan energi positif kepada saya untuk tidak melenyapkan kesempatan belajar Jum'at sore meski tanpa bimbingan langsung dari seorang instruktur.
Saya mendampingi ibu yang dengan tekun melakukan gerakan-gerakan terapi. Sambil menjaga dan mengawasi beliau, saya memanfaatkan waktu untuk berlatih mandiri. Target saya sore itu sederhana: belajar mengapung telentang, melayangkan tubuh di atas permukaan air dengan wajah menengadah lurus menatap langit.
Jujur, dalam hal berenang, saya menyadari betapa minimnya kemampuan saya. Saya belum mampu menguasai gaya berenang. Sejauh ini, pencapaian terbaik saya hanyalah sekadar bisa meluncur beberapa meter. Ketika melempar pandangan ke sekeliling kolam, saya melihat teman-teman sebaya begitu lincah membelah air. Ada yang meluncur cepat dengan gaya bebas, ada yang begitu anggun dengan gaya dada, dan ada pula yang tampak sangat mahir dengan gaya punggung. Gerakan mereka terlihat sangat luwes, seolah air dan tubuh mereka telah menyatu sempurna.
Ada keinginan yang mendalam di dalam dada untuk bisa mahir seperti mereka. Saya merindukan saat-saat di mana tubuh ini bisa menaklukkan kedalaman air dengan berbagai teknik yang sempurna. Kenyataannya, proses belajar yang saya jalani belum membuahkan hasil yang sama. Saya masih sering ragu, masih sering tersengal-sengal, dan gerakan saya masih jauh dari kata sempurna.
Allah menciptakan manusia dengan segala keunikan dan ketetapan-Nya masing-masing. Kemampuan setiap orang dalam menyerap ilmu dan menguasai suatu hal tidak pernah sama. Ada jiwa-jiwa yang dianugerahi kecepatan untuk belajar, hanya butuh beberapa kali mencoba langsung bisa. Ada pula jiwa-jiwa yang diberikan jalan yang lebih lambat, yang harus melewati puluhan kali kegagalan dan latihan ekstra untuk mencapai hal yang sama.
Kecepatan bukanlah ukuran utama, melainkan kesabaran dan ketekunan dalam menjalani prosesnya. Berhasil meluncur saja, bagi saya sudah merupakan sebuah nikmat yang sangat luar biasa. Betapa banyak orang yang bahkan takut untuk sekadar melangkahkan kaki ke dalam air. Maka, bisa meluncur dan merasakan tubuh terdorong air adalah sebuah rezeki kecil yang patut disyukuri dengan sedalam-dalamnya. Alhamdulillah.
Ketika saya mencoba kembali melatih teknik mengapung telentang, tubuh saya perlahan terangkat. Telinga saya terendam air, menyisakan suara ketenangan yang samar. Wajah saya sepenuhnya menghadap ke atas. Pada momen itulah, pandangan mata saya tertuju pada bentangan langit sore yang begitu cerah dan memesona.
Langit Jum'at sore itu dilukisi biru lembut, dan gumpalan awan putih yang beraroma kedamaian. Tidak ada kata yang sanggup melukiskan keindahannya secara utuh. Hati saya seketika bergetar hebat. Rasa takjub memenuh dada akan keagungan dan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wata'alla. Dari atas permukaan air yang tenang, saya menikmati mahakarya Sang Maha Pencipta yang membentang tanpa batas. Langit yang begitu luas itu berdiri kokoh tanpa tiang, menaungi bumi dan seisinya dengan penuh kasih sayang.
Di saat tubuh terlentang dan terombang-ambing pasrah di atas air, menatap keagungan langit. Sebuah hakikat kehidupan merasuk. Betapa kecilnya kita sebagai manusia. Kita hanyalah sebutir debu di tengah samudera ciptaan-Nya yang teramat luas. Air yang menopang tubuh saya dan langit yang menaungi pandangan saya, semuanya berada di bawah kendali dan genggaman kekuasaan Allah yang Maha Dahsyat.
Betapa konyolnya jika ada rasa sombong yang terselip di dalam hati manusia. Kita tidak memiliki daya dan kekuatan sedikit pun melainkan atas izin dan pertolongan-Nya (Laa haula wa laa quwwata illa billah). Bahkan untuk sekadar menjaga tubuh agar tidak tenggelam di dalam kolam ini saja, kita membutuhkan hukum-hukum alam yang telah Allah tetapkan. Jika Allah mencabut ketenangan air atau menarik rizki nafas kita sebentar saja, selesai sudah kisah kita di dunia ini. Lantas, atas dasar apa manusia kerap kali bersikap sombong atas harta, kepintaran, kedudukan, atau bahkan keahlian yang mereka miliki?
Di bawah langit Jum'at yang penuh keberkahan, saya tidak hanya belajar cara mengapung atau meluncur di atas air. Lebih dari itu, Allah mengajarkan saya arti kepasrahan, keikhlasan menerima proses diri, keindahan bersyukur atas pencapaian kecil, dan pentingnya meruntuhkan keangkuhan diri di hadapan Sang Maha Kuasa. Biarlah proses belajar berenang ini memakan waktu lebih lama, yang terpenting, hati ini terus belajar untuk senantiasa rendah hati dan memuji kebesaran-Nya di setiap kesempatan. Aamiin.
Cepu, 10 Oktober 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar