Minggu, 07 Juni 2026

Pejuang Sehat

Karya : Gutamining Saida 

Ide menulis pagi ini berasal dari Grup Swimming Squad 2. Seperti biasa, Pak Gun mengirimkan sebuah video latihan yang disertai komentar singkat di bawahnya. Video itu memperlihatkan dua orang peserta terapi renang yang sedang berlatih. Ketika saya perhatikan lebih saksama, ternyata dua orang dalam video tersebut adalah saya dan Bu Aci.

Melihat rekaman itu, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya teringat perjalanan yang telah kami lalui selama beberapa bulan terakhir. Kami datang ke kolam dengan membawa berbagai persoalan dan keluhan kesehatan. Kami memiliki tujuan yang sama, yaitu berikhtiar untuk menjadi lebih sehat, lebih kuat, dan lebih bahagia.

Setiap orang yang datang ke kolam membawa cerita masing-masing. Ada yang ingin mengurangi nyeri pada tubuhnya, ada yang ingin memperbaiki pernapasan, ada pula yang ingin menghilangkan trauma terhadap air. Tidak sedikit yang datang dengan hati yang lelah karena persoalan hidup yang bertubi-tubi.

Saya mengikuti terapi renang, ada rasa takut yang begitu besar. Jangankan berada di bagian kolam yang dalam, melihat air yang tampak gelap saja sudah membuat jantung berdebar lebih cepat. Pikiran buruk sering muncul tanpa diundang. Bagaimana jika tenggelam? Bagaimana jika tidak mampu mengendalikan diri? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?

Rasa takut itu ternyata tidak mudah dihilangkan. Saya belajar bahwa keberanian bukanlah keadaan ketika seseorang tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.

Pertemuan demi pertemuan kami jalani dengan penuh kesabaran. Pak Gun tidak hanya mengajarkan teknik berenang atau terapi di dalam air. Beliau juga sering menyisipkan pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Banyak nasihat sederhana yang ternyata mengandung arti. 

Di kolam renang, saya belajar bahwa tubuh yang tegang akan sulit mengapung. Sebaliknya, ketika tubuh rileks dan pikiran tenang, tubuh akan lebih mudah mengapung di atas air. Pelajaran sederhana ini mengingatkan saya pada kehidupan sehari-hari.

Bukankah sering kali kita tenggelam bukan karena masalah yang terlalu besar, melainkan karena hati yang terlalu tegang dalam menghadapinya?

Manusia memang memiliki kewajiban untuk berusaha. Setelah usaha dilakukan, ada saatnya kita harus menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Ketika hati dipenuhi kecemasan berlebihan, pikiran menjadi sempit dan langkah terasa berat. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi tawakal, jiwa menjadi lebih tenang

Allah Subhanahu Wata'alla berfirman dalam Al-Qur'an bahwa barang siapa bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan mencukupkan keperluannya. Ayat ini terasa begitu nyata dalam kehidupan. Banyak persoalan yang dahulu tampak besar ternyata dapat terlewati dengan pertolongan-Nya.

Saya merasakan perubahan yang perlahan tetapi pasti. Rasa berdebar yang dulu sering muncul kini semakin berkurang. Ketakutan yang dahulu menguasai pikiran perlahan mulai meninggalkan saya. Bahkan sesuatu yang dulu terasa mustahil kini mulai bisa saya lakukan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya mulai berani berada di area kolam yang lebih dalam. Dahulu saya selalu mencari tempat yang dangkal agar merasa aman. Kini, dengan pendampingan dan latihan yang teratur, saya mulai berani berada di kedalaman sekitar 160 sentimeter.

Tentu saja keberanian itu tidak muncul dalam semalam. Bim Salabim. Ada proses panjang yang harus dilalui. Ada jatuh bangun, ada keraguan, ada rasa ingin menyerah, dan ada saat-saat ketika saya merasa tidak mengalami kemajuan apa pun.  Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan satu hal penting, yaitu kesabaran.

Dalam kehidupan, banyak orang ingin hasil yang cepat. Padahal setiap perubahan membutuhkan proses. Sebagaimana benih yang ditanam tidak langsung menjadi pohon besar, demikian pula kemampuan dan keberanian manusia membutuhkan waktu untuk bertumbuh.

Video yang dikirim Pak Gun pagi ini menjadi saksi perjalanan tersebut. Dalam video itu terlihat saya dan Bu Aci berlatih bersama. Kami tampak tertawa, bercanda, dan menikmati suasana kolam. Tidak ada lagi wajah tegang seperti pada masa-masa awal latihan.

Tawa itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain. Bagi kami, tawa tersebut memiliki makna yang mendalam. Tawa itu adalah tanda bahwa hati mulai menemukan ketenangan. Tawa itu adalah bukti bahwa rasa takut yang dulu begitu besar kini mulai tergantikan oleh rasa percaya diri.

Saya percaya bahwa kebahagiaan adalah salah satu nikmat yang sering terlupakan. Banyak orang menunggu bahagia setelah mendapatkan sesuatu yang besar. Padahal Allah sering menghadirkan kebahagiaan melalui hal-hal kecil yang terjadi setiap hari.

Bisa bernapas dengan lega adalah nikmat. Bisa bergerak tanpa rasa sakit adalah nikmat. Bisa tertawa bersama teman-teman adalah nikmat. Bisa belajar hal baru adalah nikmat. Bahkan bisa bangun pagi dan menyaksikan matahari terbit pun merupakan nikmat yang luar biasa.

Karena itu, pagi ini saya kembali mengucapkan syukur. Syukur kepada Allah Swt. yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Syukur karena diberikan kesempatan untuk terus berikhtiar menjaga kesehatan. Syukur karena diberikan kekuatan untuk menghadapi ketakutan yang dahulu terasa begitu besar.

Saya juga bersyukur atas keberadaan teman-teman di Swimming Squad 2 yang selalu saling menyemangati. Kehadiran mereka membuat proses belajar menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Kami tidak hanya belajar tentang teknik di dalam air, tetapi juga belajar tentang makna kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur.

Kolam renang ternyata bukan sekadar tempat berolahraga. Bagi saya, kolam telah menjadi ruang pembelajaran kehidupan. Di sana saya belajar tentang keberanian, keikhlasan, kesabaran, dan tawakal. Air mengajarkan bahwa semakin kita melawan dengan ketegangan, semakin berat rasanya. Namun ketika kita percaya, tenang, dan berserah kepada Allah setelah berusaha, banyak hal menjadi lebih mudah.

Semoga setiap langkah ikhtiar yang kami lakukan menjadi bagian dari ibadah. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan. 



Cepu, 8 Juni 2026 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar