Karya: Gutamining Saida
Ada kalanya sebuah pertemuan tidak perlu dirancang dengan istimewa untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Tidak harus ada acara besar, permainan yang meriah, atau pembelajaran dengan media yang penuh warna. Kadang-kadang, sebuah kalimat sederhana yang terlontar tanpa sengaja justru mampu membuka kembali pintu kenangan yang sempat tertutup.
Kamis saya mendapat tugas piket di kelas 8F. Saya masuk ke kelas bukan sebagai guru yang membawa jadwal pembelajaran seperti biasanya. Saya datang untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir. Mata pelajaran yang kosong adalah Seni Budaya. Ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar menggantikan guru yang tidak hadir.
Saya kembali bertemu dengan anak-anak kelas 8F. Sudah sebulan saya tidak pernah berdiri di depan mereka. Sejak awal tahun pembelajaran 2026–2027, saya memang tidak mendapatkan jadwal mengajar di kelas 8F. Hari-hari berlalu begitu saja. Saya hanya sesekali bertemu dengan mereka ketika berpapasan di halaman sekolah.
Kadang ada yang menyapa. Kadang hanya saling melempar senyum. Kadang saya melihat mereka dari kejauhan ketika sedang berjalan menuju kelas masing-masing. Pertemuan di halaman tentu berbeda dengan pertemuan di dalam kelas. Di halaman, kami hanya bertemu beberapa detik. Tidak ada kesempatan untuk bertanya, bercanda, atau melihat ekspresi mereka lebih lama.
Ketika kaki saya melangkah masuk ke kelas 8F, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti kembali ke sebuah ruang yang pernah begitu akrab. Mereka tampak menyadari kehadiran saya. Saya melihat wajah-wajah yang sebenarnya masih saya kenali. Ada yang langsung tersenyum, memperhatikan, mungkin masih menyimpan kebiasaan-kebiasaan kecil mereka ketika saya mengajar dahulu.
Bertemu di halaman berbeda banget sama ketemu di kelas. Di halaman cuma sebentar. Kami tidak sempat ngobrol, bercanda, atau lihat ekspresi mereka lebih lama. Jadi waktu saya melangkah masuk ke kelas 8F pagi itu, rasanya balik ke tempat yang dulu akrab banget, tapi belakangan menjadi agak jauh.
Saya kemudian bertanya kepada mereka,
“Bagaimana kabar kalian?”
Ada satu suara yang nyeletuk dari salah satu sudut kursi belakang. Saya langsung mengenali suara itu. "Zio" menjawab dengan suara lantang, Anak yang memang sering komentar spontan. Kadang jawabannya membuat kelas jadi hidup.
“Sehat, Paak!”
Sejenak kelas hening. Lalu…Hahaha!
Seketika satu kelas tertawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada komando. Tawa itu muncul begitu saja, seperti air yang tiba-tiba mengalir setelah bendungan dibuka. Zio sendiri ikut tertawa. Wajahnya tampak santai. Tidak terlihat sedikit pun ekspresi bersalah. Seolah-olah ia tidak merasa salah. Saya pun tidak bisa menahan senyum. Saya memandang ke arah Zio.
“Lho… memangnya saya lelaki?” tanya saya.
Zio tersenyum. “Maaf, Bu,” jawabnya sambil tetap tersenyum.
Jawaban sederhana itu justru semakin membuat suasana kelas hangat. Saya ikut tertawa. Anak-anak pun kembali tertawa. Saya sedang menemukan kembali sebuah kebersamaan yang sempat hilang. Sebulan tidak bertemu dalam pembelajaran ternyata membuat pertemuan terasa begitu berarti. Saya melihat wajah-wajah mereka yang dahulu setiap minggu ada di depan saya. Saya mendengar kembali suara-suara khas mereka. Saya melihat senyum yang mungkin selama ini hanya saya jumpai sekilas di halaman sekolah.
Ada aura bahagia yang tiba-tiba tercipta. Tawa Zio menjadi pemantik. Kalimat “Sehat, Paak!” yang sebenarnya salah sebut justru menjadi pintu pembuka sebuah pertemuan yang hangat. Betapa seringnya kita sebagai guru terlalu sibuk mengejar target pembelajaran, menyelesaikan materi, memberikan tugas. Mengoreksi pekerjaan siswa. Mengisi administrasi. Semua itu memang penting.
Tetapi terkadang kita lupa bahwa di balik semua proses tersebut ada manusia-manusia kecil yang sedang bertumbuh, membutuhkan ruang untuk tertawa, membutuhkan guru yang bisa tersenyum bersama mereka, membutuhkan suasana kelas yang membuat mereka merasa diterima.
Bagi saya, tawa mereka adalah hadiah. Ada rasa kangen yang sedikit terobati. Mungkin Zio bakal lupa tugas yang saya berikan. Teman-temannya juga mungkin nggak ingat detail obrolan setelahnya. Saya berharap mereka nggak lupa satu hal, pagi itu kita pernah ketawa bareng. Kamis pagi yang paling terasa bukan cuma sehat, tapi bahagia. Sampai jumpa lagi.
Cepu, 13 Agustus 2026
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar