Karya : Gutamining Saida
Liburan akhir tahun sering kali identik dengan perjalanan jauh, koper besar, tiket mahal, dan unggahan foto-foto indah di media sosial. Layar ponsel saya dipenuhi story teman-teman: ada yang ke Semarang menikmati hiruk-pikuk kota, ada yang ke Surabaya menjelajah sudut-sudut kota modern, bahkan ada pula yang berlibur hingga ke luar negeri. Senyum mereka terlihat bahagia, latar belakang foto tampak megah, penuh warna dan cahaya. Saya ikut tersenyum melihatnya. Tidak ada rasa iri, hanya sebuah jeda untuk merenung dan mengingat kembali arti cukup dalam hidup.
Liburan saya tidak perlu ke luar kota yang jauh. Cukup yang dekat-dekat saja. Bahkan, hanya dengan melintas jembatan pembatas antar provinsi, saya sudah sampai di Provinsi Jawa Timur. Begitulah enaknya bagi orang yang tinggal di wilayah perbatasan. Tidak perlu waktu lama, tidak perlu biaya besar, sudah bisa merasakan suasana yang berbeda.
Sejatinya, tujuan utama liburan saya bukanlah tempat, melainkan kebersamaan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Saya bersyukur tinggal di tempat yang sederhana, tidak bising, tidak penuh tuntutan gaya hidup. Dari rumah, saya bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu berlarian dengan wajah ceria. Tawa mereka menjadi musik terindah yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun. Dalam hati saya berucap, “Ya Allah, inikah yang dinamakan cukup?” Dan jawabannya terasa jelas yaitu iya, ini lebih dari cukup.
Salah satu momen yang paling saya syukuri adalah ketika kami berhenti di pinggir waduk. Airnya tenang, angin berhembus pelan, memantulkan cahaya matahari sore yang lembut. Kami duduk berdampingan, anak, cucu, dan saya, tanpa sekat kesibukan. Di situlah kami mengambil foto bersama, bukan untuk pamer, tetapi untuk mengabadikan kebersamaan. Wajah-wajah sederhana itu tersenyum apa adanya, tanpa pose berlebihan, tanpa latar mewah.
Kami hanya berjalan santai, menikmati udara, sesekali berhenti, termasuk di pinggir waduk itu, untuk berbincang dan berfoto bersama. Sambil duduk di pinggir waduk, kami menikmati makanan kecil yang dibawa dari rumah. Ada jajanan sederhana, minuman hangat, dan tawa yang mengalir begitu saja. Anak-anak bercerita tentang hal-hal ringan, cucu-cucu menyela dengan pertanyaan polos, sementara saya lebih banyak mendengar.
Dari cerita-cerita kecil itulah saya belajar bahwa kebahagiaan sejati sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak megah, tidak mahal, tetapi menghangatkan hati. Bahwa setiap hari, sekecil apa pun nikmatnya, pantas disyukuri. Kami tidak pergi ke tempat wisata terkenal. Tidak ada antrean panjang, tidak ada tiket masuk mahal. Foto-foto itu mungkin tidak akan viral, tetapi kelak akan menjadi kenangan berharga. Sebab waktu tidak bisa diulang, dan kebersamaan tidak selalu datang dua kali.
Saya memandangi wajah anak-anak saya. Dulu mereka kecil, kini sudah dewasa, sebagian telah menjadi orang tua. Waktu begitu cepat berlalu. Kini giliran cucu-cucu yang memenuhi hidup dengan keriuhan dan tanya yang tiada habisnya. Saya belajar satu hal penting bahwa kebahagiaan tidak selalu bertambah dengan banyaknya tempat yang dikunjungi, tetapi dengan banyaknya rasa syukur yang dirasakan.
Saya beristighfar betapa sering kita manusia merasa kurang hanya karena membandingkan hidupnya dengan orang lain. Padahal Allah Subhanahu Wata'alla telah membagi rezeki dengan sangat adil, sesuai kebutuhan masing-masing hamba. Ada yang diberi rezeki berupa harta berlimpah, ada yang diberi rezeki berupa perjalanan jauh, dan ada pula yang diberi rezeki berupa keluarga yang rukun dan saling menyayangi.
Saya merasa, Allah Subhanahu Wata'alla menitipkan pada saya rezeki yang sangat mahal yaitu kebersamaan. Liburan ini mengajarkan kembali makna qana’ah, merasa cukup atas apa yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Bahagia bagi saya tidak harus pergi jauh, tidak harus mengeluarkan banyak uang. Bahagia bagi saya adalah bisa duduk bersama anak dan cucu di pinggir waduk, berbagi cerita, menikmati makanan kecil, dan tertawa tanpa beban. Itu adalah kebahagiaan yang tenang, tidak riuh, tetapi mengendap lama di hati.
Saat sore menjelang, matahari perlahan turun, langit berubah warna. Saya mengajak anak-anak untuk sejenak diam, merenungi hari. Saya berkata pelan, “Liburan bukan tentang ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita pulang membawa kenangan.” Mereka mengangguk, mungkin belum sepenuhnya memahami, tetapi saya yakin suatu hari kalimat itu akan menemukan maknanya sendiri.
Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar kebersamaan ini diberkahi, dipanjangkan umurnya, dan ditanamkan rasa syukur yang tidak mudah goyah. Saya berdoa agar anak dan cucu saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak silau oleh dunia, tetapi kuat imannya dan lapang hatinya.
Liburan ini sederhana, tetapi penuh makna. Tidak ada yang istimewa, tetapi sangat istimewa di mata hati. Dan saya percaya, kebahagiaan yang lahir dari rasa syukur akan selalu terasa cukup, meski tanpa jarak yang jauh dan biaya yang besar. Karena sejatinya, bahagia adalah ketika hati merasa dekat dengan Allah Subhanahu Wata'alla dan keluarga.
Cepu, 25 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar