Minggu, 11 Januari 2026

Peran Anak Sulung



Karya:  Guytamining Saida

Saya adalah anak pertama di keluarga besar kami. Dari empat bersaudara, hanya saya yang perempuan. Sejak kecil, saya sering bercanda dan kadang diam-diam merasa bahwa saya adalah yang paling cantik di antara adik-adik. Bukan semata karena rupa, tetapi karena saya belajar lebih dulu tentang tanggung jawab, tentang mengalah, dan tentang menahan keinginan. Menjadi anak pertama ternyata bukan hanya soal urutan lahir, tetapi juga harus bisa menerima peran yang tidak selalu ringan.

Ayah dan ibu membesarkan kami dengan penuh kesederhanaan. Sebagai anak sulung, saya sering dijadikan contoh. Jika saya salah, maka kesalahan itu seolah menjadi pelajaran bagi adik-adik. Jika saya benar, maka kebenaran itu dijadikan standar. Adik-adik saya langkahnya lebih gesit, lebih berani, dan lebih cepat menentukan pilihan karena mereka laki-laki.

Seiring waktu berjalan, kami menapaki jalan hidup masing-masing. Adik-adik saya terlihat lebih tegas  dalam menyikapi kehidupan. Mereka mudah bergerak, cepat datang jika disuruh berkumpul, menjengguk ibu, dan sigap ketika dibutuhkan. Sementara saya, meski niat di hati selalu ingin segera hadir, sering kali terhalang oleh keadaan. Bukan karena tidak mau, melainkan karena peran hidup saya telah bertambah.

Saya kini berstatus sebagai seorang istri. Sebuah amanah besar yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada saya melalui pernikahan. Dalam status ini, saya belajar bahwa hidup tidak lagi tentang “saya” semata, tetapi tentang “kami”. Setiap langkah yang akan saya ambil, setiap keputusan yang akan saya buat, ada prosedur yang harus saya lalui yaitu meminta izin dan atas ridho suami.

Tidak jarang hati saya diuji. Ketika keluarga berkumpul, atau ketika ada kebutuhan mendesak, saya tidak selalu bisa datang secepat adik-adik saya. Ada rasa tidak enak, ada rasa bersalah, bahkan ada bisikan kecil di hati yang bertanya, “Apakah saya anak yang kurang berbakti?” Saya mencoba menenangkan diri dengan keyakinan bahwa agama islam telah mengatur semuanya dengan sangat sempurna.

Islam mengajarkan bahwa setelah seorang perempuan menikah, maka surga dan ridhonya terletak pada keridhoan suami. Bukan berarti cinta kepada orang tua berkurang, melainkan bentuk pengabdian itu kini berjalan beriringan dengan tanggung jawab baru. Saya tetap seorang anak, tetapi juga seorang istri. Dua peran yang sama-sama mulia, namun harus dijalani dengan bijak.

Saya bersyukur memiliki suami yang mau diajak berdiskusi. Saya tidak sekadar meminta izin, tetapi juga menyampaikan isi hati. Saya yakin, ketika niat kita baik ingin berbakti kepada orang tua dan menjaga silaturahmi Allah Subhanahu Wata'alla akan membuka jalan. Saya meyakini bahwa ridho Allah Subhanahu Wata'alla terletak pada ridho suami, dan saya tidak ingin melangkah tanpa keberkahan itu.

Menjadi perempuan, menjadi anak pertama, dan menjadi istri adalah tiga peran besar yang Allah Subhanahu Wata'alla  titipkan kepada saya. Tidak mudah menjalani semuanya dengan sempurna. Namun saya percaya, selama saya berusaha berjalan sesuai tuntunan agama, menjaga adab, dan mengutamakan ridho AllahSubhanahu Wata'alla, maka setiap langkah yang pelan pun tetap bernilai ibadah.

Saya memilih berjalan sesuai kapasitas dan peran yang Allah Subhanahu Wata'alla  tetapkan untuk saya. Saya yakin, bukan siapa yang paling cepat datang yang paling mulia, tetapi siapa yang paling ikhlas menjalani perannya. Saya selalu memohon  semoga Allah Subhanahu Wata'alla  meridhoi saya sebagai anak, sebagai kakak, dan sebagai istri. Ketika ridho Allah Subhanahu Wata'alla dan ridho suami telah saya dapatkan, maka di situlah ketenangan hati saya bersemayam.

Cepu, 11 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar