Karya: Gutamining Saida
Sesuatu yang sangat dekat dengan manusia, tetapi sering terlupakan, adalah kematian. Ia tidak bisa dimajukan dan tidak bisa pula diundur. Waktunya sudah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wata'alla sejak manusia belum dilahirkan ke dunia. Ketika saat itu tiba, tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya. Tidak ada kekuatan, harta, jabatan, ataupun doa manusia yang dapat menahan takdir tersebut. Siap ataupun tidak siap, mau ataupun tidak mau, setiap manusia pasti akan menjalaninya.
Rabu pagi tanggal 11 Maret 2026 saya melangkah masuk ke ruang guru dengan perasaan yang agak berbeda. Udara terasa sejuk, tetapi suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak terdengar canda tawa yang sering menyambut kedatangan para guru di pagi hari. Langkah kaki terasa lebih pelan, seakan mengikuti suasana yang begitu hening.
Saya melihat pemandangan yang membuat hati terasa tersentuh. Beberapa guru sudah datang lebih dahulu. Mereka mengenakan pakaian seragam Samin berwarna hitam dengan jilbab hitam yang rapi. Tanpa disengaja, warna hitam yang dikenakan oleh guru dan siswa pada hari itu seolah menambah nuansa duka yang sedang menyelimuti.
Raut wajah mereka tampak lebih tenang namun juga menyimpan kesedihan. Suasana ruang guru yang biasanya penuh percakapan ringan terasa berbeda. Hari ini lebih banyak diam, lebih banyak menundukkan kepala, dan lebih banyak menarik napas panjang.
Ternyata kabar duka telah datang. Salah satu suami dari teman kami meninggal dunia. Berita itu menyebar dengan cepat. Tidak lama setelah itu, bapak kepala sekolah mengumumkan kabar duka tersebut melalui grup WhatsApp sekolah. Dalam sekejap, pesan belasungkawa bermunculan. Para guru dengan cepat merespon berita itu dengan ucapan doa dan rasa turut berduka.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kalimat itu begitu sering kita ucapkan, tetapi setiap kali mendengarnya selalu membawa rasa mendalam. Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah Subhanahu Wata'alla dan kepada-Nya lah kita akan kembali.
Mendengar kabar tersebut pikiran saya langsung melayang kepada keluarga yang ditinggalkan. Betapa berat ujian yang mereka rasakan. Kehilangan seseorang yang dicintai tentu bukan perkara mudah. Apalagi jika yang pergi adalah pasangan hidup yang selama ini menemani perjalanan hari-hari mereka.
Di balik kesedihan itu, ada pengingat besar bagi kita semua. Kematian adalah nasihat paling jujur bagi manusia. Ia tidak pernah salah waktu dan tidak pernah keliru memilih siapa yang akan dipanggil. Kadang kita terlalu sibuk dengan urusan dunia. Kita sibuk dengan pekerjaan, target, rencana, dan berbagai keinginan yang ingin dicapai. Kita merasa masih memiliki waktu yang panjang. Kita menunda banyak hal, termasuk menunda untuk memperbaiki diri.
Padahal kematian tidak menunggu kesiapan manusia. Ia bisa datang kapan saja. Ia bisa datang saat manusia sedang bekerja, sedang berbicara, bahkan sedang tertawa bersama keluarga. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan waktunya akan tiba.
Suasana duka menjadi pengingat yang sangat kuat bagi saya. Bahwa hidup ini sebenarnya sangat singkat. Hari-hari yang kita jalani adalah kesempatan yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan agar kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih panjang di akhirat nanti.
Sebagai manusia, kita memang tidak bisa menentukan kapan ajal datang. Kita masih diberi kesempatan untuk mengisi waktu yang ada dengan amal kebaikan. Setiap hari yang kita jalani adalah ladang untuk menanam amal. Ibadah yang kita lakukan, kebaikan kecil yang kita berikan kepada orang lain, senyum yang kita bagikan, serta doa yang kita panjatkan semua itu akan menjadi bekal ketika kita kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan menuju kehidupan yang kekal.
Selama Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kita napas, selama matahari masih menyapa pagi kita, selama kaki kita masih mampu melangkah, itu berarti Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Kesempatan untuk menambah ibadah. Kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Saya melihat banyak wajah yang menyimpan doa. Setiap orang mungkin sedang merenungkan hal yang sama: bahwa hidup ini tidak selamanya. Kita semua sedang berjalan menuju tujuan yang sama. Hanya waktunya saja yang berbeda.
Ada yang dipanggil lebih dahulu, ada yang masih diberi kesempatan lebih lama. Namun pada akhirnya, semua manusia akan sampai pada titik yang sama yaitu kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga setiap kabar duka yang kita dengar bukan hanya menjadi berita yang lewat begitu saja, tetapi menjadi pengingat yang menguatkan iman kita. Pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Sebaik-baik bekal untuk pulang adalah iman, amal saleh, dan hati yang selalu berserah diri kepada Allah. Semoga kita, pembaca tulisan ini ketika dipanggil dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
Cepu, 12 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar