Minggu, 11 Januari 2026

Bojonegoro



Karya : Gutamining Saida 
Bojonegoro adalah kota kelahiran saya. Sebuah nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan, meski raga sudah lama berpindah tempat. Saya lahir di pelosok desa, jauh dari hiruk-pikuk kota kabupaten. Desa yang sunyi, jalan masih sederhana, dan kehidupan berjalan perlahan mengikuti irama alam. Ketika, pergi ke kota Bojonegoro bukan perkara sepele. Ada jarak, biaya, persiapan. Setiap perjalanan ke kota kabupaten memiliki makna tersendiri.

Ketika anak saya sekolah di Al Fatimah Bojonegoro, minimal satu kali pasti ke kota Bojonegoro. Terkadang lebih, jika ada kepentingan lain. Penyebabnya adalah mengurus administrasi sekolah, membeli perlengkapan, atau sekadar menemui sang buah hati. Perjalanan itu selalu saya nanti. Kota terasa megah di mata anak desa. Gedung-gedung, toko-toko, kendaraan yang lalu lalang, semuanya tampak luar biasa. Saya sering berpikir, betapa luasnya dunia di luar desa kecil saya.

Waktu terus berjalan tidak terasa, saya menikah. Takdir membawa saya berpindah tempat tinggal sekaligus sebagai tempat mengabdi. Kini saya menetap di Kabupaten Blora, tepatnya Kecamatan Cepu. Di sinilah saya menjalani hari-hari, mengajar, mengabdi, dan membangun cerita perjalanan hidup. Cepu menjadi rumah kedua, tempat saya belajar arti tanggung jawab, kesabaran, dan pengabdian.

Lalu bagaimana dengan Bojonegoro sekarang? Jawabannya sederhana,sekitar tiga tahun berlalu saya hampir tidak pernah ke Bojonegoro. Bukan karena lupa, bukan pula karena tidak cinta. Melainkan karena tidak ada kepentingan. Segala urusan bisa diselesaikan di tempat tinggal sekarang. Kadang muncul keinginan untuk sekadar berkunjung, bernostalgia, menghirup kembali udara kota kabupaten. Ketika saya bertanya pada diri sendiri, “Apa tujuan ke sana?” jawabannya kosong. Akhirnya niat itu pun menguap. Tidak ada tujuan, tidak ada motivasi.

Hingga Minggu pagi tanggal 11 Januari 2026, Allah Subhanahu Wata'alla seolah memanggil kembali ingatan saya. Hari ini saya meluncur ke Bojonegoro. Entah mengapa langkah terasa ringan, meski hati sedikit berdebar. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Saya ada kepentingan menemui ibu tercinta.

Sesampainya di Bojonegoro, saya terdiam. Banyak sekali perubahan. Jalan raya kini lebar, mulus dan rapi. Aspal hitam terbentang mulus, berbeda jauh dengan jalan sempit yang dulu sering saya lewati. Bangunan-bangunan berdiri megah, modern, dan tertata. Lalu lintas ramai, kendaraan datang silih berganti. Di pinggir jalan raya, taman-taman tertata indah, hijau, dan bersih. Kota ini hidup, bergerak, dan terus bertumbuh.

Dalam keheningan, saya merenung. Allah Maha Kuasa Tidak ada yang benar-benar tetap di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Kota berubah, manusia berubah, bahkan perasaan pun berubah. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa dunia adalah tempat ujian, bukan tempat menetap. Apa yang hari ini megah, esok bisa saja pudar. Apa yang hari ini sederhana, kelak bisa menjadi luar biasa.

Saya sadar, selama ini terlalu sibuk dengan rutinitas di tempat pengabdian, hingga lupa menengok ibu tercinta. Islam mengajarkan pentingnya mengingat dan menghormati serta berbakti orang tua, dan bersyukur atas perjalanan hidup. Bukan untuk terikat pada masa lalu, tetapi untuk mengambil hikmah darinya.

Jika kota bisa berkembang, mengapa diri saya tidak? Jika jalan-jalan diperbaiki agar lebih nyaman, mengapa jalan hati tidak dibersihkan dari iri, sombong, dan lalai? Jika taman-taman dirawat agar indah, mengapa iman tidak dirawat agar tetap hidup?

Perjalanan singkat ke Bojonegoro hari ini mengajarkan saya tentang tujuan. Ternyata, tidak semua perjalanan harus diawali kepentingan duniawi. Ada perjalanan yang Allah rancang hanya untuk mengingatkan. Mengingatkan bahwa kita berasal dari orang tua, sudah sejauh kita berbakti, sejauh apa melangkah, dan ke mana seharusnya kembali.

Saya bersyukur pernah lahir di pelosok desa. Dari sanalah saya belajar kesederhanaan. Saya bersyukur pernah mengenal Bojonegoro di masa lalu, agar saya bisa menghargai Bojonegoro hari ini. Saya bersyukur kini mengabdi di Cepu, karena di sanalah Allah menitipkan amanah .

Semua tempat hanyalah persinggahan. Desa, kota, kabupaten, semuanya akan kita tinggalkan. Yang akan kita bawa pulang kepada Allah hanyalah amal dan niat. Semoga setiap langkah, termasuk langkah  ke kota Bojonegoro, menjadi jalan kebaikan, syukur dan jalan dzikir. Karena sejauh apa pun kita pergi, sejatinya kita sedang berjalan menuju Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kesehatan semakin baik.
Cepu, 11 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar