Di dekat pintu, perhatian saya tertuju pada dua siswi yang duduk berdampingan. Mereka duduk rapat, seakan ingin saling menguatkan. Yang pertama adalah Natasya. Saya mengenalnya sebagai siswa yang sebelumnya tergabung di kelas 7F dan 7G sebelum akhirnya masuk ke 7C setelah proses pengacakan kelas. Di sampingnya duduk Nuraini dan Nur. Dua pasang anak ini bukanlah kembar secara biologis, namun memiliki kesamaan yang sering membuat orang tersenyum yaitu kembar nama. Sebuah kebetulan yang indah, pagi ini belum sepenuhnya mampu menghadirkan senyum di wajah mereka.
Raut muka keempatnya tampak sendu. Mata mereka menyimpan kegamangan, seperti sedang bertanya dalam hati, “Mengapa harus berpisah?” Saya tahu betul, bagi anak-anak seusia mereka, perpisahan dengan teman yang sudah akrab bukan perkara sepele. Teman bukan sekadar kawan belajar, melainkan tempat berbagi cerita, tawa, dan rasa aman. Ketika lingkungan berubah secara tiba-tiba, hati pun perlu waktu untuk menata ulang.
Saya sadar, perubahan ini bukan hanya soal administrasi kelas, melainkan juga ujian batin bagi anak-anak. Di sinilah saya kembali diingatkan bahwa setiap peristiwa, sekecil apa pun, selalu berada dalam rencana Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada satu pun yang kebetulan. Pengacakan kelas, pertemuan dengan teman baru, bahkan rasa sedih yang menyelinap di pagi hari, semuanya adalah bagian dari skenario-Nya untuk mendewasakan jiwa.
Saya lalu mengajak mereka untuk sejenak menundukkan kepala. “Anak-anak, mari kita berdoa,” ujar saya. Suasana kelas mendadak lebih tenang. Dalam doa, saya memohon agar Allah Subhanahu Wata'alla melembutkan hati mereka, menenangkan jiwa yang gundah, dan menanamkan rasa ikhlas atas ketetapan-Nya. Saya berdoa agar mereka diberi kemampuan untuk beradaptasi, sebagaimana Rasulullah mengajarkan umatnya untuk selalu siap menghadapi perubahan dengan sabar dan tawakal.
Saya sampaikan kepada mereka bahwa hidup ini adalah madrasah panjang. Allah Subhanahu Wata'alla seringkali memindahkan kita dari satu “kelas” ke kelas yang lain bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menguatkan. Jika hari ini mereka dipertemukan dengan teman-teman baru, itu artinya Allah Subhanahu Wata'alla sedang membuka pintu rezeki berupa pengalaman, persahabatan, dan pelajaran hidup yang lebih luas.
“Nak,” kata saya pelan, “boleh jadi hari ini terasa berat karena kalian harus berpisah dengan teman lama. Tapi percayalah, Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah mengambil sesuatu kecuali Dia sudah menyiapkan pengganti yang lebih baik, atau pelajaran yang lebih bermakna.”
Saya melihat Natasya mulai mengusap matanya. Nuraini dan Nur mengangguk perlahan. Ada cahaya kecil yang mulai tumbuh di wajah mereka, meski belum sepenuhnya menghapus kesedihan. Saya tahu, proses adaptasi tidak bisa instan. Bahkan orang dewasa pun sering kali memerlukan waktu untuk menerima perubahan.
Saya kemudian mengajak seluruh kelas untuk saling mengenal. Saya tekankan bahwa kelas 7C bukan sekadar kumpulan siswa yang dipertemukan secara acak, melainkan keluarga baru yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan untuk saling belajar, menguatkan, dan menumbuhkan prestasi. Saya mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kelebihan masing-masing, dan tugas kita adalah saling melengkapi, bukan saling menutup diri.
Di akhir jam pelajaran, saya kembali melihat ke arah mereka. Kini, meski senyum belum sepenuhnya merekah, ada keteguhan yang mulai tumbuh. Semoga doa-doa yang terucap pagi itu menjadi energi kebaikan. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menanamkan kesabaran dalam hati mereka, mengganti rasa sedih dengan semangat, dan menjadikan kelas 7C sebagai ladang amal, ladang prestasi, dan ladang tumbuhnya karakter yang kuat.
Saya percaya, suatu hari nanti, mereka akan mengenang momen ini bukan sebagai hari kesedihan, melainkan sebagai titik awal perjuangan. Awal dari proses pendewasaan, pembelajaran tentang ikhlas, dan keyakinan bahwa bersama Allah Subhanahu Wata'alla, setiap langkah adaptasi akan selalu bermuara pada kebaikan
Cepu, 7 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar