Senin, 20 April 2026

Refresing Ke Waduk Sonorejo


Karya : Gutamining Saida

Minggu pagi, matahari menyapa dengan malu-malu di balik ufuk timur, membiarkan semburat jingga menghiasi langit yang masih bersih dari polusi. Di sudut musala, suasana riuh rendah sudah mulai terasa. Bukan karena ada keributan, melainkan karena semangat para ibu jamaah yang sedang bersiap untuk sebuah agenda sederhana  refreshing tipis-tipis ke waduk Sonorejo.

Dalam Islam, menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan hati bukanlah hal yang dilarang, bahkan sangat dianjurkan. Rasulullah pun sesekali bercanda dan mengajak keluarganya berlomba lari untuk menghibur hati. Inilah yang mendasari niat kami; bukan sekadar hura-hura tanpa makna, melainkan sebuah ikhtiar untuk melepas penat, mengurai kejenuhan, dan yang terpenting, mempererat tali silaturahmi.

Segalanya bermula dari sebuah ajakan sederhana di grup WhatsApp. Ajakan ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa. "Jam 06.00 WIB siap berangkat ya!" tulis sebuah pesan. Jawaban pun mengalir satu per satu. Ada yang dengan sigap mengeluarkan motornya, ada pula yang dengan berat hati memohon maaf karena harus menemani keponakan atau memiliki urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan.

Keindahan dari sebuah jamaah adalah kerelaan dan pengertian. Mereka yang tidak ikut tetap mendoakan, dan mereka yang berangkat membawa semangat kebersamaan. Berapapun jumlahnya, niat utama adalah mencari rida Allah melalui kegembiraan bersama saudara seiman.

Tepat saat jarum jam menunjuk angka enam, deru mesin motor mulai terdengar bersahutan. Tidak ada mobil mewah, hanya motor-motor sederhana yang siap mengantar kami menuju ketenangan. Kami berkendara secara berurutan, saling menunggu di persimpangan jika ada yang tertinggal. Di sinilah nilai saling menjaga dipraktikkan. Tak ada yang ingin mendahului demi ambisi pribadi; semua bergerak dalam satu ritme, memastikan tidak ada saudari yang tertinggal di belakang.

Sesampainya di lokasi tujuan yang tak jauh dari rumah namun asri, selembar tikar digelar di bawah naungan pohon yang rindang. Di sinilah letak kemewahan yang sesungguhnya. Bukan di restoran berbintang, melainkan di atas hamparan plastik sederhana di mana semua strata sosial melebur menjadi satu.

Tiada kesepakatan, membawa bekal. Bu Hajah Karsini, dengan kedermawanannya, membawakan nasi pecel untuk semua. Bau harum bumbu kacang dan segar sayuran seolah membangkitkan selera makan yang mungkin sempat hilang karena rutinitas dapur yang menjemukan. Tak hanya itu, Bu Hajah Karsini  juga membawa roti dan berbagai jajanan hari raya.

Ibu-ibu yang lain tak mau kalah dalam berlomba-lomba dalam kebaikan. Bu Joko mengeluarkan bekal roti dan marning yang renyah, sementara Bu Yatno membawa kacang dan camilan lainnya. Saat semua bungkusan dibuka, terlihatlah keberkahan dari berbagi. Makanan yang awalnya dibawa sendiri-sendiri, kini menjadi milik bersama.

"Keberkahan itu ada pada kebersamaan," begitulah sebuah hadits mengingatkan kita. Dan benar saja, nasi pecel itu terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan paling mahal sekalipun. Sembari mengunyah, tawa pecah menyelingi cerita-cerita ringan tentang keseharian. Di sinilah beban pikiran yang menumpuk di rumah perlahan luruh, digantikan oleh hormon kebahagiaan yang muncul dari rasa syukur dan penerimaan.

Setelah perut kenyang dan hati tenang, kami melangkah menuju dermaga kecil tempat perahu dan bebek-bebekan bersandar. Ada delapan orang dari kami yang siap menantang riak air. Kami memesan dua perahu agar beban terbagi rata. Pembagian penumpang dilakukan dengan cermat. Ibu-ibu yang bertubuh agak besar (genduk) dipadukan dengan mereka yang lebih kecil agar perahu tetap seimbang dan tidak oleng.

Sambil menunggu tukang perahu yang belum siap di tempat, kami memanfaatkan waktu untuk mengabadikan momen. Foto bersama bukan sekadar untuk gaya-gayaan di media sosial, melainkan sebagai pengingat di masa depan bahwa kami pernah memiliki waktu bersama.

Saat perahu akhirnya mulai mengayuh menjauh dari tepian, rasa syukur itu semakin membuncah. Hanya dengan membayar lima ribu rupiah, kami diberikan kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Air yang tenang, semilir angin yang membelai wajah, dan pemandangan hijau di sekeliling adalah tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta yang seringkali luput dari perhatian kita saat sibuk dengan urusan duniawi.

Di atas perahu, kami merenung betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya. Masalah-masalah rumah tangga yang tadi terasa seberat gunung, perlahan tampak kecil seiring perahu yang menjauh. Kami diingatkan untuk selalu bersyukur, sebagaimana janji Allah: "Lain syakartum laazidannakum" (Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu).

Kegiatan refreshing ini mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Namun bagi kami, ini adalah "baterai" spiritual. Kami pulang tidak hanya dengan perut yang kenyang atau memori ponsel yang penuh dengan foto, tetapi dengan hati yang lebih lapang.

Kebersamaan ini mengajarkan kita bahwa bahagia itu sederhana. Ia tidak butuh perjalanan ke luar negeri atau biaya jutaan rupiah. Bahagia itu ada pada tegur sapa yang tulus, pada sesuap nasi pecel yang dimakan bersama, dan pada rasa syukur yang dipupuk di atas perahu sederhana.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla senantiasa menjaga kerukunan jamaah ini, memberkahi setiap langkah kami, dan menjadikan setiap tawa kami sebagai bentuk ibadah yang mendatangkan rida-Nya. Karena sesungguhnya, setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan salah satu cara menjemput kemudahan itu adalah dengan melapangkan hati melalui silaturahmi yang penuh berkah. Sampai berjumpa di refresing mendatang.

Cepu, 21 April 2026



Tidak ada komentar:

Posting Komentar