Karya : Gutamining Saida
Minggu sore, Pak Gun memberikan instruksi yang sederhana. Kami diminta berangkat bersama dari ujung kolam menuju bagian tengah. Tidak ada perlombaan, tidak ada penilaian siapa yang paling cepat. Kami hanya diminta bergerak menuju tujuan yang sama.
Ketika peluit ditiup, semua peserta mulai bergerak. Saat itulah saya melihat pemandangan yang menarik. Ada teman yang melaju sangat cepat. Dengan gerakan yang mantap, ia segera meninggalkan peserta lain dan sampai lebih dahulu di titik tujuan. Ada pula yang bergerak perlahan. Gerakannya tidak tergesa-gesa, tetapi terus maju sedikit demi sedikit. Meski lambat, akhirnya ia juga sampai di tujuan.
Di sisi lain, ada peserta yang sempat belok ke kanan, belok ke kiri. Ada yang tampak ragu-ragu sehingga arah gerakannya tidak lurus. Bahkan ada yang berhenti sejenak karena merasa lelah atau kehilangan keseimbangan. Pada akhirnya, mereka tetap berusaha melanjutkan perjalanan.
Melihat kejadian itu, hati saya tiba-tiba teringat pada perjalanan hidup manusia. Bukankah kehidupan ini juga seperti perjalanan di dalam kolam?
Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan setiap manusia dengan kemampuan, rezeki, dan jalan hidup yang berbeda-beda. Ada orang yang sejak muda sudah mencapai banyak keberhasilan. Pendidikan lancar, pekerjaan baik, usaha berkembang, dan kehidupan keluarganya tampak harmonis. Mereka seperti teman yang melaju cepat menuju tujuan.
Ada pula yang harus berjalan pelan. Untuk mencapai satu keberhasilan, mereka memerlukan perjuangan yang panjang. Kadang jatuh, bangun, lalu mencoba lagi. Hasil yang diperoleh mungkin tidak secepat orang lain, tetapi mereka tetap bergerak maju. Mereka seperti peserta yang berenang perlahan namun pasti.
Dalam kehidupan, sering kali kita melakukan kesalahan dengan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika melihat orang lain lebih cepat mencapai tujuan, hati menjadi gelisah. Kita bertanya-tanya mengapa hidup kita tidak seindah hidup mereka.
Padahal Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah meminta kita menjadi seperti orang lain. Allah hanya meminta kita berusaha dan bersungguh-sungguh menjalani takdir yang telah diberikan kepada kita.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Ayat ini mengajarkan bahwa yang dinilai oleh Allah Subhanahu Wata'alla bukanlah siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang terus berusaha dan tidak menyerah.
Saat memperhatikan teman-teman di kolam, saya juga melihat beberapa orang yang sempat bergerak ke arah yang kurang tepat. Ada yang terlalu ke kanan dan ada yang terlalu ke kiri sehingga harus mengoreksi arah kembali.
Bukankah ini juga sering terjadi dalam kehidupan?
Manusia terkadang memiliki tujuan yang baik, tetapi dalam perjalanan ia tergoda oleh berbagai hal. Ada yang terlena oleh harta, jabatan, atau pujian manusia. Ada pula yang terlalu sibuk memikirkan urusan dunia hingga melupakan akhirat. Akibatnya, arah perjalanan hidup menjadi menyimpang.
Beruntunglah orang yang segera menyadari kesalahannya lalu kembali ke jalan yang benar. Sebab dalam Islam, pintu taubat selalu terbuka selama hayat masih dikandung badan.
Di tengah kolam, saya juga melihat beberapa peserta yang tampak kesulitan. Mereka tidak malu meminta bantuan kepada teman di dekatnya. Ada yang diberi semangat, ada yang diarahkan posisi tubuhnya, dan ada yang dibantu agar lebih tenang.
Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan pertolongan orang lain. Karena itulah Islam mengajarkan persaudaraan, dan saling menolong dalam kebaikan.
Sering kali Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan seseorang untuk menjadi jalan pertolongan bagi hamba-Nya. Bisa berupa sahabat yang memberi nasihat, guru yang membimbing, keluarga yang menguatkan, atau bahkan orang asing yang hadir pada waktu yang tepat.
Karena itu, tidak sepantasnya kita merasa paling hebat atau paling mampu. Keberhasilan yang kita raih sesungguhnya merupakan karunia Allah yang sering kali disertai bantuan banyak orang di sekitar kita.
Hal lain yang saya pelajari dari terapi di air adalah pentingnya kesabaran. Tidak semua peserta langsung mampu menguasai teknik yang diajarkan. Ada yang harus mengulang berkali-kali. Ada yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menghilangkan rasa takut terhadap air.
Begitu pula dalam kehidupan. Tidak semua doa langsung dikabulkan sesuai keinginan kita. Tidak semua usaha segera membuahkan hasil. Ada masa ketika kita harus menunggu sambil terus berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.
Kesabaran bukan berarti diam tanpa usaha. Kesabaran adalah tetap melangkah meskipun hasil belum terlihat. Tetap berbuat baik meskipun belum mendapatkan penghargaan. Tetap berdoa meskipun jawaban yang diharapkan belum datang.
Ketika seluruh peserta akhirnya berkumpul di titik tujuan, saya menyadari satu hal penting. Yang tercepat maupun yang terlambat akhirnya sama-sama sampai. Tidak ada yang ditertawakan karena lambat. Tidak ada pula yang dipuji berlebihan karena cepat.
Semua mendapatkan pengalaman, pelajaran, dan manfaat sesuai proses yang mereka jalani.
Demikian pula kehidupan manusia. Pada akhirnya kita semua sedang menuju tujuan yang sama, yaitu kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Perbedaan harta, jabatan, kepandaian, maupun kecepatan meraih kesuksesan dunia tidak akan menjadi ukuran utama di hadapan-Nya. Yang akan dinilai adalah iman, ketakwaan, keikhlasan, dan amal saleh yang kita bawa.
Dari sebuah latihan sederhana di kolam renang, Allah Subhanahu Wata'alla memperlihatkan pelajaran yang begitu dalam. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang lurus jalannya, ada yang sempat berbelok. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai, melainkan apakah kita terus bergerak menuju jalan yang diridhai Allah.
Semoga kita termasuk hamba yang istiqamah dalam perjalanan hidup, tidak mudah putus asa ketika langkah terasa lambat, tidak sombong ketika diberi kemudahan, serta senantiasa memohon petunjuk agar tetap berada di jalan yang lurus hingga kelak sampai pada tujuan terbaik, yaitu memperoleh rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wata'alla . Aamiin.
Cepu, 10 Juni 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar