Karya: Gutamining Saida
Selasa pagi itu bukan sekadar pergantian waktu dari gelap menuju terang. Semburat fajar di ufuk timur Kabupaten Blora hari itu membawa aroma harapan yang berbeda. Kaki saya melangkah ringan menuju Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Blora, namun di dalam dada, ada debar yang tak biasa. Langkah ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sebuah ikhtiar untuk menimba ilmu, menyelami samudera kearifan lokal, dan menjemput takdir yang telah digariskan-Nya.
Seringkali kita merasa bahwa pencapaian adalah murni hasil keringat dan kecerdasan kita. Di ruang Perpusda hari itu, saya tersungkur dalam kesadaran yang paling dalam: "Laa haula walaa quwwata illa billah." Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah. Bisa berada di satu ruangan bersama 50 penulis hebat lainnya bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah skenario langit.
Saya bersyukur, di antara ribuan jiwa yang memiliki keinginan serupa, Allah Subhanahu Wata'alla mengetuk pintu hati saya dan membukakan jalan melalui izin-Nya. Menjadi bagian dari sebuah karya kolektif adalah amanah. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya berhasil duduk di sana bukan karena saya merasa lebih hebat dari yang lain. Tidak ada ruang bagi kesombongan ketika kita menyadari bahwa setiap ide yang terlintas, setiap diksi yang terpilih, dan setiap energi yang tersalurkan adalah titipan dari Sang Maha Pemilik Ilmu. Takdir-Nya lah yang memilih saya untuk membersamai para pejuang literasi ini.
Fokus saya jatuh pada sesuatu yang sangat dekat dengan denyut nadi kehidupan saya Kuliner Cepu. Mengapa kuliner? Karena di dalam sebungkus hidangan, terdapat filosofi syukur yang panjang. Dari hulu ke hilir, dari petani hingga ke meja makan, ada jejak rezeki yang diatur oleh-Nya dengan sangat rapi.
Mencoba merangkai kata tentang kuliner Cepu khususnya "WINGKO" di tengah suasana Cepu yang tenang adalah upaya saya untuk "membahasakan" rasa syukur. Cepu, dengan segala kekayaan rasanya, adalah tanah tempat saya berpijak. Menulis tentang jajanan khas daerah sendiri bukan hanya soal memuaskan lidah, tapi soal memuliakan nikmat Tuhan yang diturunkan melalui kesuburan tanah dan kreativitas tangan-tangan masyarakatnya. Setiap campuran adonan yang meresap, setiap aroma yang menggoda, adalah bukti kebaikan Allah yang tak terhingga.
Harapan yang tertanam di hati ini melampaui sekadar nama yang tercetak di sampul buku. Ada misi yang lebih luas, sebuah misi yang saya titipkan dalam doa-doa di sela tulisan diantaranya,
Mengenalkan Kearifan Lokal: Bahwa Blora dan Cepu memiliki identitas yang kuat. Melalui tulisan ini, saya ingin dunia tahu bahwa ada keberkahan dalam setiap sajian jajanan khas kuliner kita.
Menggerakkan Roda Ekonomi: Saya bermimpi, lewat goresan pena yang sederhana ini, warung-warung kecil milik warga, pelaku UMKM, dan pedagang kaki lima di pinggiran jalan Cepu dapat dikenal lebih luas. Jika tulisan ini mampu membawa satu pelanggan tambahan bagi mereka, maka itu adalah sedekah jariyah yang tak ternilai harganya. Menulis adalah cara saya membantu mengangkat ekonomi umat.
Memperluas Cakrawala: Proses kreatif ini adalah sekolah kehidupan. Bertemu dengan penulis lain, bertukar pikiran, dan mendalami budaya sendiri adalah cara saya menambah wawasan agar tidak menjadi hamba yang kerdil pikirannya.
Banyak orang mencari bahagia dalam angka dan materi, namun bagi saya, kebahagiaan hari itu adalah bentuk syukur kepada Yang Maha Pencipta. Bahagia karena diberi kesempatan untuk bermanfaat. Bahagia karena bisa menjadi perantara bagi syiar kebaikan daerah sendiri.
Setiap kalimat yang saya susun adalah tasbih yang saya rapalkan dalam diam. Setiap paragraf yang terbentuk adalah sujud syukur atas akal budi yang masih berfungsi dengan baik. Saya percaya, ketika kita menulis dengan niat lillahi ta'ala, maka tulisan itu akan memiliki "ruh". Ia tidak akan hanya berhenti di mata pembaca, tapi akan meresap ke dalam hati dan menggerakkan perubahan.
Perjalanan di Perpusda Blora ini hanyalah awal. Menulis tentang budaya dan kuliner adalah cara kita menjaga warisan Tuhan. Kita hanyalah pena, dan Allah adalah Sang Penulis Takdir yang sesungguhnya. Jika kelak karya bersama 50 penulis ini terbit dan menebar manfaat, itu adalah semata-mata karena rahmat-Nya yang melimpah.
Saya pulang membawa lebih dari sekadar ilmu kepenulisan. Saya pulang membawa ketenangan jiwa, bahwa dengan menulis, saya sedang berbicara dengan masa depan, sambil tetap merunduk pada Sang Pemilik Kehidupan. Semoga setiap huruf yang tertuang menjadi saksi di akhirat kelak, bahwa saya telah mencoba mencintai tanah kelahiran saya dengan cara yang paling terhormat yaitu melalui literasi.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman).
Melalui kuliner jajanan khas Cepu, melalui sejarah Blora, dan melalui kebersamaan ini, saya menemukan jawaban bahwa syukur tak cukup hanya di lisan, ia harus mewujud dalam karya yang nyata. Mari kita terus berkarya, bukan untuk dipuji manusia, tapi untuk mencari ridha-Nya. Selamat menulis, selamat menebar keberkahan melalui aksara.
Cepu, 30 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar