Minggu, 11 Januari 2026

Foto Kenangan



Karya: Gutamining Saida

Zaman sekarang, hampir semua hal ingin diabadikan. Makanan baru datang ke meja, belum sempat disantap, sudah lebih dulu difoto. Minuman disajikan cantik, tangan reflek mengangkat gawai. Apalagi orangnya dari gaya paling sederhana sampai pose paling bergaya, dari wajah polos bangun tidur hingga riasan lengkap, semuanya layak masuk galeri. Di rumah, teras, sekolah, tempat wisata, bahkan di jalanan pun tak luput dari bidikan kamera. Cucu-cucu saya yang masih kecil pun sudah pandai bergaya. Senyum mereka seolah otomatis muncul begitu melihat kamera. Kadang saya tersenyum sendiri, kadang terdiam, tenggelam dalam kenangan masa lalu yang jauh berbeda.

Saya berasal dari zaman ketika foto bukanlah hal yang mudah. Alat potret masih jarang dimiliki orang. Kamera bukan benda biasa di rumah, melainkan barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang berada. Jika ingin memiliki foto kenangan, kami harus pergi ke studio foto yang letaknya di kota. Jaraknya tidak dekat, ongkosnya tidak murah, dan persiapannya pun tidak sederhana. Berfoto bukan perkara iseng atau spontan, melainkan sebuah peristiwa yang direncanakan.

Saya masih ingat betul, sebelum ke studio foto, ibu akan menyiapkan pakaian terbaik. Biasanya baju baru yang dibeli setahun sekali, menjelang hari raya. Baju itu disimpan rapi, bahkan kadang tidak boleh dipakai sebelum hari yang ditentukan. Ketika akhirnya dikenakan untuk foto, rasanya istimewa sekali. Hati berdebar, tangan dingin, dan senyum terasa kaku. Di studio, fotografer akan mengatur posisi, menyuruh kami diam, menatap lurus, dan tidak banyak bergerak. Sekali jepret, selesai. Tidak ada istilah mengulang berkali-kali. Tidak ada memilih foto terbaik. Yang ada hanyalah pasrah dan doa agar hasilnya bagus.

Setelah itu, kami harus menunggu. Seminggu, kadang lebih. Menunggu dengan harap-harap cemas. Saat foto akhirnya diambil, rasanya seperti menerima hadiah besar. Foto itu kemudian disimpan rapi, dimasukkan ke album, atau dipajang di ruang tamu. Foto menjadi saksi waktu, bukan sekadar koleksi, melainkan kenangan yang dijaga.

Kini, semuanya berubah. Foto bisa diambil kapan saja, dihapus kapan saja, dan disimpan ribuan jumlahnya. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah kenangan masih punya makna yang sama? Ataukah ia justru menjadi sesuatu yang mudah dilupakan karena terlalu banyak?

Sebagai orang yang semakin menua, saya melihat perubahan ini dari sudut pandang iman. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa setiap nikmat adalah amanah. Waktu, penglihatan, usia, bahkan momen-momen kecil dalam hidup, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan. Maka saya merenung, di tengah mudahnya memotret dan memamerkan, apakah kita masih menyadari kehadiran Allah Subhanahu Wata'alladalam setiap momen?

Saya tidak menolak kemajuan. Saya bersyukur atas teknologi yang memudahkan. Dengan foto, kita bisa menyimpan wajah orang-orang tercinta, mengenang mereka yang telah tiada, dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga jauh. Saya juga belajar untuk mengingatkan diri sendiri dan cucu-cucuku bahwa hidup bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi untuk dijalani dengan penuh kesadaran.

Ada kalanya saya melihat cucu-cucu sibuk bergaya. Saya ceritakan bagaimana dulu satu foto bisa menjadi kenangan seumur hidup. Saya ajarkan mereka mengucap hamdalah sebelum makan, bukan hanya memotret makanannya. Saya ajarkan mereka bahwa senyum yang tulus kepada sesama lebih indah daripada senyum yang dibuat demi kamera. Saya ingin mereka tumbuh sebagai generasi yang bukan hanya pandai bergaya, tetapi juga pandai bersyukur.

Dalam doa-doa malam saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'allaagar kami tidak lalai. Agar mata yang sering memandang layar tetap basah oleh dzikir. Agar tangan yang sibuk memegang gawai tetap ringan untuk bersedekah. Agar setiap foto yang diambil tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa semua keindahan berasal dari-Nya.

Zaman boleh berubah, alat boleh canggih, gaya hidup boleh bergeser. Namun nilai iman seharusnya tetap menjadi penuntun. Foto hanyalah sarana, bukan tujuan. Kenangan sejati bukan hanya yang tersimpan di galeri ponsel, tetapi yang terukir di hati tentang kesederhanaan, kesabaran, dan rasa syukur.

Saya bersyukur pernah hidup di dua zaman yaitu zaman serba terbatas dan zaman serba mudah. Dari keduanya, saya belajar satu hal penting bahwa yang paling berharga bukan seberapa banyak momen yang kita abadikan, tetapi seberapa banyak momen yang kita isi dengan kebaikan dan keikhlasan. Karena kelak, bukan foto-foto itulah yang akan ditanya, melainkan amal perbuatan kita di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui.

Cepu, 11 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar