Selasa, 13 Januari 2026

Palu Gada

 

Karya: Gutamining Saida

Halaman sekolah Esmega mulai ramai oleh langkah kaki bapak dan ibu guru yang datang silih berganti. Udara masih segar, sisa embun seolah menyapa dengan lembut. Ada yang datang dengan wajah cerah, ada pula yang datang sambil membawa tas besar berisi buku dan map, tanda tanggung jawab yang selalu dipanggul setiap hari. Sebagian besar dari mereka berangkat menunaikan tugas dengan satu kebiasaan sederhana namun bermakna yaitu membawa bekal sarapan dari rumah.

Bekal itu beragam. Ada nasi dengan lauk sederhana buatan tangan sendiri, ada sayur bening, tempe goreng, sambal seadanya, dan tak jarang pula hanya roti atau pisang godok. Bekal-bekal itu bukan sekadar makanan, tetapi wujud cinta, doa, dan keikhlasan dari rumah yang mengiringi langkah pengabdian. Dalam kesederhanaan itu tersimpan niat ibadah, sebab bekerja dengan niat yang benar adalah bagian dari amal saleh.

Tidak semua guru sempat membawa bekal. Ada kalanya pagi datang terlalu cepat, atau urusan rumah belum sepenuhnya selesai. Bagi mereka yang tidak membawa sarapan, kantin Bang Midid menjadi tempat tujuan. Kantin sederhana yang penuh kehangatan itu seakan tidak pernah sepi dari keberkahan.

Bang Midid, dengan senyum khasnya, selalu siap melayani. Pilihan yang tersedia di kantinnya bukan main-main diantaranya adalah jajanan gorengan, nasi sayur, nasi pecel, minuman dingin hingga panas. Teh, kopi, es, hingga minuman hangat yang menenangkan tenggorokan. Yang membuat banyak orang terkesan bukan hanya ragam pilihannya, tetapi sikapnya yang tulus dalam melayani.

Di suatu pagi, ada guru yang memesan minuman jahe panas minuman yang tidak biasa dijual. Bang Midid tidak menolak, tidak pula mengeluh. Dengan ringan ia berkata, “Nggih, Bu. Ditunggu sebentar.” Padahal stok jahe tidak ada. Ia pun pergi ke warung sebentar, membeli jahe terlebih dahulu, lalu kembali meraciknya dengan penuh kesungguhan. Tidak lama kemudian, minuman jahe panas itu sudah terhidang, diantar langsung sampai ke meja pemesan. Hangatnya bukan hanya terasa di lidah, tetapi juga di hati.

Pelayanan seperti itulah yang membuat Bang Midid berkali-kali keluar masuk ruang guru. Setiap kali datang membawa pesanan, selalu ada guru lain yang tergoda. Awalnya hanya melihat, lalu mencium aroma, kemudian tergerak untuk memesan. Tak berselang lama, Bang Midid kembali lagi dengan pesanan baru. Cepat, ramah, harganya murah, dan rasanya enak. Semua terasa pas, tanpa berlebihan.

Suatu hari, terdengarlah komentar spontan dari salah satu guru, “Wah, ini namanya Palu Gada.” Ucapan itu langsung disambut tawa ringan. Saya yang mendengar hanya terdiam, mengeja ulang dalam hati, “Palu Gada… Palu Gada…”. Rasa penasaran pun muncul. Apa sebenarnya maksudnya?

Saya mencoba menebak-nebak sendiri, tetapi tetap tidak menemukan jawaban yang pasti. Akhirnya saya mendekat ke Bu Wiwik, sosok yang dikenal penuh cerita. “Apa an itu, Bu Wiwik?” tanya saya singkat.

Bu Wiwik langsung menertawakan saya, tawa yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Lalu beliau menjelaskan bahwa Palu Gada adalah singkatan dari kalimat kreatif: “Apa mau lu, gue ada.” Sebuah istilah sederhana. Artinya, apa pun yang dibutuhkan pelanggan, sebisa mungkin disediakan. Mendengar penjelasan itu, saya tersenyum terasa pas di telinga.

Agama Islam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Bang Midid mungkin tidak berdiri di mimbar, tidak menyampaikan ceramah, tetapi sikapnya adalah dakwah yang nyata. Kejujuran dalam berdagang, keikhlasan dalam melayani, kesungguhan dalam memenuhi kebutuhan orang lain semua itu adalah nilai-nilai agama yang hidup dalam keseharian. Ia bekerja bukan hanya mencari rezeki, tetapi juga menanam kebaikan.

Setiap saat Allah Subhanahu Wata'alla menambah perbendaharaan kata, istilah, ide, dan cerita. Semua itu menjadi pengingat bahwa hidup tidak pernah lepas dari pelajaran, asal kita mau membuka mata dan hati. Dari ruang guru, dari kantin sekolah, dari tawa ringan bersama rekan kerja semuanya bisa menjadi ladang amal dan sumber hikmah. Cerita ini saya abadikan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk direnungkan. Bahwa di balik rutinitas, Allah Subhanahu Wata'alla selalu menyelipkan keberkahan. Aamiin.

Cepu, 13 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar