Karya : Gutamining Saida
Minggu sore, langit di atas Kedungtuban berwarna jingga keemasan, sebuah lukisan alam yang selalu berhasil menggetarkan dawai-dawai di relung jiwa. Saya melaju pelan, membiarkan kaca mobil sedikit terbuka agar angin sore yang sejuk dapat menyentuh wajah, membawa serta aroma tanah dan kenangan yang tiba-tiba menyeruak. Di depan sana, berdiri sebuah bangunan yang tak asing, namun terasa berbeda yaitu SMPN 1 Kedungtuban.
Seketika, laju mobil seolah melambat bukan karena injakan rem, melainkan karena tarikan memori yang begitu kuat. Mata saya terpaku pada gerbang berwarna oren. Ingatan saya melayang, melompati sekat-sekat tahun yang telah terlewati, kembali ke masa di mana setiap sudut bangunan itu adalah saksi dari tawa, diskusi, dan pengabdian yang tulus.
Banyak yang telah berubah. Halaman yang kini tampak lebih rapi, deretan kelas dengan cat baru yang lebih segar, serta berbagai ornamen fisik yang menandakan bahwa waktu memang tidak pernah berhenti berputar. Saya tersadar bahwa perubahan fisik adalah Sunnatullah. “Kullu man ‘alaiha faan”segala sesuatu yang ada di bumi ini akan fana, akan berubah, dan akan menua. Bangunan boleh bersalin rupa, namun esensi dari tempat itu tetaplah sama adalah sebuah kawah candradimuka bagi jiwa-jiwa muda.
Ada rasa rindu yang membuncah untuk turun, memijakkan kaki di ubin sekolah itu, dan melangkah masuk menghirup aroma ruang kelas yang khas. Saya ingin menyapa setiap sudut yang dulu pernah akrab. Namun, takdir sore itu berbicara lain. Pintu pagar terkunci rapat. Hari Minggu adalah waktu bagi dunia pendidikan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk aktivitas manusia.
Terkuncinya pagar itu seolah menjadi pesan bisu dari Sang Khaliq. Seolah Dia berbisik, "Cukuplah engkau memandang dari jauh, biarkan rindu ini menjadi dzikir yang sunyi." Kadang, Allah Subhanahu Wata'alla menghalangi langkah kita bukan untuk mengecewakan, melainkan agar kita belajar menghargai sebuah perjumpaan melalui ketiadaannya.
Mobil terus melaju menembus angin sore, sementara leher saya tetap menoleh, menatap sisa-sisa bayangan sekolah yang kian menjauh. Di saat itulah, hati saya berdialog dengan-Nya. Saya teringat akan saudara-saudara, rekan sejawat, dan pejuang pendidikan yang hingga detik ini masih aktif menjalankan tugas di sana.
Mereka adalah orang-orang pilihan yang dititipkan amanah oleh Allah Subhanahu Wata'alla untuk menjaga lenteranya agar tetap menyala. Di dalam kelas-kelas yang kini sunyi karena hari libur itu, doa-doa mereka terangkat ke langit setiap hari melalui ilmu-ilmu yang bermanfaat. Saya membayangkan mereka sedang beristirahat di rumah masing-masing, menyiapkan energi untuk kembali berjihad melawan kebodohan di hari esok.
Rindu ini bukan hanya rindu pada tembok dan atap, melainkan rindu pada persaudaraan yang pernah terjalin erat. Persaudaraan karena tugas mulia adalah salah satu ikatan yang paling dicintai Allah. Kita dipersatukan bukan oleh darah, melainkan oleh satu cita-cita: mencetak generasi yang beradab dan berilmu.
Melihat pagar yang terkunci rapat itu, saya merenung tentang "pintu-pintu" dalam kehidupan. Seringkali kita ingin kembali ke masa lalu, ingin membuka kembali masa-masa indah pengabdian terdahulu. Namun, sebagaimana pagar SMPN 1 Kedungtuban di hari Minggu, ada pintu-pintu masa lalu yang memang harus terkunci agar kita fokus pada apa yang ada di depan mata.
Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan kita melalui momen singkat tentang dunia dan segala kenangannya hanyalah tempat persinggahan. Kerinduan yang menyesak dada ini sesungguhnya adalah sinyal bahwa jiwa kita merindukan keabadian. Jika di dunia saja perpisahan terasa begitu menyesakkan, maka betapa indahnya nanti saat pintu-pintu Surga dibuka bagi mereka yang ikhlas dalam pengabdiannya.
Harapan itu masih ada, berharap akan ada momen yang pas, sebuah timing ilahi, di mana saya bisa kembali datang. Bukan sekadar melintas, melainkan duduk melingkar, berbagi cerita, dan melepas rindu dengan mereka yang masih setia di sana. Saya ingin mendengar kisah perjuangan mereka di era yang baru ini, ingin melihat bagaimana mereka tetap teguh di tengah badai perubahan zaman.
Sore itu, perjalanan menembus angin Kedungtuban memberi saya sebuah hikmah besar. Hidup adalah tentang bergerak maju, namun tidak melupakan akar. Sekolah itu adalah akar dari banyak kebaikan yang tersebar sekarang. Ketika mobil saya semakin jauh meninggalkan kawasan Kedungtuban, rindu itu tidak lantas hilang. Ia menjelma menjadi rasa syukur. Syukur karena pernah menjadi bagian dari sejarah tempat itu. Syukur karena masih diberikan perasaan lembut untuk bisa merindu.
Biarlah angin sore itu membawa pesan saya kepada penghuni sekolah bahwa di jalan raya ini, ada seseorang yang melintas dengan doa yang tulus, berharap agar setiap lelah mereka dicatat sebagai ibadah, dan setiap langkah mereka dihitung sebagai langkah menuju jannah. Sampai jumpa di waktu yang tepat, duhai tempat penuh berkah. Sesungguhnya, di sisi Allah Subhanahu Wata'alla, tiada pengabdian yang sia-sia dan tiada rindu yang tak berbalas. Salam rindu kawan.
Cepu, 20 April 2026

Sejarah masa lalu akan tersambung dengan zaman terkini manakala kita mau mengingatnya dan menorehkahnya dalam bentuk cerita untuk berbagi kepada sesama.
BalasHapus