Sabtu, 02 Mei 2026

Sumringah

 


Karya: Gutamining Saida

Kami yang telah melewati usia setengah abad, ruang kelas itu telah berpindah ke sebuah kolam renang yang jernih dan menyegarkan. Di bawah bimbingan Pak Gun, air bukan lagi sekadar elemen alam, melainkan media yang membawa kami kembali ke masa kecil yang penuh keceriaan. Belajar renang di usia di atas lima puluh tahun memberikan kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, sebuah suasana di tengah rutinitas masa tua yang sering kali mulai menjemukan.

Setiap sore, setelah sesi teori yang dipandu dengan telaten oleh Pak Gun, kami melangkah menuju tepian kolam dengan perasaan yang campur aduk antara semangat dan sisa-sisa rasa takut yang masih menggelayut. Uniknya, suasana di kolam renang ini selalu dipenuhi oleh aura positif. Disaat praktik kami belum maksimal ketika tangan masih kaku menggapai air atau kaki yang salah melakukan gerakan tidak ada amarah atau rasa malu yang berlebihan. Yang pecah justru suara tawa dan senyuman yang merekah lebar. Kami menertawakan kekakuan tubuh kami sendiri, sebuah kejujuran yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang sudah berdamai dengan usia.

Di tengah-tengah keseriusan berlatih, selalu ada ruang untuk humor yang menyegarkan suasana. Sore itu, saat kami sedang asyik mencoba mengoordinasikan gerakan tangan dan kaki yang sering kali masih "bermusuhan", Pak Gun yang sedari tadi berdiri mengawasi di pinggir kolam tiba-tiba menghentikan instruksinya sejenak.

"Maaf Bapak dan Ibu, saya izin naik sebentar ya, mau minum dulu," ujar Pak Gun 

Mendengar itu, entah dari mana datangnya keberanian untuk menjahili sang guru, saya langsung menyahut dengan spontan. "Lho, Pak Gun... tidak perlu repot-repot naik ke atas, Pak. Cukup minum air kolam ini saja, kan praktis!"

Pak Gun seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kami dengan tatapan jenaka. Sambil tersenyum simpul, beliau membalas, "Wah, ....., Enak, Air mineral "

Kami semua pun tertawa serempak. "Hmmmm... segar sekali Pak, mineralnya alami!" imbuh kami sambil terus terkekeh. Candaan ringan seperti itulah yang membuat jarak antara guru dan murid seolah melenyap. Di dalam air, kami bukan lagi orang tua yang kaku, melainkan sekumpulan sahabat yang sedang bermain bersama. Guyonan dan guyonan sukses mengusir rasa lelah dan ketegangan otot setelah berkali-kali mencoba gerakan yang gagal.

Pak Gun sangat memahami pentingnya dokumentasi dalam proses belajar kami. Hampir setiap sore, setelah sesi canda dan lelah bergelut dengan teknik pernapasan, beliau dengan setia mengambil foto maupun video kegiatan kami. Dokumentasi ini bukan sekadar untuk pamer, melainkan cermin bagi proses panjang yang kami lalui.

Momen yang paling menarik justru terjadi saat kami sudah kembali ke rumah masing-masing. Sambil duduk santai tangan ini mulai membuka ponsel untuk melihat-lihat kiriman foto dan video dari Pak Gun. Di saat itulah, tawa kembali pecah meski sendirian. Melihat video diri sendiri yang tampak "lucu" saat mencoba mengapung atau melihat ekspresi teman sekelompok yang tegang namun menggemaskan, membuat kami senyum-senyum sendiri. Ada perasaan aneh yang merayap di hati sebuah perasaan bahwa kami layaknya kembali menjadi anak-anak kecil yang baru mengenal dunia. Di usia 57 tahun, kemampuan untuk merasakan kegembiraan murni layaknya anak kecil adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.T

Manfaat belajar renang di usia senja ternyata jauh melampaui sekadar penguasaan teknik olahraga. Kolam renang telah menjadi tempat pelampiasan stres yang sangat efektif. Saat tubuh masuk ke dalam air, beban pikiran seolah ikut larut dan hanyut. Segala keruwetan hidup, kekhawatiran tentang masa depan, atau keluhan fisik yang sering muncul di usia ini, seakan hilang digantikan oleh rasa sejuk yang membalut kulit. Air memiliki kemampuan alami untuk menenangkan saraf dan memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat.

Lebih dari itu, aktivitas ini menjadi cara ampuh untuk menghilangkan pikiran negatif. Di dalam air, fokus kami teralihkan sepenuhnya pada koordinasi tubuh dan napas. Tidak ada ruang untuk memikirkan hal-hal buruk atau rasa pesimis. Setiap gerakan yang berhasil dilakukan, sekecil apa pun itu, adalah kemenangan besar yang meningkatkan rasa percaya diri. Kami merasa hidup kembali, merasa masih memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang meski usia terus beranjak. Rasa segar yang menyergap setelah keluar dari kolam renang bukan hanya terasa di raga, tapi juga merasuk ke dalam jiwa.

Pak Gun sering mengingatkan bahwa belajar renang di usia kami adalah tentang konsistensi dan keberanian melawan ego. Beliau tidak menuntut kami menjadi atlet, tapi beliau menuntut kami untuk sehat dan bahagia. Dokumentasi video yang dikirimkan Pak Gun menjadi bukti otentik bahwa belajar adalah perjalanan yang menyenangkan. Saat melihat video diri sendiri yang awalnya takut masuk ke air hingga akhirnya berani meluncur, ada rasa bangga yang menyelinap. Ternyata, kami masih bisa! Kami bukan hanya "berumur" dan "berbobot", tapi kami juga "berani" mencoba hal baru.

Kembali ke rumah dengan tubuh yang segar dan hati yang ringan adalah anugerah. Senyum-senyum sendiri saat melihat dokumentasi sore hari adalah obat awet muda yang paling mujarab. Kami belajar bahwa di kolam renang itu, status sosial, gelar, dan beban usia ditinggalkan di ruang ganti. Yang masuk ke dalam air hanyalah jiwa-jiwa yang haus akan ilmu dan kebahagiaan.

Pengalaman bersama kelompok 3B di bawah asuhan Pak Gun ini membuktikan bahwa bahagia itu sederhana. Ia bisa ditemukan di antara kecipak air, di dalam tawa saat gagal praktik, tengelam dan minum air kolam. Di  layar ponsel saat mengenang kembali perjuangan sore hari. Kolam renang bukan lagi sekadar tempat olahraga, melainkan tempat kami menemukan kembali jati diri yang ceria, sehat, dan penuh energi positif. Belajar renang di usia senja bukan lagi tentang seberapa cepat kita sampai ke ujung kolam, melainkan tentang seberapa lebar senyum yang kita bawa pulang ke rumah untuk dibagikan kepada keluarga. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar