Karya: Gutamining Saida
Jumat sore selalu memiliki suasana yang seru. Ada ketenangan yang perlahan turun bersama sinar matahari yang mulai condong ke ufuk barat. Ketenangan berpadu dengan semangat beberapa ibu-ibu yang datang ke kolam renang untuk menjalani terapi.
Mereka datang bukan sekadar ingin bermain air atau belajar berenang. Ada tujuan yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat bermakna yaitu ingin menjadi lebih sehat dan bahagia bersama. Dengan bekal sehat dan semangat yang dibawa dari rumah, langkah mereka menuju kolam terasa begitu ringan. Tidak peduli usia, tidak peduli kemampuan berenang yang masih terbatas. Yang penting adalah kemauan untuk bergerak, belajar, mencoba dan menikmati setiap proses.
Bagi sebagian orang, meluncur di air mungkin terlihat sebagai hal sederhana. Tinggal mendorong tubuh, meluruskan tangan, mengatur napas, kemudian membiarkan tubuh bergerak mengikuti air. Bagi mereka yang sedang belajar mengatasi rasa takut, meluncur membutuhkan keberanian. Di situlah latihan dimulai.
Pak Gun memberikan arahan dengan sabar. Teori demi teori disampaikan. Bagaimana posisi tubuh, bagaimana menenangkan diri, bagaimana mengatur napas, dan bagaimana percaya kepada air. Semua teori dapat dilewati dengan baik dan lancar.
Ketika teori harus diterapkan dalam praktik, ternyata tidak selalu semudah yang dibayangkan. Gerakannya belum sempurna, masih ragu, belum mampu melakukan seperti contoh yang diberikan pak Gun. Bahkan ada yang dalam hati berkata, “Kok sulit, ya?”
Sukses membutuhkan proses. Tidak ada sesuatu yang benar-benar besar yang bisa diperoleh secara instan.
Hari ini belum berhasil, bukan berarti selamanya tidak akan berhasil. Gerakan yang masih salah hari ini bisa diperbaiki pada latihan berikutnya. Rasa takut yang masih muncul hari ini perlahan dapat dikalahkan dengan keberanian yang terus dilatih.
Kita sering kali ingin hasil yang cepat. Ingin sekali mencoba langsung berhasil. Ingin sekali belajar langsung mahir. Padahal kehidupan tidak bekerja seperti itu. Ada proses, ada kesalahan, ada kegagalan, ada pengulangan, dan ada kesabaran.
Menurut pak Gun, yang terpenting bukan siapa yang paling cepat bisa meluncur. Bukan siapa yang paling bagus gerakannya. Tetapi siapa yang mau terus mencoba meskipun hasilnya belum sesuai harapan.
Di sela-sela latihan, Pak Gun kemudian melontarkan sebuah pertanyaan sederhana. “Bu ibu, ini Jumat apa?”
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Bu Sulikah langsung menjawab secara spontan tanpa sedikit pun keraguan.
“Jumat Pon!”
Mendengar jawaban itu, Pak Gun langsung tersenyum. Entah apa yang ada di dalam pikiran beliau. Mungkin beliau berharap jawaban yang muncul adalah “Jumat Sehat”, “Jumat Ceria”, atau istilah lain yang biasa muncul di grup. Tetapi yang keluar justru jawaban yang sangat khas dan tidak terduga yaitu Jumat Pon.
Pak Gun kemudian berkata sambil tersenyum, “Walah... kalau Jumat Pon, Kliwon... saya nggak hafal, Bu.”
Sontak ibu-ibu tertawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang memimpin untuk tertawa. Semuanya tertawa bersama karena pertanyaan sederhana itu berhasil mencairkan suasana. Kebahagiaan memang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Kadang cukup dengan sebuah pertanyaan sederhana, sebuah jawaban spontan, lalu tawa yang muncul bersama-sama.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa terapi dilakukan bersama. Ketika satu orang mengalami kesulitan, yang lain memberikan semangat. Ketika ada yang salah gerakan, tidak langsung ditertawakan dengan maksud merendahkan, tetapi menjadi bagian dari cerita yang membuat suasana semakin hangat. Ketika ada yang berhasil, keberhasilan itu terasa seperti keberhasilan bersama.
Sehat menjadi lebih menyenangkan ketika dijalani bersama. Latihan pun kembali dilanjutkan. Meluncur lagi. Menenangkan diri lagi. Mencoba lagi. Mengatur napas lagi. Terkadang berhasil, terkadang belum. Tetapi semuanya tetap dijalani dengan semangat.
Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sore mulai beranjak menuju petang. Latihan pun harus diakhiri. Sebelum benar-benar meninggalkan kolam, ada satu kebiasaan yang rasanya tidak boleh dilewatkan: foto bersama.
“Pak Gun, saya tolong dividio ya. Mau saya pakai story,” ucap Bu Nanik.
Permintaan sederhana itu kembali menunjukkan bahwa kegiatan di kolam bukan hanya tentang terapi fisik. Ada kenangan yang ingin disimpan. Ada kebersamaan yang ingin diabadikan. Ada cerita yang suatu saat mungkin akan dilihat kembali dan membuat tersenyum.
Foto dan video menjadi bukti bahwa sore itu pernah terjadi. Bukti bahwa pernah ada sekelompok ibu-ibu yang memilih meluangkan waktu untuk menjaga kesehatan. Bukti bahwa mereka pernah berjuang melawan rasa takut. Bukti bahwa mereka pernah belajar meluncur, belajar menenangkan diri, belajar bernapas, dan belajar menikmati proses. Lebih dari itu, dokumentasi menjadi pengingat bahwa kebahagiaan ternyata bisa ditemukan di tempat yang sederhana.
Jumat sore itu mungkin hanya berlangsung satu jam. Tetapi pesan yang dibawanya jauh lebih panjang. Sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang bahagia, pikiran yang tenang, dan lingkungan yang membuat kita merasa tidak sendirian. Sampai berjumpa nanti sore kawan.
Cepu, 15 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar