Kamis, 12 Maret 2026

Buka Bersama

 


Karya: Gutamining Saida

Bulan Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda di lingkungan sekolah. Ada rasa hangat, kebersamaan, dan semangat berbagi yang terasa lebih kuat dari hari-hari biasa. Banyak siswa dan wali kelas yang mengabadikan momen buka bersama dengan kelasnya masing-masing. Foto-foto mereka terlihat di media sosial, di mana tampak berbagai hidangan lezat tersaji di meja restoran. Ada yang menikmati bakso, ayam geprek, stik ayam, dan berbagai makanan lainnya.

Siswa kelas 7G pun tidak ingin ketinggalan. Mereka juga ingin merasakan kebersamaan dalam buka puasa bersama satu kelas. Setelah melalui pembicaraan dan kesepakatan, akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan buka bersama. Sejak awal saya sudah menanamkan satu prinsip kepada mereka, bahwa buka bersama bukan tentang kemewahan makanan, bukan tentang tempat yang mahal, tetapi tentang kebersamaan dan kesederhanaan.

Saya pun menyiapkan konsep buka bersama yang sederhana sarat nilai kebersamaan. Tempat makan tidak menggunakan meja kursi seperti di restoran. Anak-anak saya ajak untuk makan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu duduk bersama di lantai.

Ketika waktu pelaksanaan tiba, semua sudah saya atur. Di tengah ruangan dibentangkan daun pisang yang panjang sebagai alas makanan. Daun pisang memanjang seperti sebuah jalur hijau yang menyatukan kami semua.

Anak-anak melihatnya dengan rasa penasaran sekaligus antusias. Sini, duduk memanjang bersama,” kata saya kepada mereka. Satu per satu mereka duduk bersila di lantai. Tidak ada kursi khusus, tidak ada tempat duduk istimewa. Semua sama, semua sejajar.

Di atas daun pisang yang panjang itu kemudian kami sajikan makanan yang sangat sederhana. Nasi putih hangat disampingnya ada rica ayam yang pedas menggugah selera. Ada juga kerupuk yang renyah, mie goreng sederhana, dan tempe goreng yang harum. Ditambah beberapa snak yang dibawa oleh wali murid yaitu poding dan donat.

Minumnya pun hanya es teh manis yang segar. Tidak ada menu mahal. Tidak ada makanan istimewa seperti di restoran. Semua sangat sederhana. Dari kesederhanaan itulah lahir makna yang begitu dalam. Saya juga meminta anak-anak untuk makan tanpa menggunakan sendok dan garpu. Mereka makan dengan tangan secara langsung. Saya menerapkan sunah Rasulullah.

Awalnya beberapa anak terlihat sedikit canggung. Barangkali mereka belum terbiasa makan seperti ini bersama teman-temannya. Perlahan suasana menjadi cair. Mereka mulai menikmati kebersamaan. Tangan-tangan kecil mereka mengambil nasi dan lauk dari tempat yang sama. Tidak ada batas. Tidak ada pemisah.

Saya melihat sebuah pemandangan yang begitu indah. Di hadapan saya tidak ada lagi perbedaan antara siswa yang berasal dari keluarga kaya ataupun yang hidup sederhana. Semua duduk di lantai yang sama. Semua makan dari alas daun pisang yang sama.

Di dalam Islam, kesederhanaan adalah sebuah kemuliaan. Rasulullah mengajarkan hidup yang sederhana meskipun beliau adalah manusia yang paling mulia. Melihat anak-anak makan bersama seperti itu membuat hati saya terasa hangat. Mereka tampak sangat bahagia.

Tawa kecil terdengar di sana-sini. Ada yang bercanda dengan temannya. Ada yang tersenyum sambil menikmati kerupuk yang renyah. Ada pula yang saling berbagi lauk. Tidak ada gengsi. Tidak ada rasa malu. Yang ada hanyalah kebersamaan.

Saya memandang mereka dengan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Saya berdoa semoga kebersamaan sederhana ini menjadi kenangan yang indah bagi mereka. Ramadan memang bukan tentang kemewahan hidangan. Ramadan adalah tentang melatih hati untuk sederhana, sabar, dan bersyukur.

Ketika seseorang merasakan lapar dan haus sepanjang hari, kita akan lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang hidup dalam kekurangan. Buka puasa bersama yang sederhana ini menjadi sebuah pelajaran kehidupan bagi anak-anak kelas 7G.

Mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari makanan yang mahal. Mereka belajar bahwa kebersamaan jauh lebih berharga daripada kemewahan. Mereka belajar bahwa duduk di lantai bersama teman-teman sambil makan dari alas daun pisang ternyata bisa menghadirkan rasa bahagia yang tulus.

Di tengah kesederhanaan itu saya melihat wajah-wajah penuh keceriaan. Senyum mereka begitu tulus. Tawa mereka begitu lepas. Tidak ada yang merasa kurang. Tidak ada yang merasa berbeda. Semua menjadi satu dalam kebersamaan.

Daun pisang yang memanjang itu seakan menjadi simbol persatuan. Mengingatkan bahwa mereka adalah satu keluarga  kelas 7G bagian dari Esmega. Saya berharap pengalaman sederhana ini akan tertanam dalam ingatan mereka.

Suatu hari nanti ketika mereka tumbuh dewasa, mungkin mereka akan makan di tempat yang lebih mewah, duduk di kursi yang nyaman, dan menikmati makanan yang lebih mahal. Semoga mereka tetap mengingat bahwa kebahagiaan sejati pernah mereka rasakan saat duduk bersila di lantai, makan bersama teman-temannya di atas selembar daun pisang panjang.

Semoga kebersamaan bersama kelas 7G itu menjadi amal kebaikan. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menanamkan nilai-nilai kebaikan di hati mereka. Semoga  anak-anak kelak tumbuh generasi yang kuat, rendah hati, serta selalu ingat kepada Allah Subhanahu Wata'alla dalam setiap langkah kehidupannya. Aamiin Aamiin.

Cepu, 14 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar