Karya : Gutamining Saida
Setiap orang memiliki tempat yang menyimpan serpihan kenangan. Ada kenangan yang begitu jelas seolah baru terjadi kemarin, ada pula yang tinggal bayangan samar yang sesekali hadir ketika hati sedang rindu pada masa lalu. Bagi saya, salah satu tempat yang menyimpan kenangan itu adalah gedung SD Padangan Satu. Di sanalah saya memulai perjalanan sebagai seorang pelajar, meskipun hanya selama dua tahun. Setelah itu, Allah menakdirkan saya berpindah ke SD Banjarjo Satu untuk melanjutkan pendidikan.
Jika saya kembali mengingat masa itu, ternyata tidak banyak peristiwa yang benar-benar masih tersimpan dalam ingatan. Mungkin karena usia yang masih sangat kecil sehingga banyak kenangan yang telah memudar dimakan waktu. Ada satu hal yang tetap melekat hingga sekarang, yaitu perjalanan menuju sekolah.
Setiap pagi saya berangkat dengan langkah kecil yang penuh semangat. Tidak ada kendaraan yang mengantar. Tidak ada sepeda motor yang menunggu di depan rumah. Saya berjalan kaki seorang diri, kemudian mampir ke rumah teman sekelas. Setelah berkumpul, kami melanjutkan perjalanan bersama menuju sekolah.
Jaraknya lebih dari satu kilometer. Bagi anak seusia tujuh tahun, tentu bukan perjalanan yang pendek. Saat itu kami tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Justru perjalanan itulah yang menjadi bagian paling menyenangkan. Kami berjalan melewati lorong-lorong kecil, jalan setapak, pepohonan yang masih rindang, serta hamparan sawah yang menghijau. Udara pagi terasa begitu segar. Burung-burung berkicau seolah ikut menyambut langkah kami.
Saat itu lalu lintas belum seramai sekarang. Kendaraan bermotor masih sangat sedikit. Jalanan terasa aman bagi anak-anak yang berjalan kaki menuju sekolah. Orang tua pun tidak merasa khawatir seperti saat ini. Hampir semua anak berangkat sendiri atau bersama teman-temannya. Kami belajar mandiri sejak usia dini tanpa merasa dipaksa.
Kini keadaan telah berubah. Banyak orang tua mengantar anak-anaknya hingga depan gerbang sekolah. Bahkan jarak yang sangat dekat pun sering ditempuh dengan kendaraan bermotor. Perubahan zaman memang membawa banyak kemudahan, tetapi saya juga bersyukur pernah menikmati masa kecil yang sederhana. Kesederhanaan itu justru membentuk mental untuk berani, mandiri, dan bertanggung jawab.
Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa setiap langkah kecil menuju sekolah pada masa itu ternyata bukan sekadar perjalanan biasa. Allah Subhanahu Wata'alla sedang mendidik saya melalui jalan-jalan kecil yang saya lalui setiap pagi. Dari perjalanan itu saya belajar disiplin karena harus berangkat tepat waktu. Saya belajar setia kepada teman karena selalu menunggu mereka sebelum berangkat bersama. Saya juga belajar menghargai proses karena setiap tujuan membutuhkan usaha.
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman dalam Al-Qur'an bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Saat itu mungkin kami merasa lelah berjalan cukup jauh. Setelah tiba di sekolah, rasa lelah itu seakan hilang berganti kegembiraan bertemu guru dan teman-teman. Dari situlah saya belajar bahwa setiap perjuangan akan menghadirkan kebahagiaan apabila dijalani dengan penuh keikhlasan.
Saya juga menyadari bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla tidak selalu berupa harta yang melimpah. Masa kecil kami sangat sederhana. Bekal sekolah pun apa adanya. Seragam tidak berganti-ganti model. Tas sekolah pun dipakai selama masih layak. Namun hati kami terasa ringan dan bahagia. Kami tidak pernah membandingkan apa yang dimiliki teman dengan milik sendiri. Kami belajar menerima rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan dengan penuh rasa syukur.
Perjalanan menuju sekolah menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya terjadi di dalam ruang kelas. Jalan setapak yang kami lalui setiap pagi ternyata juga menjadi ruang belajar. Di sanalah kami belajar saling menyapa, saling membantu ketika ada teman yang tertinggal, dan belajar menghormati orang-orang yang kami jumpai di sepanjang jalan.
Kini ketika saya menjadi seorang guru, kenangan itu sering muncul kembali. Saya membayangkan langkah-langkah kecil yang pernah saya ayunkan puluhan tahun silam. Tidak pernah terlintas dalam benak seorang anak kecil saat itu bahwa suatu hari Allah Subhanahu Wata'alla akan mengizinkan dirinya berdiri di depan kelas sebagai pendidik. Sungguh, rencana Allah Subhanahu Wata'alla selalu jauh lebih indah daripada yang mampu dibayangkan manusia.
Gedung SD Padangan Satu mungkin hanya menjadi tempat saya belajar selama dua tahun. Setiap sudutnya tetap menjadi saksi awal perjalanan hidup saya. Dari sanalah Allah Subhanahu Wata'alla mulai menanamkan benih-benih ilmu yang kemudian tumbuh hingga mengantarkan saya menjadi seorang guru. Tidak ada perjalanan yang sia-sia ketika semuanya diniatkan untuk mencari ilmu.
Rasulullah mengajarkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Kalimat itu kini terasa begitu dekat dengan pengalaman masa kecil saya. Meski harus berjalan kaki cukup jauh, kami tetap berangkat ke sekolah dengan hati gembira. Barangkali langkah-langkah kecil itu menjadi bagian dari ikhtiar mencari ilmu yang dicatat sebagai amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.
Hari ini, ketika sesekali lewat SD Padangan Satu yang pernah saya lalui saat kecil, hati terasa hangat. Lorong-lorong itu sudah berubah. Sawah-sawah sebagian telah berganti menjadi bangunan. Teman-teman seperjalanan pun telah menempuh jalan hidup masing-masing. Kenangan itu tetap hidup di dalam hati.
Saya percaya bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah menyia-nyiakan setiap langkah hamba-Nya menuju kebaikan. Allah Subhanahu Wata'alla mengantarkan saya menjadi seorang pendidik yang kini mengajak generasi muda mencintai ilmu.
Semoga setiap langkah yang pernah kita ayunkan untuk mencari ilmu menjadi saksi di hadapan-Nya pada hari kelak. Semoga setiap kenangan masa kecil yang sederhana mampu mengingatkan kita bahwa keberkahan hidup diukur dari rasa syukur, keikhlasan, dan kesungguhan dalam menjalani setiap amanah yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada kita. Aamiin.
Cepu, 12 Juli 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar