Karya: Gutamining Saida
Setiap saya masuk ke kelas 8C, selalu saja ada yang menarik perhatian. Anak-anaknya aktif, ramai, penuh energi, dan masing-masing memiliki keunikan. Kadang saya menemukan tingkah lucu, jawaban spontan, kreativitas, benda-benda sederhana yang ternyata menyimpan cerita.
Ketika saya sedang mengajar, pandangan saya tertuju pada meja salah satu siswa perempuan bernama Fani. Saya melihat beberapa lembar kertas putih yang bentuknya agak berbeda. Kertas-kertas itu dibuat seperti contongan, digulung atau dibentuk menyerupai kerucut.
Entah mengapa, benda sederhana itu langsung membuat rasa penasaran saya muncul. Saya pun mendekati meja Fani.
“Ini apa, Fani?”tanya saya sambil mengambil salah satu kertas tersebut dan memperhatikannya.
Fani menjawab singkat,“Untuk membuat buket, Bu.”
Jawaban sangat singkat. Tetapi bagi saya justru mengundang pertanyaan berikutnya. “Buket?”
“Iya, Bu.”
“Buket bunga?”
Fani mengangguk.
Saya semakin penasaran. “Buat sendiri?”
“Iya.”
“Dari kertas ini?”
“Iya, Bu.”
Saya tersenyum. Dalam hati saya berpikir, ternyata anak-anak memiliki kreativitas yang sering kali tidak terlihat ketika mereka duduk mengikuti pembelajaran di kelas. Saya pun mulai kepo.
“Belajarnya dari mana?”
“Lihat tutorial.”
“Tutorial di mana?”
“HP, Bu.”
“Berarti kamu suka membuat kerajinan?”
Fani mengangguk lagi.
Saya kemudian memperhatikan kertas-kertas putih itu lebih teliti. Bentuknya memang sederhana. Hanya kertas putih yang dibuat menyerupai contongan. Namun, di tangan seorang anak yang kreatif, benda sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Saya membayangkan kertas-kertas itu nantinya tersusun menjadi buket yang cantik.
Saya lalu bertanya lagi,“Buketnya nanti untuk siapa?”
Fani tersenyum. Saya menunggu jawabannya. Ternyata, dari sebuah pertanyaan sederhana, saya justru menemukan sisi lain dari seorang siswa yang selama ini saya kenal hanya sebagai bagian dari kelas 8C. Di depan guru, Fani adalah seorang siswa.
Tetapi di luar pembelajaran, ia memiliki dunia kreativitasnya sendiri. Ia mau menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri. Saya pun semakin menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda.
Tugas guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu melihat, memperhatikan, dan menemukan potensi yang tersembunyi dalam diri siswa. Kadang potensi itu tidak muncul ketika kita memberikan soal di papan tulis.
Jangan pernah menganggap sesuatu yang sederhana itu tidak berarti. Mungkin hari ini Fani hanya membuat buket dari kertas. Tetapi siapa tahu, kelak kreativitas sederhana itu menjadi keterampilan yang menghasilkan karya, bahkan menjadi jalan kehidupannya.
“Ternyata anak-anak bukan hanya belajar dari guru. Guru pun harus mau belajar membaca keunikan anak-anaknya.”
Dan Fani, dengan kertas putih berbentuk contongan, telah mengingatkan saya sekali lagi yaitu Setiap anak mempunyai cerita. Tugas guru adalah mau mendekat, bertanya, dan menemukan cerita itu. Semoga kesuksesan menyertai langkah kakimu. Aamiin.
Cepu, 13 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar