Sabtu, 13 Juni 2026

Tanggal Special

 

Tanggal 12 Juni biasanya menjadi salah satu tanggal yang selalu saya tunggu. Bukan karena ada pesta besar atau hadiah yang mewah.  Tanggal itu menyimpan sejarah istimewa dalam perjalanan hidup keluarga saya. Pada tanggal tersebut, saya selalu berusaha menyiapkan sesuatu yang sederhana untuk suami dan ibu tercinta. Kadang hanya makan bersama, menikmati hidangan seadanya, bercengkerama sambil mengenang perjalanan hidup yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan kepada kami.

Bagi saya, kebersamaan adalah nikmat yang tidak ternilai. Makan bersama bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi sarana bersyukur atas kesehatan, umur panjang, dan kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Karena itulah setiap tahun saya berusaha mengingat tanggal tersebut dan mempersiapkannya dengan penuh rasa syukur.

Namun tahun ini berbeda. Kesibukan dan aktivitas membuat saya lupa. Bahkan pada tanggal 12 Juni itu saya sedang tidak berada di rumah. Sejak pagi hingga siang saya menjalani kegiatan seperti biasa. Tidak ada sesuatu yang terasa berbeda. Saya menjalani hari dengan santai tanpa menyadari bahwa ada tanggal penting yang sedang saya lewati.

Sore hari, ketika membuka handphone genggam, saya membaca beberapa komentar dan pesan dari anak-anak. Mereka menuliskan doa-doa yang indah untuk abah mereka. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang mendoakan kesehatan, keberkahan umur, dan kebahagiaan. Saat itulah saya terdiam. Jantung saya seakan berhenti sejenak.

"Ya Allah, hari ini tanggal 12 Juni."

Saya baru sadar bahwa hari istimewa yang biasanya saya persiapkan dengan penuh perhatian ternyata telah saya lewati begitu saja. Tidak ada ucapan khusus sejak pagi. Tidak ada makan bersama. Tidak ada persiapan sederhana seperti tahun-tahun sebelumnya. Perasaan bersalah perlahan memenuhi hati saya.

Sebagai seorang istri dan anak, saya merasa telah lalai. Padahal setiap tahun saya selalu berusaha mengingat dan menghormati hari yang bermakna bagi keluarga. Saya menundukkan kepala dan memandang layar handphpne yang masih dipenuhi doa dari anak-anak.

Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan saya tentang satu hal penting. Manusia memang tempatnya lupa. Bahkan kata "insan" dalam bahasa Arab sering dikaitkan dengan sifat lupa yang melekat pada manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang terbebas dari kekhilafan.

Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Allah juga Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Dia mengetahui bahwa kelupaan saya bukan karena tidak sayang, bukan karena tidak peduli, melainkan karena keterbatasan sebagai manusia. Saya segera memanjatkan doa.

"Ya Allah, ampunilah kelalaian ini. Limpahkanlah kesehatan, keberkahan umur, kebahagiaan, dan rahmat-Mu kepada suamiku tercinta dan ibuku tersayang. Jadikan mereka hamba-hamba yang selalu Engkau lindungi dalam setiap langkah kehidupannya."

Sebaliknya, ada orang yang hanya mampu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan tulus. Doa itulah yang menjadi hadiah paling berharga. Kadang Allah membiarkan kita lupa agar kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu berada dalam kendali kita. Kelupaan mengajarkan kerendahan hati. Kelupaan mengingatkan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang membutuhkan pertolongan-Nya setiap saat.

Saya semakin memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi sempurna. Hidup adalah tentang terus memperbaiki diri. Ketika salah, kita meminta maaf. Ketika lupa, kita mengingat kembali. Ketika lalai, kita segera bertobat dan memperbaikinya.

Kini saya bertekad untuk lebih menghargai setiap momen kebersamaan yang Allah berikan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak kesempatan yang masih tersisa. Hari ini kita masih bisa berkumpul, masih bisa berbicara, masih bisa mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Besok belum tentu kesempatan itu masih ada.

Semoga Allah senantiasa menjaga suami tercinta dan ibu tersayang dalam lindungan-Nya. Semoga Allah melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, rezeki yang halal, serta kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka Semoga kelupaan yang saya alami menjadi pengingat bahwa manusia memang tidak luput dari salah dan lupa, tetapi pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Alhamdulillahi rabbil ‘ala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar