Karya: Gutamining Saida
Renyah, selama ini kita kenal sebagai bunyi khas kerupuk yang digigit di sela makan siang. Suara kecil yang menggoda selera, ringan, dan membuat suasana makan terasa lebih hidup. Nah... siapa sangka, di sebuah kolam renang pada sore yang cerah, “renyah” menjelma menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda bukan dari makanan, melainkan dari tawa yang pecah tanpa rencana.
Sore itu adalah jadwal renang dan terapi. Suasana sejak awal sudah berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas. Di kolam renang, tidak ada meja, tidak ada kursi, tidak ada papan tulis yang biasanya menjadi pusat perhatian. Yang ada hanyalah air yang berkilau diterpa matahari, riak-riak kecil yang saling berkejaran, dan wajah-wajah penuh semangat sekaligus cemas. Beberapa siswa tampak percaya diri, sementara yang lain terlihat ragu, bahkan sedikit takut.
Satu per satu siswa mencoba praktik sesuai arahan. Ada yang mulai dari tepi kolam, ada yang mencoba meluncur perlahan, dan ada pula yang masih berpegangan erat pada pinggiran, seolah itu satu-satunya penyelamat. Di tengah keseriusan itu, tiba-tiba terdengar suara yang tak biasa yaitu tertawa. Bukan sekadar tawa biasa, melainkan tawa yang “renyah”. Ringan, spontan, dan menular ke yang lain.
Awalnya hanya satu orang yang tertawa. Seperti riak air yang meluas, tawa itu cepat menyebar. Suasana yang tadinya tegang berubah menjadi cair. Beberapa siswa yang sebelumnya terlihat kaku mendadak ikut tersenyum, bahkan ikut tertawa. Ternyata sumbernya adalah momen tak terduga dari Bu Nanik.
Beliau yang mencoba membalikkan badan di air justru mengalami kesulitan. Gerakan yang seharusnya sederhana berubah menjadi perjuangan besar yang cukup mengundang perhatian. Bukannya berbalik dengan mulus, tubuh beliau justru kehilangan keseimbangan, dan sesaat terlihat seperti tenggelam sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan. Momen itu begitu spontan dan apa adanya, sehingga memancing tawa yang pecah tanpa bisa ditahan.
Yang menarik, tidak ada rasa mengejek dalam tawa itu. Tidak ada nada merendahkan. Justru yang terasa adalah kehangatan. Bu Nanik sendiri ikut tertawa kembali, menyadari bahwa kejadian itu memang lucu. Di situlah letak keunikan suasana kolam renang dibandingkan ruang kelas.
Di ruang kelas, kesalahan sering kali membuat seseorang guru emosi, siswa merasa canggung. Ada rasa takut ditertawakan, ada kekhawatiran akan penilaian teman lain. Di kolam, semuanya terasa berbeda. Air seolah menjadi media yang melarutkan rasa sungkan. Kesalahan menjadi bagian dari proses yang wajar, bahkan bisa menjadi sumber kebahagiaan bersama.
Tawa yang terdengar pun bukan tawa yang menyakitkan, melainkan tawa yang menyatukan. Tawa yang “renyah” ringan, jujur, dan mengalir begitu saja. Bahkan mereka yang tertawa sebenarnya belum tentu bisa melakukan gerakan dengan sempurna. Dii situlah letak keseruan, keindahannya. Tidak ada yang merasa lebih hebat, tidak ada yang merasa paling benar. Semua berada pada posisi yang sama yaitu belajar.
Kolam renang bukan sekadar tempat praktik keterampilan berenang. Ia berubah menjadi ruang pembelajaran yang penuh arti. Belajar tidak harus selalu serius dan tegang. Bila tegang akan tambah berbahaya bagi tubuh. Kesalahan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dinikmati sebagai bagian dari perjalanan.
Air yang membasahi tubuh seakan membersihkan pikiran dari rasa takut dan gengsi. Setiap percikan air, setiap gerakan yang belum sempurna, dan setiap tawa yang pecah menjadi bagian dari cerita yang tak terlupakan. Mungkin, yang paling diingat bukanlah teknik berenangnya, melainkan momen-momen kecil seperti tawa Bu Nanik yang renyah.
Di akhir sesi, kelelahan memang terasa. Di balik itu, ada kebahagiaan yang tersisa. Senyum masih terukir di wajah, dan suasana hangat masih terasa. Ternyata benar, “renyah” tidak selalu tentang kerupuk. Ia bisa hadir dalam bentuk lain dalam tawa yang tulus, dalam kebersamaan, dan dalam momen sederhana yang menghidupkan suasana.
Dari kolam renang, kita belajar satu hal penting yaitu terkadang, yang membuat proses belajar menjadi berkesan bukanlah kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tertawa bersama atas ketidaksempurnaan. Semoga bermanfaat.
Cepu, 3 Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar