Sabtu, 10 Januari 2026

Bahagia Sedih Tiada Sekat

 


Karya: Gutamining Saida

Sabtu siang itu terasa berbeda. Matahari bersinar terang, seolah ikut menyambut kebersamaan keluarga besar Esmega yang berkumpul dalam satu meja, satu ruang, satu rasa. Kami menghadiri acara makan siang bersama dalam rangka syukuran enam rekan baru yang resmi menyandang status PPPK. Sebuah nikmat yang patut dirayakan, sebuah pencapaian yang lahir dari doa panjang, kesabaran, dan perjuangan yang tak selalu mudah.

Saya duduk di kursi meja bertanda huruf “I”, bersama beberapa teman. Dari luar, saya tampak seperti yang lain: tersenyum, menyantap hidangan, ikut larut dalam obrolan ringan. Namun sesungguhnya, hanya raga saya yang hadir sepenuhnya di sana. Hati dan pikiran saya melayang jauh, menempuh jarak batin menuju Bojonegoro. Entah mengapa, hari itu rasa di dada begitu penuh, seakan Allah sedang menumpahkan berbagai warna takdir dalam satu waktu.

Beberapa kali tangan saya meraih ponsel. Bukan untuk sekadar berselancar, tetapi untuk membuka pesan yang membuat dada saya bergetar. Hingga akhirnya, Bu Wiwik menegur dengan suara lembut namun tegas, penuh kepedulian.

“Hayoo… makan tidak boleh sambil HP-an,” ujar beliau sambil tersenyum.

Saya hanya mengangguk pelan. Senyum saya berusaha bertahan, sementara hati saya berjuang menahan air mata agar tidak jatuh. Bu Wiwik memang sosok yang penuh perhatian. Satu per satu yang duduk di meja “I” tak luput dari pengamatannya. Teguran beliau bukan sekadar soal etika makan, tetapi wujud kasih sayang agar kami benar-benar hadir di momen kebersamaan itu.

“Ikan Bu Lala kok tidak dimakan?” tanya Bu Wiwik lagi, dengan nada heran namun penuh empati.

“Bu Lala ingat suaminya,” jawab Bu Indri singkat.

"Nasinya dihabiskan."ujar bu Wiwik

"Iya siap, biar keberkahan tidak hilang ya."saut bu Yanti.

"Ayo, kalau makan jangan ngomong terus."sela saya.

Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Saya semakin menyadari, bahwa di meja yang sama, dalam suasana yang sama, setiap orang membawa cerita hidupnya masing-masing. Ada yang sedang merayakan kebahagiaan, ada yang menyimpan luka, ada pula yang belajar ikhlas atas kehilangan. Benarlah firman Allah Subhanahu Wata'alla, bahwa hidup ini adalah percampuran antara ujian dan nikmat. Keduanya datang silih berganti, bahkan sering kali bersamaan.

Saya pun mengalaminya hari itu. Senang dan sedih tanpa sekat. Bahagia karena bisa berkumpul, bersyukur karena rekan-rekan mendapatkan amanah baru sebagai PPPK, namun di saat yang sama hati saya digelayuti rasa sedih mendalam. Kabar tentang ibu datang di saat yang tak terduga. Di tengah riuh tawa dan suara sendok beradu dengan piring, Allah Subhanahu Wata'alla menyisipkan ujian kecil namun terasa berat di dada.

Saya terdiam sejenak, menundukkan kepala. Dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak mampu aku ucapkan.” Saya teringat bahwa setiap takdir, baik yang manis maupun pahit, tidak pernah hadir tanpa izin-Nya. Bahkan air mata pun adalah bahasa doa yang paling jujur.

Makanan di hadapan saya terasa tetap nikmat, namun ada rasa haru yang menyertainya. Saya belajar bahwa bersyukur bukan berarti meniadakan kesedihan. Bersyukur adalah menerima bahwa Allah Subhanahu Wata'alla memberi nikmat di satu sisi, dan menguji di sisi lain. Keduanya sama-sama tanda cinta-Nya. Bukankah Rasulullah mengajarkan, bahwa urusan orang beriman itu sungguh menakjubkan? Ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika ditimpa musibah ia bersabar, dan keduanya bernilai kebaikan.

Di meja “I” itu, saya belajar tentang empati, tentang kebersamaan yang tidak selalu harus riuh. Kadang, cukup dengan duduk bersama, saling menegur dengan lembut, saling memahami tanpa banyak tanya. Saya merasa dikuatkan oleh kehadiran mereka, meski mungkin mereka tak sepenuhnya tahu isi hati saya.

Acara makan siang itu pun perlahan usai. Pelajaran hidup yang saya petik tidak berhenti di sana. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah dua sahabat perjalanan iman. Keduanya mengingatkan kita untuk selalu kembali pada-Nya. Bahwa di tengah tawa, jangan lupa berdoa. Di tengah air mata, jangan lupa berharap.

Saya pulang dengan hati yang lebih lapang. Masih ada sedih, tentu. Ada pula rasa syukur yang tumbuh lebih dalam. Saya bersyukur atas kebersamaan, atas perhatian Bu Wiwik, atas kejujuran rasa Bu Lala, dan atas pengingat halus dari Allah Subhanahu Wata'alla bahwa hidup ini bukan tentang memilih bahagia atau sedih, melainkan tentang tetap beriman di keduanya. Allah Subhanahu Watalla selalu hadir, bahkan di antara suapan nasi dan air mata yang hampir jatuh.

Cepu, 10 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar