Jumat, 12 Juni 2026

Tantangan Di Trans Studio

Karya : Gutamining Saida 
Kunjungan ke Trans Studio Bandung menjadi salah satu rangkaian kegiatan literasi budaya yang saya ikuti bersama siswa-siswi dan beberapa guru pendamping. Sejak awal, saya sudah menyadari bahwa usia saya yang telah memasuki kepala lima membuat pilihan wahana. Jika para siswa begitu antusias mencari wahana yang memacu adrenalin, saya justru lebih menikmati wahana yang tenang dan tidak membuat jantung berdebar terlalu kencang.

Di dalam area Trans Studio yang luas dan megah itu, saya hanya mencoba dua wahana yang menurut saya cukup aman dan nyaman. Pertama, wahana perahu yang berjalan perlahan. Kedua, wahana Bolang yang lebih banyak menyuguhkan petualangan dan hiburan tanpa uji nyali yang berlebihan. Selebihnya, saya lebih banyak berjalan mengelilingi lokasi, mengamati berbagai wahana, serta memperhatikan tingkah laku siswa yang sedang menikmati permainan.

Melihat para siswa berlarian dari satu wahana ke wahana lain mengingatkan saya pada masa muda yang penuh semangat. Mereka tampak tidak mengenal lelah. Ada yang berkali-kali mengantri demi mencoba permainan yang sama. Ada pula yang saling mengajak teman-temannya untuk merasakan sensasi menegangkan yang katanya sangat seru.

Setiap kali saya mendengar suara jeritan keras dari wahana-wahana ekstrem itu, hati saya justru merasa miris. Dari kejauhan terdengar teriakan panjang yang bercampur antara rasa takut dan gembira. Ada yang menutup mata, ada yang memegang erat pengaman, bahkan ada yang berteriak memanggil nama temannya.

Saya berdiri memperhatikan sambil tersenyum kecil. Dalam hati muncul pertanyaan sederhana, mengapa manusia terkadang sengaja mencari rasa takut untuk mendapatkan kesenangan? Mungkin begitulah cara sebagian orang menikmati hidup. Mereka ingin merasakan tantangan, ingin menguji keberanian, dan ingin membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan ketakutan. Tidak ada yang salah dengan hal itu selama masih dalam batas yang wajar dan aman.

Sebagai guru pendamping, tugas saya bukan hanya menemani, tetapi juga memastikan siswa tetap dalam kondisi baik. Setelah mereka turun dari wahana, saya sering mendengarkan cerita dan keluhan mereka.

"Bu, tadi rasanya mau copot jantung saya."
"Bu, tangan saya sampai gemetar."
"Bu, kaki saya masih lemas."
"Bu, dingin sekali tangan saya setelah turun."

Ada pula yang tertawa terbahak-bahak sambil menceritakan bagaimana ia berteriak sepanjang permainan berlangsung. Temannya kemudian menyahut bahwa wajahnya pucat saat wahana mulai bergerak cepat.

Mendengar berbagai cerita itu membuat saya merenung. Untuk sebuah permainan yang hanya berlangsung beberapa menit saja, tubuh manusia bisa memberikan reaksi yang luar biasa. Jantung berdebar cepat, tangan menjadi dingin, kaki terasa lemas, bahkan pikiran menjadi tidak tenang.

Saat itulah saya teringat bahwa dalam kehidupan nyata, manusia juga sering menghadapi "wahana-wahana" yang jauh lebih menegangkan daripada permainan di taman hiburan.
Ada wahana bernama ujian kehidupan.
Ada wahana bernama kehilangan.
Ada wahana bernama sakit.
Ada wahana bernama kegagalan.
Ada pula wahana bernama kematian yang pasti akan didatangi setiap manusia pada waktunya.

Bedanya, jika di taman hiburan kita mengetahui bahwa permainan akan berakhir dalam hitungan menit, maka dalam kehidupan nyata kita tidak pernah tahu kapan ujian akan selesai. Kita juga tidak tahu seberapa berat tikungan yang akan dihadapi. Karena itulah Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan kepada manusia agar selalu bergantung kepada-Nya. Ketika hati takut, ingatlah Allah. Ketika tubuh lemah, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketika masa depan terasa menakutkan, serahkan segala urusan kepada Allah.

Di Trans Studio saya melihat satu pelajaran yang sangat sederhana tetapi bermakna. Para siswa berani menaiki wahana ekstrem karena mereka percaya bahwa ada pengaman yang menjaga keselamatan mereka. Mereka percaya kepada teknologi yang dibuat manusia. Lalu mengapa dalam kehidupan nyata kita sering ragu kepada penjagaan Allah yang Maha Kuasa?

Allah adalah sebaik-baik Penjaga. Allah Subhanahu Wata'alla yang menjaga kita sejak masih berada dalam kandungan ibu. Allah yang mengatur detak jantung tanpa pernah berhenti. Allah yang memberikan udara untuk bernapas setiap saat tanpa kita bayar sedikit pun.

Ketika melihat siswa yang tangannya gemetar setelah turun dari wahana, saya semakin bersyukur masih diberi kesehatan. Saya bersyukur karena tubuh ini masih mampu berjalan mengelilingi area Trans Studio. Bersyukur masih memiliki kesempatan mendampingi siswa di luar kelas. Bersyukur masih diberi umur untuk menyaksikan berbagai pengalaman hidup yang penuh hikmah.

Mungkin sebagian orang datang ke Trans Studio untuk mencari hiburan. Sebagian lagi datang untuk mencari tantangan. Bagi saya, kunjungan itu justru menjadi sarana belajar bersyukur. Saya belajar bahwa usia membawa perubahan. Tidak semua hal yang disukai saat muda masih cocok dilakukan saat usia bertambah. 

Setiap fase memiliki kenikmatannya sendiri. Kini saya lebih menikmati menjadi pengamat daripada pelaku. Saya lebih senang melihat kebahagiaan siswa daripada memaksakan diri mencoba semua wahana. Saya menikmati langkah-langkah santai menyusuri area permainan sambil mengamati berbagai prilaku pengunjung.

Menjelang meninggalkan Trans Studio Bandung, saya memandangi para siswa yang masih penuh semangat meskipun tubuh mereka tampak lelah. Saya tersenyum dan mengucapkan hamdalah dalam hati. Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk menyaksikan kebahagiaan mereka. Alhamdulillah, perjalanan berlangsung lancar. Kami diberi keselamatan sejak berangkat. 
Cepu, 13 Juni 2026 

1 komentar:

  1. Kebahagiaan guru ketika mendengarkan ungkapan dan ekspresi yang jujur dari siswa siswanya.

    BalasHapus