Karya : Gutamining Saida
"Sesungguhnya manusia hanya mampu merencanakan, berusaha, dan berdoa. Namun, Allah-lah yang menentukan hasil terbaik."
Kalimat itu terus terngiang di benak saya ketika malam ini membaca pengumuman 90 tulisan terbaik dalam Sayembara Menulis yang diselenggarakan oleh PPITCONNECT. Mata saya berkali-kali menelusuri daftar nama yang terpampang di layar gawai. Jantung berdegup lebih cepat daripada biasanya. Ada rasa penasaran, harapan, sekaligus pasrah kepada Allah Subhanahu Wata'alla
.
Beberapa detik kemudian, mata saya berhenti pada satu nama yang terasa begitu akrab. Nama saya. Berada di urutan ke-40. Tanpa sadar bibir ini mengucapkan, "Alhamdulillah." Ucapan itu keluar begitu saja sebagai ungkapan syukur kepada Allah Subhanahu wata'alla saya tidak melihat angka 40 sebagai sebuah kekurangan. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai bukti bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar, terus berkarya, dan terus memperbaiki diri.
Perjalanan ini sebenarnya dimulai beberapa bulan yaitu bulan Mei 2026, saya mencoba mengikuti Sayembara Menulis yang diadakan oleh PPITCONNECT. Tema yang diangkat sangat menarik, yaitu 76 Tahun Persahabatan Indonesia-Tiongkok. Tema tersebut memberikan ruang bagi para penulis untuk menuangkan gagasan, pengalaman, maupun pandangan tentang hubungan persahabatan kedua negara yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Awalnya saya hanya ingin ikut belajar. Saya menyadari bahwa kemampuan menulis saya masih terus berkembang. Masih banyak penulis hebat di luar sana yang memiliki pengalaman, wawasan, dan kemampuan merangkai kata jauh lebih baik daripada saya.
Saya juga percaya bahwa setiap kesempatan adalah ruang untuk bertumbuh. Karena itulah saya menyiapkan tulisan dengan sungguh-sungguh. Saya membaca berbagai referensi, menyusun kerangka tulisan, memilih diksi yang tepat, lalu mengeditnya berulang kali. Saya ingin mengirimkan karya terbaik yang mampu saya hasilkan.
Setelah naskah dikirimkan, saya hanya bisa berdoa. Saya yakin tugas manusia hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Soal hasil, biarlah Allah Subhanahu Wata'alla yang menentukan. Tidak lama kemudian panitia mengumumkan bahwa jumlah karya yang masuk mencapai 727 tulisan dari berbagai daerah di seluruh Nusantara.
Angka tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa persaingan sangat ketat. Di balik 727 karya itu ada ratusan penulis dengan latar belakang yang berbeda. Ada guru, mahasiswa, dosen, penulis profesional, jurnalis, hingga masyarakat umum yang memiliki kemampuan luar biasa.
Saya tidak berani berharap terlalu tinggi. Saya hanya berharap tulisan saya dapat memberikan manfaat dan layak diapresiasi. Memasuki bulan Juli 2026, panitia mulai mengumumkan hasil seleksi secara bertahap. Pengumuman pertama adalah para pemenang utama. Hadiah yang disiapkan benar-benar mengagumkan.
Juara pertama memperoleh tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Beijing, uang saku, transportasi selama lima hari, kesempatan menghadiri Upacara Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-76 di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing, e-sertifikat, cinderamata, serta buku antologi. Juara kedua memperoleh uang saku, sertifikat, cinderamata, dan buku antologi. Juara ketiga juga memperoleh uang saku, sertifikat, cinderamata, serta buku antologi.
Selain itu masih ada kategori juara favorit, penerbitan buku antologi, dan pemilihan 90 tulisan terbaik. Melihat hadiah tersebut tentu saya ikut membayangkan betapa indahnya jika suatu saat dapat berkunjung ke Beijing sambil membawa nama Indonesia. Saya segera mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan utama saya mengikuti sayembara ini bukanlah mengejar hadiah, melainkan memperkaya pengalaman dan mengasah kemampuan menulis.
Malam ini tibalah saat yang paling saya tunggu. Pengumuman 90 tulisan terbaik.Saya membuka daftar nama itu dengan hati berdebar. Satu demi satu saya baca. Semakin ke bawah, rasa penasaran semakin besar. Lalu...Saya menemukan nama saya. Berada di urutan ke-40. Bagi sebagian orang, mungkin angka itu biasa saja. Tidak berdiri di podium juara. Tidak mendapatkan hadiah utama. Tidak menjadi pusat perhatian.
Bagi saya, angka itu adalah nikmat yang luar biasa. Saya meyakini bahwa posisi tersebut bukan semata-mata hasil kemampuan saya. Ada campur tangan Allah Subhanahu Wata'lla yang begitu besar. Allah yang memberikan kesehatan sehingga saya dapat menyelesaikan tulisan. Allah yang memberikan waktu di tengah berbagai kesibukan. Allah yang memberikan ide ketika saya mulai kebingungan. Allah pula yang menggerakkan hati dewan juri sehingga karya saya dinilai layak masuk dalam 90 tulisan terbaik. Tanpa pertolongan-Nya, mungkin nama saya tidak akan pernah tercantum di sana.
Pengalaman ini mengajarkan kepada saya bahwa setiap keberhasilan selalu melibatkan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu ikhtiar manusia dan pertolongan Allah. Kita diwajibkan bekerja keras, kita juga harus menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam genggaman-Nya.
Karena itu saya tidak ingin berhenti hanya sampai di sini. Urutan ke-40 bukanlah akhir perjalanan. Justru inilah awal untuk terus meningkatkan kualitas diri. Saya ingin lebih rajin membaca agar wawasan semakin luas. Saya ingin lebih disiplin menulis agar kemampuan semakin terasah.Saya ingin belajar kepada para penulis yang lebih berpengalaman agar mampu menghasilkan karya yang lebih baik.
Saya ingin terus memperbaiki niat bahwa menulis bukan sekadar mengejar penghargaan, tetapi menjadi sarana berbagi manfaat kepada sesama. Saya percaya setiap tulisan yang ditulis dengan hati akan menemukan jalannya sendiri. Mungkin tidak langsung menjadi juara. Mungkin tidak langsung dikenal banyak orang. Setiap tulisan yang baik akan selalu meninggalkan jejak kebaikan bagi pembacanya.
Malam ini saya kembali belajar tentang arti syukur. Syukur adalah ketika Allah masih mengizinkan nama kita tercatat di antara orang-orang yang terus berusaha memberikan yang terbaik. Saya yakin, Allah selalu memiliki rencana yang lebih indah daripada rencana manusia.
Saya percaya bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan membawa seseorang menuju tempat terbaik menurut kehendak Allah. Semoga pengalaman ini menjadi pengingat bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Setiap tetes keringat, setiap waktu yang digunakan untuk belajar, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap huruf yang ditulis akan bernilai di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin.
Cepu, 27 Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar