Karya : Gutamining Saida
Jum'at malam, sekitar pukul 18.45, suasana grup Muda Swimming Squad yang biasanya dipenuhi obrolan tentang kesehatan, terapi, renang, dan berbagai pengalaman sehari-hari tiba-tiba menjadi ramai. Bukan karena ada informasi penting tentang latihan. Bukan pula karena ada pengumuman mengenai terapi. Kali ini penyebabnya sederhana, tetapi justru mampu menghadirkan kehangatan yang luar biasa.
Pak Gun mengirimkan sebuah foto kue bikang berwarna ungu. Kue tradisional yang bentuknya sederhana tampak begitu menggoda. Di bawah foto tersebut, Pak Gun menuliskan kalimat:
“Alhamdulillah rezeki Tan Keno Kiniro.”
Kalimat pendek itu ternyata menjadi pemantik obrolan panjang. Grup yang semula tenang mendadak hidup. Satu per satu ibu-ibu mulai memberikan komentar. Ada yang singkat, lucu, ada pula yang seolah-olah sedang berebut kesempatan untuk mendapatkan bagian dari kue tersebut.
Salah satu komentar datang dari Bu Rini, "Alhamdulllah".
“Uwun, Pak 😂.” komentar bu Sulikah
Pendek. Padat. Jelas. Di balik dua kata tersebut tersimpan sebuah harapan yang sangat manusiawi: siapa tahu ada bagian rezeki yang bisa ikut dinikmati.
Tidak lama kemudian, Bu Asih kembali mengirim pesan ke grup.
“Ngapunten, namung kedik, Pak.”
Artinya, mohon maaf, hanya sedikit, Pak. Kalimat sederhana itu justru terasa begitu akrab. Tidak ada tuntutan. Tidak ada permintaan berlebihan. Hanya gurauan kecil di antara orang-orang yang sudah terbiasa berbagi cerita dan tawa.
Bu Rini kemudian ikut menanggapi. “Wes enthek.”
Wah, ternyata sudah habis!
Sontak suasana semakin ramai. Seolah-olah kue bikang yang jumlahnya mungkin tidak seberapa itu menjadi barang paling berharga malam tersebut. Padahal sebenarnya bukan kue itulah yang membuat grup ramai. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu rasa kebersamaan.
Bu Sulikah pun ikut nimbrungi lagi. “Komentar sesuk uwun sing gawe ae.”
Seolah memberikan pesan, kalau besok ada lagi, yang membuat jangan lupa berbagi.
Bu Asih membalas dengan penuh canda, “Besok kalau ada lebihan tak kirimi incip-incip hhhhh.”
Bu Rini langsung menyambut, “Aseeeek.”
Hanya beberapa kalimat pendek. Hanya percakapan ringan. Malam itu, grup Muda Swimming Squad terasa benar-benar hidup.
Begitulah rezeki. Kadang ia datang bukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Tidak selalu berupa uang banyak, rumah megah, kendaraan baru, atau keberhasilan yang luar biasa. Terkadang rezeki hadir dalam bentuk sekotak kue bikang yang mampu membuat banyak orang tersenyum.
Rezeki juga bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam rumah kita. Rezeki bisa berupa teman yang baik, saudara yang peduli, tubuh yang masih diberi kesempatan untuk bergerak, hati yang masih bisa tertawa, serta lingkungan yang membuat kita merasa diterima.
Kue bikang itu mungkin hanya makanan biasa. Harganya pun mungkin tidak seberapa. Tetapi ketika diterima dengan rasa syukur, ia berubah menjadi sesuatu yang istimewa. Lebih indah lagi ketika rezeki tidak berhenti pada diri sendiri.
Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu sibuk mengejar rezeki sampai lupa bahwa salah satu bentuk rezeki terbesar adalah memiliki orang-orang yang bisa diajak tertawa. Grup Muda Swimming Squad bukan sekadar tempat bertukar informasi tentang kolam renang. Di dalamnya ada cerita kesehatan, pengalaman terapi, perjuangan untuk menjadi lebih sehat, saling menyemangati, dan sesekali muncul humor-humor sederhana yang membuat suasana menjadi ringan.
Kesehatan memang menjadi salah satu alasan mereka berkumpul. Perjalanan, tumbuh sesuatu yang lebih luas yaitu persaudaraan. Mereka belajar bahwa sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang bahagia. Hati yang bisa tertawa. Hati yang mampu bersyukur. Hati yang senang melihat orang lain mendapatkan rezeki.
Terasa sederhana, kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Cukup sebuah foto kue, lalu disambut komentar lucu dari sahabat-sahabat. Jika dilihat dari luar, percakapan tersebut hanyalah candaan ibu-ibu dan Pak Gun tentang kue bikang. Sebab sesungguhnya yang sedang dibagikan malam itu bukan sekadar kue. Yang dibagikan adalah kebahagiaan.
Semoga setiap rezeki yang datang kepada kita, sekecil apa pun bentuknya, selalu membuat kita semakin dekat kepada Allah. Semoga kita tidak hanya pandai menikmati rezeki, tetapi juga pandai mensyukurinya dan membagikannya kepada orang lain.
Sebuah rezeki yang disyukuri akan menghadirkan ketenangan, sedangkan rezeki yang dibagikan akan menghadirkan keberkahan. Sesungguhnya, yang membuat grup itu hidup bukanlah kue bikangnya. Yang menghidupkan adalah rasa syukur, persaudaraan, kepedulian, dan tawa yang dibagikan bersama. Semoga selalu ada rezeki yang datang tan keno kiniro, rezeki yang tidak disangka-sangka, rezeki yang membawa berkah, dan rezeki yang membuat hati semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.
Cepu, 15 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar