Karya : Gutamining Saida
Refresing sejenak di sela waktu. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Refresing bukan sekadar jalan-jalan atau melepas penat, melainkan upaya memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas. Dalam kesibukan yang kadang terasa seperti lomba tanpa garis akhir, refresing menjadi jeda yang menenangkan. Ia adalah cara halus untuk berdamai dengan diri sendiri, merawat raga, menyejukkan mata, sekaligus menenteramkan hati.
Bagi seorang wanita, diajak refresing sering kali bukan perkara sulit. Bukan karena ingin berfoya-foya, tetapi karena naluri hati ingin merasakan bahagia dengan cara yang sederhana. Seperti saya. Jika ada waktu luang, rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja. Tidak perlu jauh, tidak harus mahal. Yang terpenting adalah niat: membahagiakan diri sendiri agar kelak bisa membahagiakan orang lain dengan hati yang utuh.
Siang itu, matahari bersinar cukup terik, namun tidak mengurangi semangat kami bertiga. Dengan niat sederhana, kami melangkah menuju tempat Bu Nikmah. Sebuah tempat budidaya jamur tiram yang jauh dari hiruk pikuk kota. Jalan yang kami lalui biasa saja, bahkan mungkin tidak menarik bagi sebagian orang. Namun bagi kami, setiap langkah adalah bagian dari perjalanan hati.
Sesampainya di lokasi, suasana sejuk langsung menyambut. Bangunan kumbung jamur berdiri rapi. Udara terasa lebih bersih, lebih jujur. Di sanalah kami diperbolehkan memetik jamur tiram sendiri. Aktivitas yang mungkin terdengar remeh, tetapi bagi kami terasa begitu istimewa.
Saat tangan ini menyentuh jamur tiram yang tumbuh dari media tanamnya, ada rasa takjub yang sulit diungkapkan. Jamur-jamur itu tumbuh berkelompok, putih bersih, sebagian besar sudah siap panen, sebagian lain masih kecil, baru menyembulkan diri. Dari yang kecil itulah hati ini belajar. Bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu. Tidak semua yang hari ini tampak sederhana, akan selamanya kecil. Allah menumbuhkan segalanya sesuai takaran dan waktunya.
Kami berdua memetik jamur sambil tersenyum. Sesekali tertawa ketika menemukan jamur yang bentuknya unik. Ada kebahagiaan yang muncul bukan karena hasil panennya semata, tetapi karena prosesnya. Kami merasa dilibatkan langsung dalam rezeki itu. Tidak sekadar membeli, tetapi menyentuh, melihat, dan merasakan sendiri bagaimana nikmat Allah Subhanahu Wata'alla hadir melalui tangan-tangan manusia yang tekun bekerja.
Tak lupa, kami mengabadikan momen. Berfoto sambil memegang jamur yang baru saja dipetik. Foto yang mungkin tidak estetik menurut standar media sosial, tetapi sangat bermakna bagi kami. Karena di balik senyum yang tertangkap kamera, ada rasa syukur yang tulus. Syukur masih diberi waktu luang. Syukur masih diberi kesehatan. Syukur masih diberi kesempatan tertawa bersama.
Saat jamur yang kami petik ditimbang, terjadi hal kecil yang justru membekas di hati. Ada kelebihan timbangan, namun tidak dihitung dalam harga oleh bu Nikmah. Bu Nikmah tersenyum, seolah berkata tanpa kata, “Saya hitung setengah kilo gram saja.” Seketika hati terasa hangat. Rezeki memang tidak selalu datang dalam bentuk besar dan mencolok. Kadang ia hadir sebagai kelebihan kecil, yang jika disyukuri, justru meninggalkan kesan mendalam.
Di sanalah kami belajar tentang makna rezeki. Bahwa rezeki bukan hanya soal uang atau barang, tetapi juga pengalaman, kebersamaan, dan rasa cukup. Allah menitipkan kebahagiaan melalui hal-hal sederhana, agar manusia tidak sombong dan tetap membumi.
Refresing siang itu pun usai tanpa rasa lelah. Justru hati terasa lebih ringan. Kami pulang membawa jamur tiram, foto kenangan, dan cerita yang akan terus diingat. Cerita tentang bagaimana Allah menghadirkan kebahagiaan tanpa perlu rencana rumit. Tentang bagaimana syukur membuat hal kecil terasa besar. Tentang bagaimana jeda sejenak bisa menjadi ibadah, jika diniatkan untuk merawat amanah tubuh dan jiwa.
Refresing bukan pelarian dari tanggung jawab, melainkan penguat untuk kembali menjalani peran dengan lebih ikhlas. Karena hati yang bahagia akan lebih mudah bersyukur, dan jiwa yang tenang akan lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Di antara jamur tiram yang kami petik sendiri, saya kembali yakin bahwa kebahagiaan tidak selalu menunggu di tempat jauh. Ia sering kali tumbuh diam-diam, di tempat sederhana, menunggu untuk dipetik oleh hati yang mau bersyukur.
Cepu, 13 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar