Karya : Gutamining Saida
Bicara soal kerupuk, memang seolah tidak pernah ada ujungnya. Dari pagi hingga malam, dari hidangan sederhana sampai sajian istimewa, kerupuk selalu menemukan tempatnya sendiri di hati masyarakat. Kerupuk bukan sekadar pelengkap, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya makan orang Indonesia. Bunyi “kriuk” saat digigit seakan memberi isyarat bahwa sebuah hidangan telah mencapai kesempurnaannya. Tanpa kerupuk, nasi terasa kurang lengkap, rujak terasa sepi, lontong kurang ramai, bakso seperti kehilangan sahabat setianya. Bahkan tanpa apa-apa pun, kerupuk tetap enak dinikmati, menemani obrolan santai atau sekadar mengganjal lapar.
Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita dan kebanggaan tersendiri tentang kerupuk. Begitu pula Bojonegoro, sebuah kabupaten yang dikenal dengan kesederhanaan warganya, kekayaan budaya, dan kuliner khas yang sarat makna. Di antara sekian banyak makanan yang tumbuh dan berkembang, ada satu kerupuk legendaris yang namanya terus hidup lintas generasi yaitu Kerupuk Klenteng Rasa Asli. Kerupuk ini bukan kerupuk biasa. Ia menyimpan sejarah panjang, rasa khas, serta kisah ketekunan yang patut diteladani.
Kerupuk Klenteng Rasa Asli pertama kali diproduksi sejak tahun 1928. Pada masa itu, usaha ini dirintis oleh Tan Tjian Liem, seorang perajin kerupuk yang tekun dan telaten. Di tengah keterbatasan zaman, ketika teknologi belum semaju sekarang, proses pembuatan kerupuk dilakukan secara tradisional. Bahan-bahan dipilih dengan cermat, adonan diolah dengan tangan, dan proses pengeringan memanfaatkan sinar matahari. Semua dilakukan dengan penuh kesabaran dan rasa cinta terhadap pekerjaan. Dari sanalah lahir kerupuk dengan cita rasa yang kaya, gurih, dan berbeda dari kerupuk kebanyakan.
Nama “kerupuk klenteng” tidak muncul begitu saja. Lokasi produksinya yang berada di sebelah timur klenteng menjadikan masyarakat mudah mengenali dan menyebutnya. Lambat laun, sebutan itu melekat dan menjadi identitas. Bagi warga Bojonegoro, menyebut kerupuk klenteng berarti merujuk pada kerupuk rasa asli yang legendaris, yang sudah menemani perjalanan hidup banyak orang, dari masa kanak-kanak hingga usia senja.
Seiring berjalannya waktu, usaha ini mengalami pergantian generasi.
Pada tahun 1978, Kerupuk Klenteng Rasa Asli diteruskan oleh Tan Lan Nio. Di tangan generasi penerus, kerupuk ini tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Resep tidak banyak diubah, proses tetap dijaga, dan kualitas menjadi prioritas utama. Di tengah arus modernisasi dan persaingan industri makanan yang semakin ketat, keputusan untuk mempertahankan keaslian rasa ini bukanlah hal mudah. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Yang menarik, kerupuk ini tidak hanya terkenal karena rasanya, tetapi juga karena kemasannya. Pembelian kerupuk bisa dilakukan setengah kilogram atau satu kilogram. Bungkusnya pun berbeda dengan kerupuk pada umumnya. Jika kebanyakan kerupuk dibungkus plastik tipis dan polos, kerupuk klenteng justru dibungkus dengan plastik tebal menyerupai karung kecil. Bentuk ini memberi kesan khas, sederhana, namun kokoh. Seakan menyampaikan pesan bahwa isi di dalamnya adalah kerupuk yang “berisi” rasa dan sejarah.
Saat plastik dibuka, aroma kerupuk mentah yang khas langsung tercium. Setelah digoreng, kerupuk akan mengembang sempurna, renyah, dan menghadirkan rasa gurih yang tidak berlebihan. Rasanya kaya, tidak sekadar asin, tetapi memiliki kedalaman yang membuat orang ingin mengambil lagi dan lagi. Kerupuk ini cocok dimakan dengan nasi hangat, sambal, sayur lodeh, atau bahkan hanya sebagai teman minum teh di sore hari.
Walaupun kini banyak pabrik kerupuk bermunculan, dengan berbagai varian rasa, warna, dan bentuk, Kerupuk Klenteng Rasa Asli tetap bertahan. Ia tidak tergoda untuk mengikuti tren berlebihan. Tidak perlu pewarna mencolok atau rasa buatan yang kuat. Kerupuk ini percaya diri dengan jati dirinya. Justru di situlah kekuatannya: rasa yang konsisten dan kepercayaan pelanggan yang terjaga puluhan tahun.
Bagi para perantau asal Bojonegoro, kerupuk klenteng sering menjadi buah tangan wajib. Setiap pulang kampung, kerupuk ini dibawa sebagai oleh-oleh untuk keluarga, teman, atau tetangga. Bukan hanya membawa rasa, tetapi juga kenangan. Setiap gigitan seolah membawa kembali ingatan masa kecil, suasana dapur rumah, atau momen makan bersama keluarga besar.
Kerupuk Klenteng Rasa Asli bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah saksi sejarah, simbol ketekunan, dan bukti bahwa kualitas dan kejujuran dalam berkarya akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Dari tahun 1928 hingga hari ini, kerupuk ini tetap berdiri, renyah dalam rasa, kuat dalam identitas, dan kaya dalam cerita. Di tengah perubahan zaman, ia mengajarkan bahwa menjaga warisan bukan berarti menolak kemajuan, melainkan merawat nilai agar tetap hidup dan bermakna.
Cepu, 12 Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar