Sabtu, 10 Januari 2026

Sapaan Baruku

 


Karya: Gutamining Saida

Tiba-tiba saya mendapat sapaan baru. Sebuah panggilan yang lahir tanpa rencana, tanpa musyawarah resmi, dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Beberapa guru nyeletuk, saling melempar ide, lalu tertawa kecil. Entah awalnya bagaimana dan dari siapa, saya kurang begitu memahami. Saat itu pikiran saya mempersiapan mengajar materi dengan tema baru di awal semester. Semester baru selalu menghadirkan harapan, sekaligus tantangan yang tidak ringan.

Kami berada di ruang guru. Ruangan yang menjadi saksi banyak cerita diantaranya diskusi serius, keluh kesah, tawa, doa, bahkan kelelahan yang kadang tak terucap. Ruang guru ramai membahas rolling kelas. Sebuah kebijakan yang mau tidak mau harus diterima dan dijalani bersama. Ada siswa yang bahagia, ada yang sedih, ada yang terdiam menahan air mata. Semua itu menjadi tanggung jawab kami para guru untuk menenangkan, menguatkan, dan mengarahkan.

Di tengah obrolan yang bersahutan itu, terdengar celetukan-celetukan ringan. Nama-nama baru bermunculan. Ada yang disapa Burik, Buly, Budel, dan masih banyak lagi. Sapaan itu terdengar sederhana, bahkan terkesan main-main. Saya percaya, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar terjadi secara kebetulan. Semua ada dalam kehendak dan izin Allah Subhanahu Wata'alla.

Ketika akhirnya saya mendengar sapaan yang diarahkan kepada diri saya, “BUSA”, saya terdiam sejenak. Ada rasa kaget, heran, sekaligus senyum yang tertahan.Ssaya bertanya pada diri sendiri, mengapa Busa? Saya segera teringat satu hal penting yang sering saya yakini bahwa sebuah nama adalah doa dan harapan. Setiap kata yang terucap, apalagi yang melekat sebagai panggilan, sesungguhnya mengandung makna yang bisa menjadi pengingat.

Saat itu saya memilih untuk tidak menolak, tidak pula menertawakan secara berlebihan. Saya justru mengajak diri saya untuk merenung. Jika Allah Subhanahu Wata'alla. mengizinkan saya dipanggil “BUSA”, pasti ada hikmah yang bisa saya petik. Busa mungkin terlihat sepele, ringan, dan mudah hilang. Namun di balik kesederhanaannya, busa memiliki peran yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa busa, peralatan makan tidak akan bersih. Tanpa busa, noda membandel sulit dihilangkan. Busa membantu membersihkan, menjernihkan, dan mengangkat kotoran yang tak kasatmata. Dari situ, hati saya tersentuh. Saya pun berdoa dalam diam, Ya Allah, jika aku diibaratkan sebagai busa, jadikanlah aku busa yang bermanfaat.

Saya berharap keberadaan saya di lingkungan Esmega tidak hanya sekadar hadir secara fisik, tetapi juga membawa kebersihan hati, pikiran, dan suasana. Membersihkan prasangka, meredam emosi, dan membantu mengangkat beban sesama, baik guru maupun siswa. Saya ingin menjadi pribadi yang ringan dalam membantu, tidak memberatkan, tidak merasa paling penting, namun tetap memberi dampak.

Busa juga mengingatkan saya pada ayat Al-Qur’an tentang perumpamaan kebaikan dan keburukan. Allah Subhanahu Wata'alla.menggambarkan bahwa sesuatu yang tampak mengapung dan berbuih akan hilang, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi. Maka dari itu, saya tidak ingin menjadi busa yang hanya berbuih tanpa makna. Saya ingin busa yang hadir karena ada proses, ada sabun, ada air, ada usaha sehingga manfaatnya nyata.

Sebagai seorang guru, tugas saya bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, saya ingin mengajak pada kebaikan, menularkan “virus kebaikan” dengan cara sederhana: senyum yang tulus, kata yang menenangkan, dan sikap yang menumbuhkan. Busa tidak bekerja sendiri. Ia muncul karena ada air yang mengalir dan sabun yang digerakkan. Begitu pula saya, saya sadar tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla.dan tanpa kebersamaan dengan rekan-rekan guru dan karyawan Esmega serta Bapak Kepala Sekolah.

Bersyukur atas kebersamaan, canda yang lahir di ruang guru, dan  sapaan yang tanpa sadar mengajarkan makna mendalam. Saya percaya, selama niat dijaga dan hati diluruskan, Allah Subhanahu Wata'alla.akan menjadikan sekecil apa pun peran kita bernilai ibadah.

Semoga saya mampu menjadi “BUSA” yang membawa manfaat, membersihkan, menenangkan, dan mengajak pada kebaikan. Untuk Esmega, untuk para guru, untuk para karyawan untuk siswa-siswi, dan untuk diri saya sendiri khususnya. Semoga setiap langkah dalam dunia pendidikan ini selalu berada dalam ridha-Nya. Aamiin. Terimakasih Teman-teman.

Cepu, 10 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar