Karya : Gutamining Saida
Saat kemarin sore melewati jalan raya Cepu-Kedungtuban, ingatanku melayang saat hari-hari harus saya lewati, saya tempuh setiap hari. Jalan raya Cepu-Kedungtuban bukanlah sekadar hamparan aspal yang menghubungkan dua titik di peta. Bagiku, ia adalah saksi bisu atas sebuah perjumpaan antara hamba dan takdir-Nya. Setiap pagi, ketika embun masih bergelayut manja di pucuk-pucuk daun jati, saya harus menyalakan mesin motor menuju Kedungtuban. Suaranya bukan sekadar deru mesin, melainkan detak jantung perjuangan yang saya persembahkan sebagai bentuk ibadah kepada Sang Pemilik Ilmu.
Di atas roda dua ini, saya membawa amanah yang berat namun mulia yaitu mencerdaskan anak bangsa. Setiap putaran roda adalah langkah menuju sebuah bangunan sekolah, tempat di mana wajah-wajah suci menanti untuk merajai cakrawala pengetahuan.
Menyusuri jalanan ini adalah sebuah tadabbur alam yang nyata. Di kanan dan kiri jalan, hutan jati berdiri kokoh sebagai guru yang tak bersuara. Ada kalanya mereka menghijau rimbun, melambangkan masa kejayaan dan keberkahan yang melimpah. Ada kalanya pula pohon-pohon itu meranggas, menyisakan ranting-ranting kering yang pasrah pada kehendak musim.
Di sanalah saya belajar tentang hakikat kehidupan manusia. Kita tidak selamanya berada di atas, ada kalanya Allah Subhanahu Wata'alla menarik "dedaunan" kenyamanan kita agar kita sadar bahwa tanpa perlindungan-Nya, kita hanyalah batang kering yang rapuh. Gugurnya daun jati mengajarkan tentang keikhlasan bahwa melepaskan sesuatu yang kita cintai adalah jalan untuk bertunas kembali menjadi pribadi yang lebih kuat dan baru.
Begitu pula dengan persawahan yang membentang luas. Saat ia hijau royo-royo, hati ini tenang melihat harapan yang tumbuh. Saat ia menguning, ada rasa syukur atas rezeki yang hampir tiba. Namun, saat sawah itu gersang dan kosong menanti pengolahan lahan, saya diingatkan bahwa hati manusia pun perlu "dibajak" dengan ujian dan kesabaran agar siap ditanami benih-benih iman yang baru.
Kehidupan di jalan raya Cepu-Kedungtuban tidak selalu mulus. Ada kalanya saya harus bergelut dengan waktu. Ketika jam dinding di rumah seolah berlari lebih cepat dan berangkat kesiangan, ada rasa sesak yang menghimpit. Di antara riuhnya kendaraan lain, saya terpaksa memacu kecepatan. Di sinilah letak ujian tawakal.
Di atas motor, dalam kecepatan yang mendebarkan, lisan ini tak henti berdzikir. Saya sadar, antara keselamatan dan musibah hanya dibatasi oleh seutas benang tipis rahmat-Nya. Jalanan yang bergelombang dan berlubang adalah metafora dari ujian hidup. Jika kita tidak hati-hati dan waspada, kita akan jatuh terperosok. Jika kita melaluinya dengan kesabaran dan perhitungan yang matang, lubang-lubang itu hanyalah rintangan kecil menuju tujuan yang mulia.
Setibanya di sekolah, rasa lelah akibat debu jalanan seolah menguap saat melihat binar mata para siswa. Mereka adalah ladang pahala. Sebagai guru IPS, saya tidak sekadar mengajarkan tentang peta, sejarah, atau interaksi sosial. Saya sedang mengajarkan mereka bagaimana membaca tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi ini. Ada kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat melihat mereka mampu memahami materi. Saat pertanyaan demi pertanyaan terjawab dengan benar, saya melihat masa depan yang cerah bagi mereka.
Inilah bentuk syukur. Bukan dengan kata-kata semata, melainkan dengan dedikasi memberikan yang terbaik bagi generasi penerus. Setiap senyuman siswa adalah penawar lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Matahari mulai condong ke barat saat saya kembali menyusuri jalan raya yang sama. Kali ini, tujuannya adalah rumah. Jika pagi hari adalah waktu untuk menebar manfaat, maka sore hari adalah waktu untuk menjemput ketenangan. Di rumah, keluarga tercinta telah menanti.
Perjalanan pulang seringkali menjadi momen refleksi paling dalam. Di bawah langit senja yang mulai memerah, aku menyadari betapa Allah Subhanahu Wata'alla sangat menyayangi. Saya diberikan kesehatan untuk berkendara, diberikan pekerjaan yang mulia, dan diberikan keluarga yang menjadi pelipur lara.
Rumah adalah tempat peristirahatan setelah seharian "berperang" di medan pendidikan. Berkumpul bersama keluarga adalah bentuk nikmat yang seringkali lupa disyukuri. Di sana, saya melepaskan semua beban, menggantinya dengan canda tawa bersama pasangan dan anak-anak.
Seribu kisah mungkin tercipta di sepanjang jalur Cepu-Kedungtuban. Kita semua adalah musafir di dunia ini. Jalan raya ini hanyalah perantara, sementara tujuan akhirnya adalah ridha Ilahi. Semoga setiap aspal yang saya pijak, setiap debu yang saya hirup, dan setiap tetes bensin yang terbakar menjadi saksi di hari perhitungan kelak saat berusaha menjalankan amanah-Nya dengan sebaik-baiknya.
Terima kasih, jalan raya Cepu-Kedungtuban. Engkau bukan sekadar rute, engkau adalah guru, sahabat, dan saksi bisu atas perjalanan menjemput cahaya-Nya. Di atas motor saya akan terus melaju, selama nafas masih dikandung badan, demi sebuah janji pada masa depan dan sebuah pengabdian pada Sang Pencipta. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di mana pun kita berada bahkan di jalan raya sekalipun Tuhan selalu hadir melalui tanda-tanda alam-Nya. Kini kau menjadi kenangan yang tak terlupan.
Cepu, 20 April 2026

Jalan kenangan yang tak kan pernah terlupakan sepanjang hidup ini. Jalan yang banyak melahirkan ribuan cerita, yang sudah tertulis maupun yang belum sempat dituliskan.
BalasHapus