Saya mengajak cucu-cucu keluar, bukan untuk jalan jauh tetapi untuk melihat satu makhluk kecil ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang sering luput dari perhatian yaitu kura-kura. Kegiatan sederhana, namun saya berharap dari hal kecil ini akan tumbuh rasa kagum, keberanian, dan syukur dalam hati mereka.
Beberapa hari sebelumnya, salah satu cucu sempat memilih mewarnai gambar kura-kura. Warnanya hijau, dengan tempurung coklat. Saat itu kura-kura hanya hadir dalam bentuk gambar, imajinasi, dan cerita. Kini berbeda. Mereka bisa melihat langsung, merasakan tekstur tempurungnya, dan menyadari bahwa apa yang dulu hanya ada di kertas, ternyata benar-benar hidup dan bernapas.
Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan makhluk-Nya tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dipelajari sebagai tanda kebesaran-Nya. Saat kura-kura dikeluarkan dari tempatnya, cucu-cucu mendekat dengan jarak aman. Mata mereka berbinar, namun tubuh sedikit mundur. Rasa ingin tahu bercampur takut. Ada yang berani melangkah satu langkah, ada pula yang memilih diam sambil mengamati. Tidak semua keberanian harus dipaksa. Keberanian sejati tumbuh perlahan, sebagaimana iman yang juga tumbuh setahap demi setahap.
Hamzah berdiri paling depan. Awalnya tangan hanya menggantung di udara. Ia memperhatikan kura-kura dengan saksama. Geraknya pelan, kepalanya keluar masuk tempurung. Hamzah menelan ludah, lalu bertanya pelan, “Ini kura-kura ya?” Saya mengangguk sambil menjawab, “Iya, Nak. Salah satu ciptaan Allah yang sabar dan tenang.” Kata “sabar” sengaja saya pilih, agar ia tidak hanya melihat hewan kura-kura, tetapi juga menangkap nilai.
Perlahan, tangan kecil Hamzah mendekat. Awalnya hanya ujung jari yang menyentuh tempurung. Ia tersentak sedikit, lalu tertawa kecil. Tidak sakit, tidak menakutkan. Dari ujung jari, tangannya semakin berani. Hingga akhirnya ia memegang dan mengangkat kura-kura dengan hati-hati. Saya mengingatkan, “Pelan-pelan, Nak. Semua makhluk Allah harus diperlakukan dengan kasih sayang.” Hamzah mengangguk. Di wajahnya terlihat rasa bangga. Bukan karena berhasil mengangkat kura-kura, tetapi karena ia berhasil mengalahkan rasa takutnya sendiri.
Cucu-cucu yang lainnya Zaskia dan Emira belum berani memegang. Mereka memilih mengamati dari dekat. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan keberanian dan kecepatan yang berbeda-beda. Ada yang cepat melangkah, ada yang perlu waktu lebih lama. Yang penting adalah niat untuk belajar dan tidak menertawakan yang lain. Saya bersyukur mereka saling menghargai.
Pertanyaan demi pertanyaan pun bermunculan. “Ada berapa kura-kuranya?” “Makannya apa?” “Yang besar ada lagi tidak?” Pertanyaan polos itu saya jawab satu per satu. Saya jelaskan bahwa kura-kura makan sayur, buah, dan makanan tertentu. Ada yang besar karena usianya lebih lama.
Ada yang kecil karena masih muda. Saya sengaja menyelipkan pesan, bahwa semua makhluk Allah tumbuh sesuai waktu-Nya. Tidak perlu iri, tidak perlu tergesa-gesa.
Saya katakan pada mereka, “Kura-kura ini bergeraknya pelan, tapi umurnya panjang. Allah mengajarkan kita bahwa hidup tidak harus cepat, yang penting istiqamah dan sabar.” Mereka mungkin belum sepenuhnya paham, tetapi benih makna sudah saya titipkan. InsyaAllah suatu hari akan tumbuh.
Warna kura-kura kami perhatikan. Ada yang hijau, ada yang coklat. Ada yang tempurungnya lebih gelap, ada yang lebih terang. Saya mengaitkan dengan kehidupan manusia. “Lihat, nich. Warnanya berbeda-beda, tapi semuanya kura-kura. Seperti manusia, meski berbeda rupa, tetap sama-sama ciptaan Allah.” Mereka mengangguk, mungkin sambil mencerna dengan cara mereka sendiri.
Kegiatan itu berlangsung singkat, namun sarat makna. Tidak ada teriakan, tidak ada paksaan. Yang ada hanya dialog, sentuhan keberanian, dan rasa ingin tahu yang terjawab. Saya menutup kegiatan dengan mengajak mereka mengucap hamdalah. “Alhamdulillah, Allah memberi kita ilmu baru.” Mereka mengikuti, meski dengan logat anak-anak yang masih lucu.
Di dalam hati saya berdoa, semoga pengalaman sederhana ini menjadi bagian dari perjalanan iman mereka. Semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berani, penyayang, dan selalu melihat alam sebagai ayat-ayat Allah yang hidup. Karena sejatinya, pendidikan tidak selalu tentang buku dan kelas. Kadang ia hadir lewat kura-kura kecil yang bergerak pelan, namun mengajarkan kesabaran, keberanian, dan syukur yang dalam.
Cepu, 25 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar