Karya : Gutamining Saida
Ada kalanya seseorang tidak menyadari betapa berharganya sebuah tawa sampai ia lama tidak merasakannya. Begitulah yang saya alami. Hampir sebulan saya tidak mengikuti terapi bersama Pak Gun dan teman-teman. Kesibukan dan beberapa kepentingan membuat langkah saya tidak menuju kolam seperti biasanya.
Sore itu akhirnya saya kembali. Langit mulai teduh, angin berembus pelan, dan permukaan air kolam tampak tenang. Rasanya seperti pulang ke tempat yang telah lama saya rindukan. Bukan hanya karena ingin berolahraga, tetapi karena saya tahu di tempat itu selalu ada energi positif yang sulit ditemukan di tempat lain.
Begitu aba-aba diberikan, kami pun menceburkan diri ke dalam kolam. Air yang menyentuh tubuh terasa sangat dingin.
Saya spontan berkata, "Dingin, Pak!"
Pak Gun yang selalu memiliki cara sederhana untuk menyemangati kami menjawab sambil tersenyum, "Iya, biar hati kita juga belajar beradaptasi dengan air."
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Dalam kehidupan, sering kali kita ingin semuanya terasa nyaman. Padahal, pertumbuhan justru lahir ketika kita berani menghadapi rasa tidak nyaman. Air yang dingin mengajarkan bahwa tubuh akan mampu menyesuaikan diri jika kita tidak menyerah pada rasa pertama yang muncul.
Setelah beberapa saat berada di dalam air, rasa dingin memang perlahan menghilang. Tubuh mulai beradaptasi. Ternyata benar, tidak semua ketidaknyamanan harus dihindari. Sebagian hanya perlu dihadapi dengan sabar.
Ketika kami sudah berada di bagian tengah kolam, Pak Gun kembali melontarkan pertanyaan yang mengundang senyum.
"Gimana? Hati kita dingin, enggak?"
Tanpa berpikir panjang saya menjawab, "Lebih baik hati kita dingin daripada panas hati, Pak."
Seketika ibu-ibu yang berada di sekitar saya tertawa bersama. Tawa itu terdengar begitu lepas. Tidak dibuat-buat. Tidak direncanakan. Mengalir begitu saja. Saya pun ikut tertawa. Di tengah riuhnya suara tawa itu, saya berkata, "Hari ini kita tertawa bareng lagi, Pak Gun." Beliau tersenyum. Saya kemudian menambahkan, "Saya sudah sebulan tidak tertawa bareng Pak Gun. Rasanya lama sekali."
Ucapan itu benar-benar keluar dari hati. Baru saya sadari bahwa selama satu bulan saya memang kehilangan salah satu vitamin kehidupan, yaitu kebersamaan yang menghadirkan tawa. Pak Gun kemudian menanggapi dengan kalimat yang membuat semua kembali tersenyum.
"Makanya jangan sering absen ke kolam, biar kita bisa tertawa bareng."
Saya menjawab, "Insya Allah, Pak. Kalau tidak ada kepentingan, saya akan rutin lagi."
Percakapan sederhana itu mengingatkan saya bahwa olahraga bukan sekadar menggerakkan tubuh. Lebih dari itu, olahraga juga menggerakkan hati. Di kolam renang kami bukan hanya belajar teknik berenang, tetapi juga belajar saling menyemangati, saling menguatkan, dan saling menghibur.
Setelah pemanasan selesai, latihan dilanjutkan dengan mempelajari gaya dada. Satu per satu peserta diminta mempraktikkan gerakan yang telah dicontohkan. Ada yang masih kaku, ada yang gerakannya sudah cukup baik, dan ada pula yang masih salah koordinasi antara tangan dan kaki. Tidak ada yang ditertawakan karena kesalahan. Yang ada justru tepuk tangan dan semangat agar semua mau mencoba lagi.
Di sinilah saya belajar keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada rasa takut gagal. Tidak ada perenang hebat yang langsung mampu berenang dengan sempurna. Semua berawal dari belajar mengapung, belajar bernapas, belajar menggerakkan tangan, lalu mengulanginya berkali-kali sampai menjadi kebiasaan. Bukankah kehidupan juga demikian?
Tidak ada guru yang langsung mahir mengajar. Tidak ada penulis yang langsung menghasilkan tulisan yang indah. Tidak ada orang sukses yang tidak pernah jatuh. Semua bertumbuh melalui proses panjang yang sering kali melelahkan. Kolam renang sore itu kembali mengajarkan bahwa proses tidak boleh dihentikan hanya karena merasa belum mampu. Justru karena belum mampu, kita harus terus belajar.
Menjelang latihan berakhir, Pak Gun memberikan satu instruksi yang cukup unik. "Setelah muncul ke permukaan nanti, teriak yang keras! Lepaskan semua beban yang ada di hati." Awalnya kami saling berpandangan. Setelah aba-aba diberikan, satu per satu peserta melakukannya.
"Aaaaa...!"
Suara teriakan menggema di area kolam. Ada yang pelan, ada yang keras, bahkan ada yang disertai tawa. Ternyata setelah berteriak, hati terasa jauh lebih lega. Beban pikiran yang sejak tadi ikut terbawa ke kolam seolah ikut larut bersama air. Kadang manusia memang membutuhkan cara sederhana untuk melepaskan tekanan yang dipendam terlalu lama.
Saya semakin yakin bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh yang kuat, melainkan juga pikiran yang tenang dan hati yang gembira. Saya menyadari bahwa tawa adalah obat yang tidak dijual di apotek. Ia lahir dari kebersamaan, kepedulian, dan lingkungan yang saling menguatkan. Satu jam bersama orang-orang yang membawa energi positif ternyata mampu menghapus penat yang menumpuk selama berminggu-minggu.
Terima kasih, Pak Gun, atas setiap motivasi sederhana yang selalu memiliki makna mendalam. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang selalu menghadirkan canda di sela-sela latihan. Kalian bukan hanya teman berenang, tetapi bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan wajah tegang.
Jangan terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak, hati untuk tertawa, dan jiwa untuk beristirahat. Kebahagiaan hadir saat kita berani menceburkan diri ke air yang dingin, belajar menghadapi rasa tidak nyaman, tertawa bersama orang-orang baik, lalu pulang dengan hati yang jauh lebih ringan daripada saat kita datang. Kehidupan akan terasa lebih indah ketika dijalani dengan rasa syukur, semangat untuk terus belajar, dan tawa yang dibagikan bersama.
Cepu, 12 Juli 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar