Kamis, 13 Agustus 2026

Senyum Di Balik Kamera

Karya: Gutamining Saida 
Di Esmega, ada tata tertib yang sangat jelas tentang penggunaan handphone. Setiap siswa yang datang ke sekolah tidak diperbolehkan membawa handphone dan menggunakannya secara bebas. Ia hanya boleh digunakan dalam kondisi tertentu, misalnya ketika ada guru yang memang membutuhkannya sebagai alat bantu dari pembelajaran atau ketika digunakan untuk keperluan tes.

Itupun bukan berarti siswa bebas membawa dan menyimpan handphone sepanjang hari di dalam kelas. Ada aturan yang harus ditaati. Jika ia diperlukan untuk pembelajaran, sejak berada di pintu gerbang harus dititipkan terlebih dahulu kepada guru yang memberikan instruksi. Setelah pembelajaran atau tes selesai, dikumpulkan kembali. Siswa baru boleh mengambilnya ketika hendak pulang untuk kemudian dibawa kembali ke rumah.

Aturan itu bukan sekadar tertulis di papan tata tertib. Ia benar-benar hidup dalam keseharian siswa. Saya bangga, anak-anak Esmega mampu mematuhinya. Tidak ada keberanian untuk sembunyi-sembunyi membawanya ke kelas. Tidak ada cerita siswa bermain handphone secara diam-diam di bawah meja ketika guru sedang mengajar. Mereka memahami bahwa aturan dibuat bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk mendidik kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri. Itulah salah satu bentuk pendidikan karakter yang sering kali tidak terlihat dalam nilai rapor.

Ada satu hal yang menarik. Di tengah keterbatasan membawa handphone ke sekolah, ternyata anak-anak tetap memiliki keinginan sederhana yang sangat manusiawi yaitu mengabadikan kenangan. Mereka ingin mempunyai foto ketika mengenakan seragam sekolah. Mereka ingin berfoto bersama sahabat. Mereka ingin menyimpan kenangan ketika masih menjadi siswa Esmega, berdiri di halaman sekolah, di depan ruang kelas, atau di tempat-tempat yang suatu hari nanti mungkin akan mereka rindukan.

Mereka tidak membawa handphone sendiri. Lalu kepada siapa mereka meminta bantuan? Kepada guru. Pemandangan seperti itu sudah menjadi sesuatu yang biasa. Seorang siswa menghampiri guru sambil berkata,
“Bu, boleh minta tolong difoto?”
Guru mengambil handphone, kemudian membantu memotret. Sederhana sekali. Tidak ada pembelajaran tentang interaksi sosial yang harus dituliskan di papan. Tidak ada teori panjang tentang komunikasi. Tidak ada definisi yang harus dihafalkan. Sesungguhnya, di situlah interaksi sosial terjadi. Ada siswa yang meminta bantuan. Ada guru yang memberikan bantuan, komunikasi, kepercayaan, senyum. dan  kebahagiaan.

Ketika saya sedang berada di sekitar ruang guru, beberapa siswi kelas 8A berjalan menuju ruang guru. Mereka berpapasan dengan saya. Karena saya adalah wali kelas mereka, tentu saja saya mengenali mereka. Mereka berhenti dan berjabat tangan.
“Bu, minta foto sama teman-teman, ya.”
“Boleh.”
Mereka pun bergantian berdiri bersama teman-temannya. Ada yang berdiri di samping, merapatkan bahu, tersenyum lebar, bergaya dengan ekspresi khas anak seusianya. Saya mengarahkan kamera.
“Sudah siap?”
“Sudah, Bu!”
Jepret! Satu foto selesai.
“Bu, lihat dulu!”
Mereka kemudian melihat hasil fotonya. Senyum mereka langsung mengembang.
“Bagus, Bu!”
“Foto lagi, Bu!”
Saya pun kembali mengambil gambar. Jepret! Satu lagi.

Kemudian mereka bergantian melihat hasilnya. Saya memperhatikan wajah mereka. Ada kebahagiaan yang sangat sederhana di sana. Foto itu mungkin memiliki arti yang jauh lebih besar bagi mereka. Barangkali beberapa tahun lagi, ketika mereka sudah lulus dan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, foto itu akan menjadi bagian dari kenangan masa SMP. Mungkin suatu saat mereka membuka galeri foto dan melihat wajah mereka ketika masih mengenakan seragam Esmega.
Mereka mungkin akan berkata,
“Dulu kita pernah seperti ini.”
“Dulu kita sering bersama.”
“Dulu Bu Saida pernah memfoto kita.”

Saya tiba-tiba berpikir, ternyata guru tidak selalu memberikan kebahagiaan melalui materi pelajaran. Kadang kebahagiaan itu hadir melalui hal yang sangat kecil. Sebuah senyuman, sapaan, tepukan di bahu. Saya ikut bahagia melihat mereka bahagia.

Barangkali beginilah salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan kepada kita tentang arti berbagi kebahagiaan. Kita sering berpikir bahwa untuk membuat orang lain bahagia, kita harus memiliki sesuatu yang besar. Padahal tidak selalu demikian. Terkadang Allah hanya meminta kita memberikan sedikit waktu. Sedikit perhatian. Sedikit tenaga. Tetapi bagi orang lain, pemberian kecil itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Saya teringat sebuah keyakinan sederhana. Orang yang berusaha membahagiakan orang lain, Insyaallah akan dibahagiakan Allah melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Bukan berarti setiap kebaikan harus segera dibalas. Bukan pula berarti kita berbuat baik agar mendapatkan balasan manusia. Tidak.

Kebaikan seharusnya dilakukan karena Allah. Jika kemudian Allah menghadirkan kebahagiaan melalui orang lain, itu bonus kasih sayang-Nya. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rahman ayat 60, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan.”

Saya hanya membantu beberapa anak mendapatkan foto kenangan. Saya sendiri mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga dengan melihat senyum mereka. Saya belajar bahwa kebahagiaan itu menular. Ketika kita membuat seseorang tersenyum, hati kita pun sering ikut tersenyum.

Ketika kita membantu seseorang, ada ketenangan yang hadir di dalam diri. Ketika kita memberikan sedikit waktu untuk orang lain, Allah bisa memberikan ketenteraman yang tidak dapat dibeli dengan uang. Barangkali inilah salah satu keindahan menjadi guru. Guru bukan hanya seseorang yang berdiri di depan kelas dan menjelaskan materi. Guru juga menjadi bagian dari perjalanan hidup siswa.

“Ya Allah, jika melalui tangan saya Engkau menitipkan sedikit kebahagiaan untuk anak-anak 8A  jadikanlah itu sebagai kebaikan yang Engkau terima. Jika suatu hari saya membutuhkan kebahagiaan, kirimkanlah ia melalui tangan siapa pun yang Engkau kehendaki.”

Semoga setiap kebahagiaan yang kita berikan kepada orang lain, Allah Subhanahu Wata'alla kembalikan kepada kita dalam bentuk kebahagiaan yang lebih indah, lebih luas, dan datang dari arah yang tidak pernah kita sangka. Karena boleh jadi, ketika kita membuat orang lain bahagia, sesungguhnya saat itu Allah sedang menyiapkan kebahagiaan untuk kita melalui tangan orang lain. Aamiin.
Cepu, 14 Agustus 2026 

1 komentar:

  1. semoga bu saidah sehat selalu,dan selalu sabar mengajar anak anak 7a☺️☺️

    BalasHapus