Karya: Gutamining Saida
Di sudut perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tepatnya jalan miring Dengok yang tenang, terdapat sebuah oase kejernihan bernama kolam Bumool. Di sanalah, setiap akhir pekan mulai dari hari Jumat yang penuh berkah hingga Minggu yang cerah sosok bersahaja yang akrab disapa Pak Gun mendedikasikan waktunya. Pak Gun bukan sekadar pelatih renang biasa, beliau adalah pemandu bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari ketenangan, kesembuhan, dan keberanian di balik riak air.
Murid-murid Pak Gun adalah cerminan dari keberagaman. Mulai dari anak-anak kecil yang ceria, remaja yang penuh energi, ibu-ibu rumah tangga, hingga para lansia yang semangatnya tak kunjung padam. Hebatnya, ada seorang nenek berusia 74 tahun yang masih rutin turun ke air. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa dalam Islam, menuntut ilmu dan menjaga kesehatan tidak mengenal batasan usia. Tubuh adalah amanah dari Allah Subhanahu Wata'alla, dan merawatnya melalui olahraga renang adalah bentuk syukur atas nikmat fisik yang diberikan.
Bagi sebagian orang, tujuan berlatih bersama Pak Gun adalah untuk menguasai berbagai gaya renang. Namun bagi sebagian lainnya, kolam renang adalah tempat terapi kesehatan. Secara religius, air memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa Dia menciptakan segala sesuatu yang hidup dari air.
Terapi di air yang diajarkan Pak Gun bukan sekadar menggerakkan lengan dan kaki. Ini adalah proses penyembuhan multidimensi. Manfaatnya mencakup:
Menghilangkan Stres dan Kepenatan: Air memiliki sifat menenangkan (calming effect) yang mampu meluruhkan beban pikiran.
Penyembuhan Gangguan Hati dan Perasaan: Kesunyian di dalam air membantu seseorang untuk bermuhasabah (introspeksi diri).
Mengatasi Jantung Berdebar: Keteraturan napas saat berenang melatih ritme jantung, menjadikannya lebih tenang dan stabil, sejalan dengan zikir yang mengalun dalam hati.
Saya adalah salah satu dari sekian banyak murid Pak Gun yang membawa "beban" ke dalam kolam. Tujuan utama saya bukanlah medali atau kecepatan, melainkan melawan rasa takut. Sebuah insiden di masa lalu tercebur ke dalam kolam hingga tenggelam telah menyisakan luka trauma yang mendalam. Dalam pandangan spiritual, rasa takut yang berlebihan adalah belenggu yang menghalangi kita untuk melihat kebesaran ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla.
Berlatih renang berulang kali tanpa kunjung mahir karena dihantui rasa takut adalah sebuah ujian kesabaran. Pak Gun dengan sabar meyakinkan bahwa air bukanlah musuh. Air adalah sahabat kita. Melawan trauma ini adalah sebuah bentuk ikhtiar dalam diri sendiri. Menaklukkan rasa takut di air berarti memperkuat keterpautan hati kepada Sang Pencipta, bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi tanpa izin-Nya, dan tidak ada kesembuhan kecuali dari-Nya.
Kehidupan seorang pelatih tidak hanya berhenti di tepi kolam. Di luar jadwal Bumool, Pak Gun juga bersiaga di Kolam Segara Biru. Komunikasi pun terjalin intens melalui grup WhatsApp. Layaknya ujian kesabaran untuk pak Gun adakalanya pesan-pesan yang dikirimkan tidak langsung berbalas.
Suatu kali, Pak Gun mengirimkan ajakan: "Ayo, Minggu ada yang mau ke kolam? Pak Gun siap menemani."
Menit demi menit berlalu tanpa satu pun centang biru yang berubah menjadi tanggapan. Keheningan di grup tersebut sempat menimbulkan tanya di hati beliau. "Kok tidak ada yang merespon? Apa tidak ada yang latihan?" chat dari pak Gun berikutnya. Di sini kita belajar tentang adab berkomunikasi dan prasangka baik (husnuzan). Barangkali para anggota grup sedang berkhidmat pada keluarga, sedang sujud di atas sajadah, atau sedang berjihad mencari nafkah sehingga belum sempat menyentuh gawai.
Allah Subhanahu Wata'alla tidak membiarkan niat baik Pak Gun menggantung tanpa jawaban. Tak berselang lama, satu per satu jawaban muncul menghiasi layar. "Ada Pak. Insya Allah hadir." "Insya Allah latihan, Pak." Kata "Insya Allah" yang terucap bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan jujur bahwa manusia hanya bisa berencana, sementara ketetapan mutlak berada di tangan Allah Subhanahu Wata'alla. Kalimat ini menghidupkan kembali semangat grup. Suasana yang tadinya sepi berubah menjadi riuh penuh kekeluargaan.
Kegairahan grup ini mencapai puncaknya bukan hanya saat jadwal latihan tiba, tetapi saat hasil latihan diposting. Ketika foto atau video progress murid diunggah, semangat itu seolah memancar menembus layar ponsel. Melihat seorang nenek berusia 74 tahun tetap tangguh di air, atau melihat seorang mulai berlatih gaya bebas, dada, berani melepas pegangan di pinggir kolam, memberikan inspirasi bagi yang lain.
Menyebarkan berita baik dan kemajuan diri yang positif adalah bagian dari mensyukuri dan menceritakan nikmat Allah. Hal ini bertujuan untuk memotivasi orang lain agar ikut bergerak menuju kebaikan. Grup tersebut menjadi lebih hidup, bukan karena pamer, melainkan karena rasa syukur yang kolektif.
Bersama Pak Gun, renang bukan lagi sekadar urusan fisik. Ia adalah perjalanan spiritual. Di kolam Bumool kita belajar bahwa air bisa menjadi kawan, sahabat yang menyembuhkan. Jika kita mendekatinya dengan kerendahan hati. Kita belajar bahwa ketakutan adalah bayangan yang akan hilang saat cahaya keberanian masuk ke dalam hati.
Mari kita luruskan niat. Setiap napas yang kita atur, dan setiap hambatan yang kita lalui, semoga dicatat sebagai amal ibadah. Kesembuhan jantung yang berdebar, pikiran yang tenang, dan hati yang lapang adalah hadiah dari Allah atas ikhtiar kita yang sungguh-sungguh. Sampai jumpa di hari Minggu, di bawah bimbingan Pak Gun, kita jemput sehat jasmani dan ketenangan rohani. Barakallah
Cepu, 20 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar