Senin, 10 Agustus 2026

Telur Ceplok



Karya: Gutamining Saida

Jam pertama sampai kedua adalah waktunya saya menjalankan tugas mengajar IPS. Bagi sebagian siswa, dua jam pelajaran mungkin terasa biasa saja. Bagi saya, setiap pertemuan selalu memiliki kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.

Saya sadar betul IPS sering kali masih dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang penting. Bahkan tidak sedikit siswa yang menganggap IPS sebagai mata pelajaran yang membosankan. Mereka lebih mudah mengatakan, “IPS mata pelajaran kurang keren, tidak penting, hafalan.”

Anggapan seperti itulah yang membuat saya tertantang. Sebagai guru IPS sekaligus wali kelas mereka, saya tidak ingin hanya menyampaikan materi, memberikan tugas, lalu selesai. Saya ingin mengubah cara pandang mereka. Saya ingin membuat mereka merasakan IPS bukan sekadar tulisan di buku, bukan sekadar nama tokoh, tempat, tahun, peta, atau teori yang harus dihafalkan.

IPS adalah kehidupan. Setiap hari kita bersentuhan dengan IPS. Ketika kita berbicara dengan teman, bekerja sama dalam kelompok, berinteraksi dengan guru, berbelanja di kantin, menggunakan uang, mengikuti aturan sekolah, mengenal lingkungan, memahami perbedaan karakter teman, bahkan ketika kita menentukan cita-cita dan mempersiapkan masa depan semuanya memiliki hubungan dengan ilmu pengetahuan sosial.

Manusia adalah makhluk sosial. Itulah yang ingin saya tanamkan kepada mereka. Bagaimana caranya agar pesan itu tidak hanya berhenti sebagai nasihat? Saya pun mencoba menghadirkan sesuatu yang sederhana.

Telor ceplok.

Ya, telor ceplok!

Mungkin terdengar lucu. Apa hubungannya IPS dengan telor ceplok?  Saya siapkan media pembelajaran berupa gambar telor ceplok. Saya ingin mengajak mereka seolah-olah sedang sarapan pagi bersama. Bukan sarapan biasa, menu sarapan telor ceplok spesial.

Telor ceplok itu saya jadikan simbol. Putih telurnya mengingatkan tentang ketulusan. Kuning telurnya menjadi simbol semangat yang harus terus menyala. Keseluruhan telor ceplok menjadi gambaran  sesuatu yang sederhana bisa menjadi luar biasa apabila dikemas dengan kreativitas.

Saya masuk kelas VIIIA sebagai guru IPS sekaligus wali kelas dengan membawa media yang sudah siap. Saya bisa membayangkan rasa penasaran mereka.

“Mau belajar apa, Bu?”

“Mengapa ada telor ceplok?”

“Mau sarapan, Bu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang saya harapkan muncul. Saya ingin menciptakan rasa penasaran sebelum materi dimulai. Menurut saya, pembelajaran yang menyenangkan tidak selalu membutuhkan media yang mahal. Tidak harus menggunakan teknologi canggih. Tidak harus menggunakan alat yang rumit.

Kadang-kadang sebuah telor ceplok yang sederhana mampu membuka pintu perhatian siswa. Saya pun mengajak mereka untuk “sarapan pagi”. 

"Ayo kita sarapan pagi bersama dengan telor ceplok."ucap saya sambil menata telor ceplok di meja. "Saya sudah sarapan di rumah, bu." jawab Rangga. Suasana kelas menjadi lebih hidup.

"Wah baguus bila sudah sarapan!"jawab saya

"Sarapan pagi ini tidak membuat kalian kenyang."

"Kalau tidak kenyang, lalu bagaimana bu?"tanya Dika

"Kalian menjadi haus."jawab saya singkat

"Koook bisa bu?"tanya Mustofa

"Ya iyalah, haus ilmu pengetahuan maksudnya!"

"Oooooh begitu."jawab Atta

"Membuat kalian sehat dan melek pikiran."jawab saya

Bukan sekadar sarapan makanan, tetapi sarapan semangat. Saya ingin mereka sehat jasmani sekaligus sehat pikiran. Sebab masa depan tidak cukup hanya dibangun dengan tubuh yang sehat. Pikiran juga harus sehat. Cara berpikir harus berkembang. Hati harus memiliki semangat. Pengetahuan harus terus bertambah.

Saya ingin setiap siswa memiliki keyakinan bahwa mereka mampu mencapai kesuksesan di masa depan. Kesuksesan itu tidak datang tiba-tiba. Kesuksesan membutuhkan proses. Belajar. Berlatih. Bekerja sama. Menghargai orang lain. Mampu berkomunikasi. Mampu memahami lingkungan. Mampu mengambil keputusan. Semua itu ada di IPS.

Saya sering berpikir, mungkin selama ini yang membuat IPS terasa membosankan bukan karena materinya tidak menarik. Bisa jadi cara menyampaikannya yang perlu terus diperbarui. Guru IPS harus memiliki seribu cara. Ketika siswa bosan dengan buku, kita hadirkan gambar. Ketika mereka jenuh dengan tulisan, kita hadirkan permainan.

Sebuah benda sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari saya ubah menjadi pintu masuk pembelajaran. Saya ingin mereka memahami belajar tidak harus selalu dalam suasana tegang. Belajar boleh tertawa. Belajar sambil bermain. 

Ada perubahan kecil dalam cara mereka memandang pelajaran. Sebagai wali kelas, saya mempunyai tanggung jawab yang lebih dari sekadar mengajar materi. Saya ingin mengenal mereka. Saya ingin memahami karakter mereka. Saya ingin melihat kelebihan mereka. Saya ingin membangun kepercayaan diri mereka.

Saya ingin kelas menjadi tempat yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Saya percaya, anak-anak tidak hanya membutuhkan guru yang pintar menjelaskan materi. Mereka membutuhkan guru yang mampu menyalakan api semangat di dalam dirinya.

Api kecil itu mungkin hari ini hanya berupa rasa senang mengikuti pembelajaran. Besok berubah menjadi rasa ingin tahu. Lusa menjadi kebiasaan belajar. Suatu hari nanti mungkin berubah menjadi kesuksesan.

Saya tidak pernah tahu siswa mana yang kelak menjadi dokter, guru, pengusaha, polisi, tentara, pejabat, ilmuwan, seniman, atau profesi lainnya. Tetapi saya tahu satu hal. Mereka adalah generasi masa depan.

Karena itu, setiap pertemuan dengan mereka adalah kesempatan untuk menanam sesuatu. Bukan hanya materi pelajaran. Tetapi juga karakter. Semangat. Kemandirian. Kerja sama. Tanggung jawab. Serta kecintaan terhadap proses belajar.

Telor ceplok pagi itu akhirnya bukan sekadar media pembelajaran. Ia menjadi sebuah pesan. Sesuatu yang dianggap sederhana bisa memiliki makna besar. Pelajaran yang dianggap tidak penting bisa menjadi sangat dekat dengan kehidupan.

IPS yang dianggap kurang keren ternyata ada di mana-mana, di rumah, sekolah, pasar, lingkungan masyarakat, media sosial, dunia kerja. Hubungan kita dengan sesama manusia. IPS mengajarkan kita memahami manusia, lingkungan, perubahan, perbedaan dan memahami  hidup bersama sebagai bagian dari masyarakat.

Maka saya ingin mengubah satu kalimat di dalam kelas saya. Bukan lagi, “IPS itu membosankan.” Tetapi, “IPS itu kehidupan kita.” “IPS membantu kita memahami kehidupan.”

Sabtu pagi dua jam pelajaran. Saya berharap dua jam dapat meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar catatan di buku. Saya berharap ada semangat yang tumbuh, senyum yang hadir dan  kecintaan baru terhadap IPS.

Telor ceplok bisa berubah menjadi sarapan semangat, sarapan ilmu, dan sarapan harapan untuk masa depan. Guru berusaha membuat siswa percaya dirinya mampu belajar, mampu berkembang, dan mampu menjadi manusia hebat di masa depan. Semangat  kecil hari ini, kelak bisa menjadi cahaya besar dalam perjalanan hidup mereka. Aamiin.

Cepu, 8 Agustus 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar