Sabtu, 13 Desember 2025

Car Free Day dan Grebek Gunungan

 


Karya: Gutamining Saida

Ahad pagi, 14 Desember 2025, udara Cepu terasa lebih bersahabat dari biasanya. Langit cerah seakan ikut memberi restu atas kegiatan Car Free Day dan Grebek Gunungan yang digelar di sepanjang Jalan Pemuda. Sebuah kesempatan langka yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Dalam hati saya berucap syukur, Alhamdulillah, masih diberi kesehatan dan waktu untuk menikmati pagi dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Pukul 06.00 WIB, saya berangkat dari rumah dengan bonceng sepeda motor. Jalanan terasa lebih lengang, tidak seperti hari biasa yang dipenuhi kendaraan lalu lalang. Ada rasa lega sekaligus bahagia, karena pagi itu jalan bukan lagi milik mesin, melainkan milik manusia untuk berjalan, bercengkerama, dan bersyukur bersama.

Motor kami parkirkan di dekat apotek. Dari sana, langkah kaki mulai menelusuri jalan ke arah timur, lalu berbalik ke barat menuju pusat gunungan. Di sepanjang jalan, mata saya dimanjakan oleh berbagai pemandangan yang akrab namun tetap mengundang rindu. Aneka jajanan dan minuman berjajar rapi, dari yang jadul hingga kekinian. Ada aroma gorengan yang menggoda, wedang hangat yang mengepul, hingga minuman modern dengan warna-warni menarik. Semuanya seakan menyapa, mengingatkan bahwa rezeki Allah Subhanahu Wata'alla tersebar dalam berbagai bentuk dan rasa.

Selain kuliner, ada pula lapak-lapak kecil yang menjual aksesori ponsel, gantungan kunci, gelang, jilbab, kaos kaki hingga daster. Tak ketinggalan mainan anak-anak, topi, sandal, dan pernak-pernik sederhana lainnya. Saya hanya melihat sambil berjalan pelan. Tidak ada keinginan untuk membeli. Dalam hati saya berusaha menahan diri, mengingatkan bahwa tidak semua yang terlihat menarik harus dimiliki. Bukankah salah satu bentuk syukur adalah mampu mengendalikan keinginan?

Grebek Gunungan sendiri menjadi pengingat kuat akan tradisi syukur masyarakat. Gunungan bukan sekadar hasil bumi yang disusun indah, tetapi simbol doa dan harapan. Bahwa manusia hanyalah perantara, sementara Allah-lah Sang Maha Pemberi Rezeki. Saya menyaksikan keramaian dengan perasaan hangat. Ada kebersamaan, ada senyum, ada doa yang mungkin terucap lirih di dada masing-masing.

Saat langkah mulai berbalik arah untuk pulang, sesuatu tiba-tiba menghentikan perhatian saya. Sebuah lapak kecil penjual ikan cupang. Gerak kaki saya melambat, lalu berhenti. Mata saya berselancar dari ujung ke ujung pajangan cupang yang ditata rapi dalam wadah-wadah kecil. Warna-warni ikan itu seakan menari, hidup, dan memancarkan keindahan ciptaan Allah yang sering kali luput dari perhatian kita.

Hati saya tergerak. Ada rasa ingin tahu, lalu saya pun bertanya harga. Penjualnya ramah dan cekatan. Dengan senyum yang tidak dibuat-buat, ia mulai menawarkan dagangannya.
“Ini cupang ukuran besar, Bu. Warnanya bagus-bagus,” katanya penuh keyakinan.
“Siripnya juga bagus, pegang nggak apa-apa,” tambahnya sambil menyodorkan salah satu cupang.

Saya tersenyum. Bukan hanya karena rayuannya, tetapi karena saya melihat semangat mencari rezeki yang halal. Ia berdagang dengan sopan, jujur, dan tetap ramah. Dalam hati saya berdoa, semoga Allah melapangkan rezekinya hari itu.

Akhirnya, berkat kata-kata yang santun dan mungkin juga takdir yang telah dituliskan, saya memilih satu cupang berwarna biru. Warnanya tenang, dalam, seperti mengajak hati untuk ikut meneduh. “Ya  saya ambil yang ini,” kata saya. Niat saya sederhana, hanya untuk menambah koleksi di rumah.

Dalam perjalanan pulang, saya kembali mengucap syukur. Allah sering menghadirkan kebahagiaan dari hal-hal kecil yang tak terduga. Seekor ikan cupang pun bisa menjadi perantara rasa bahagia, jika hati kita mau menerima dengan ikhlas.

Sesampainya di rumah, cupang biru itu saya letakkan di meja kamar. Saat waktu santai tiba, saya duduk memandangi gerakannya. Siripnya mengembang perlahan, berenang tenang dalam wadah kecilnya. Saya terdiam, hati terasa damai. Dari seekor cupang, saya belajar tentang kepasrahan. Ia hidup dalam keterbatasan ruang, namun tetap bergerak indah, tanpa keluh, tanpa protes.

Saya pun merenung. Bukankah manusia sering kali diberi ruang yang jauh lebih luas, tetapi masih saja merasa sempit oleh keluhan? Cupang itu seolah mengajarkan untuk tetap bersyukur di kondisi apa pun, karena Allah selalu punya cara menghadirkan keindahan dalam hidup hamba-Nya.

Car Free Day, Grebek Gunungan, dan seekor cupang biru menjadi rangkaian nikmat yang sederhana namun penuh makna. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, tetapi dari hati yang mau bersyukur dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah dalam setiap detik kehidupan'

Cepu, 14 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar