Sabtu, 02 Mei 2026

Bukan Sulap

 

Karya: Gutamining Saida

Sabtu sore, suasana pembelajaran terasa begitu hangat . Kami dipandu oleh Pak Gun, seorang mentor yang tidak hanya sabar, tetapi juga sangat memahami psikologi siswanya yang heterogen. Pak Gun memiliki metode yang unik dalam mengelola siswanya. Beliau mengelompokkan kami berdasarkan kemampuan menyerap materi, kecepatan mempraktikkan teori, dan tentu saja faktor usia. Pengelompokan ini bukan untuk membeda-bedakan dalam arti negatif, melainkan agar setiap individu mendapatkan porsi perhatian yang pas sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Saya tergabung dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Bu Nani, bu Nur dan saya. Pak Gun dengan nada canda yang khas menjuluki kami sebagai Kelompok 3B. Huruf "B" yang pertama adalah Berbobot, sebuah istilah halus untuk mengatakan bahwa kami memiliki pengalaman hidup yang padat (atau mungkin secara fisik memang mantap). "B" yang kedua adalah Berumur, pengakuan jujur bahwa kami adalah barisan senior dalam usia di kelas ini. Sedangkan "B" yang ketiga seolah menjadi teka-teki yang menggantung yaitu "Berani-berani Takut".

Di Kelompok 3B inilah, drama kecil nan menggelitik sering terjadi. Harus diakui, belajar di usia kepala lima menuju enam memiliki tantangan tersendiri. Ada tembok besar bernama "pertimbangan" dan "rasa takut yang berlebih". Saat melihat Pak Gun memberikan contoh, semuanya tampak begitu sederhana, mengalir, dan mudah dilakukan. Dalam pikiran kami, "Ah, itu mudah, saya pasti bisa." Namun, begitu tiba giliran kami untuk praktik, realitanya berbanding terbalik 180 derajat. Tiba-tiba saja gerakan tangan salah, kaki tak digerakkan, gegapan, kecebur dan perasaan was-was menyelimuti hati.

"Pak... saya kok belum bisa-bisa ya?" celetuk salah satu dari kami dengan nada agak putus asa setelah berkali-kali mencoba namun tetap saja salah.

Pak Gun, dengan ketenangan seorang guru sejati, menanggapi keluhan kami dengan jawaban yang sangat menohok sekaligus menenangkan. "Namanya belajar ya butuh proses, Bu. Pak Gun ini guru, bukan tukang sulap!" ujarnya sambil terkekeh. Beliau kemudian mengimbuhkan kalimat yang sangat membekas, "Kalau sekali coba langsung bisa, itu namanya sulapan. Kita di sini bukan sedang atraksi, kita sedang menanam ilmu."

Kalimat itu seketika meruntuhkan ekspektasi instan yang sering kali menghantui kami. Sering kali, kami merasa malu karena sudah berkali-kali praktik namun tetap saja tidak ada keberanian yang muncul, atau penguasaan materi yang masih jauh dari sempurna. Ada rasa "sungkan" pada usia sendiri merasa seharusnya di usia setua ini kami bisa lebih cepat paham. Padahal, mata dan otak mungkin berkata "paham", tetapi fisik dan mental sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk sinkron.

Melihat Pak Gun melakukan praktik itu seperti menonton pertunjukan yang sangat mudah begitu luwes. Namun saat kami mencoba sendiri, yang terjadi adalah "salah melulu". Terkadang kaki salah gerak, tangan salah posisi, atau urutan yang tertukar. Di sinilah letak keindahan belajar dalam kelompok 3B. Meskipun penuh dengan kesalahan dan rasa takut, kami tetap tertawa. Kami menertawakan kesalahan kami sendiri, sekaligus saling menyemangati bahwa "salah" adalah bagian dari proses yang harus kami lewati.

Pak Gun tidak pernah bosan mengingatkan bahwa pengulangan adalah kunci. Bagi kami yang sudah "berumur", pengulangan mungkin harus dilakukan beberapa kali lebih banyak dibandingkan mereka yang masih muda. Setiap tetes keringat karena rasa takut yang dilawan, setiap rasa malu karena salah praktik, adalah bagian dari ibadah menuntut ilmu.

Proses ini mengajarkan kami tentang kerendahan hati. Bahwa setinggi apa pun posisi atau pengalaman kami di luar sana, di kolam renang, kami tetaplah seorang siswa yang butuh bimbingan. Kami belajar untuk tidak terburu-buru, menghargai setiap progres kecil, dan yang paling penting, membuang jauh-jauh rasa takut akan kegagalan.

Sore itu, di bawah arahan Pak Gun, kami kembali mencoba. Meskipun masih ada getar ketakutan di kolam dan keraguan di gerakan kaki dan tangan, kami tetap mencoba. Karena kami tahu, selama jantung masih berdetak, kewajiban untuk belajar tidak akan pernah usai. Biarlah kami menjadi Kelompok 3B yang bergerak pelan, asalkan tidak berhenti. Sebab ilmu yang diraih dengan susah payah, biasanya akan terpatri. Belajar bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke garis finis, tapi tentang seberapa tangguh kita menikmati setiap proses "salah melulu" hingga akhirnya menjadi "bisa karena terbiasa". Semangat selalu ya.

Cepu, 2 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar