Karya: Gutamining Saida
Suasana kembali santai, saya sengaja membuka media sosial dan mengunggah sebuah foto. Foto sederhana kebersamaan keluarga besar Esmega. Foto itu diambil setelah makan siang bersama di Klotok, dalam rangka syukuran. Bukan sekadar dokumentasi, tetapi kenangan tentang rasa yaitu tawa, kebersamaan, dan nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan.
Di luar dugaan, beberapa detik kemudian, notifikasi mulai berdatangan. Satu pesan masuk, disusul pesan lain, lalu semakin banyak. Hati saya yang semula tenang, perlahan terasa hangat. Saya membaca satu per satu komentar yang muncul. Ada rasa syukur yang tiba-tiba membuncah, karena ternyata foto sederhana itu mampu mengetuk banyak hati.
Yang mengomentari bukan hanya rekan kerja yang masih satu lingkungan. Ada siswa-siswi yang sudah tidak saya ajar lagi. Ada tetangga. Bahkan ada teman semasa kecil yang sudah lama tidak berjumpa. Mereka semua hadir lewat kata-kata sederhana di layar ponsel. Saat itu saya tersadar, bahwa silaturahmi tidak selalu harus bertatap muka. Allah Subhanahu Wata'alla memberikan jalan lain, lewat media sosial, untuk menjaga rasa peduli dan saling mengingatkan.
Pesan-pesan chats yang masuk diantaranya tertulis,
Masih banyak lagi pesan yang masuk, beragam gaya dan nada, namun satu makna yang sama bahwa mereka masih mengingat saya. Mereka masih peduli. Mereka meluangkan waktu untuk sekadar menjawab tantangan kecil yang saya buat.
Saya terdiam sejenak. Dalam hati, saya berucap, “Ya Allah, ternyata Engkau masih menitipkan namaku di ingatan banyak orang.” Sebuah nikmat yang sering kali luput disadari. Bukankah salah satu bentuk rezeki yang besar adalah ketika kita masih diingat dengan baik oleh orang lain?
Saya sadar, waktu telah membawa kami ke jalan masing-masing. Ada yang sudah tidak satu tempat kerja. Ada siswa yang telah naik jenjang, bahkan mungkin sudah lupa pada sebagian pelajaran yang pernah saya sampaikan. Perhatian kecil itu menjadi bukti bahwa hubungan manusia tidak selalu terputus oleh jarak dan waktu. Jika niatnya baik, Allah Subhanahu Wata'alla yang akan menjaga benangnya.
Rasa bahagia perlahan hadir. Bukan bahagia yang meledak-ledak, melainkan bahagia yang tenang. Bahagia karena merasa tidak sendiri. Bahagia karena masih dianggap ada. Bahagia karena kebaikan kecil yang pernah ditanam, rupanya tumbuh menjadi ingatan yang hangat di hati orang lain.
Saya merenung. Mungkin selama ini saya mengira bahwa pengaruh seorang guru hanya berhenti di ruang kelas. Ternyata tidak. Kadang pengaruh itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu sapaan, komentar, atau sekadar keinginan untuk menjawab sebuah tantangan kecil. Semua itu adalah anugerah dari Allah Subhanahu Wata'alla, bukan karena kehebatan diri, melainkan karena izin-Nya.
Dalam keheningan sore, saya kembali bersyukur. Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kebahagiaan lewat cara yang tidak saya rencanakan. Saat hati berharap, Allah Subhanahu Wata'alla mengirimkannya lewat banyak tangan dan banyak kata. Tidak megah, tidak besar, tetapi cukup untuk menguatkan.
Saya teringat satu doa: “Ya Allah, jadikanlah aku pribadi yang kehadiranku dirindukan dan ketiadaannya dicari.” Dan hari itu, lewat media sosial, saya merasakan sedikit dari jawaban doa tersebut. Bukan untuk berbangga, tetapi untuk semakin rendah hati.
Saya pun belajar satu hal bahwa bahagia hadir lewat komentar singkat, lewat sapaan lama yang muncul kembali, lewat perhatian yang tak disangka-sangka. Semua itu adalah tanda kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali datang diam-diam.
Saya menutup ponsel dengan senyum kecil. Hati terasa lebih ringan. Rasa bahagia yang saya harapkan, ternyata Allah Subhanahu Wata'alla kabulkan dengan cara-Nya sendiri. Saya mengucap syukur, semoga perhatian itu menjadi pengingat agar saya tetap menjaga niat, tetap berbuat baik, dan tetap menyambung silaturahmi, baik secara nyata maupun lewat ruang maya. Ketika manusia saling mengingat dalam kebaikan, di situlah Allah Subhanahu Wata'alla sedang membuka hati kita.
Cepu, 10 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar