Senin, 22 Desember 2025

Kreasi Dengan Tepung Roti



 Karya: Gutamining Saida

Sinar matahari menembus sela-sela jendela, seolah ikut menyapa cucu-cucu saya yang berlarian kecil di ruang tamu. Libur sekolah memberi mereka waktu lebih lama di Cepu. Saya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar bermain, tetapi juga belajar, berkarya, dan mengenal makna syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla melalui hal-hal sederhana.

Saya mengajak mereka duduk  di ruang keluarga. Di depan kami sudah tersusun rapi bahan-bahan yang mungkin bagi mereka tidak terlihat asing diantaranya  kertas bergambar hewan, buah-buahan, dobel tipe, dan tepung roti. Mata mereka berbinar, penuh rasa ingin tahu. “Timmi, kita akan membuat karya apa?” tanya Kakak Zaskia sambil tersenyum. "Kita mau membuat karya tanpa pensil warna."jawab saya. Mereka pun mengangguk antusias. "Caranya bagaimana Timmi?" tanya Hamzah. "Gampang," jawab saya. 

Saya mengajak membaca Basmalah sebelum mualai aktivitas. Sebab sekecil apa pun, patut diawali dengan menyebut nama Allah. Karya tangan juga bagian dari ibadah jika diniatkan dengan baik. Saya menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan hewan dan buah-buahan dengan sangat sempurna, beragam bentuk, warna, dan manfaatnya. Tugas kita adalah menghargai ciptaan-Nya dengan merawat dan menjaga keindahannya melalui karya sederhana.

Caranya sangat mudah. Kita tinggal menempelkan dobel tipe pada gambar, lalu menaburkan tepung roti di atasnya dengan rapi. Saya menekankan satu hal penting yaitu kesabaran. Tepung tidak boleh ditabur sembarangan. Jika ingin hasilnya bagus, tangan harus pelan, hati harus tenang. Saya melihat mereka mencoba menahan diri, belajar fokus, meski sesekali tepung tumpah ke mana-mana. Saya tersenyum. Dari kekacauan kecil itu, mereka belajar.

Sambil menemani, saya bercerita bahwa hidup juga seperti menabur tepung. Jika dilakukan dengan tergesa-gesa, hasilnya berantakan. Jika dilakukan dengan hati-hati dan niat baik, Allah Subhanahu Wata'alla akan memberi keindahan pada akhirnya. Mereka mendengarkan sambil terus berkarya. Sesekali saya membantu merapikan, bukan untuk mengambil alih, tetapi memberi contoh.

Satu per satu karya mulai terlihat hasilnya. Ada gambar ikan yang tampak unik, buah jeruk yang terlihat bertekstur, dan labu kuning yang meski tidak sempurna tetap membanggakan. Saya memuji usaha mereka, bukan hasil akhirnya. Saya ingin mereka memahami bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menilai proses dan kesungguhan hamba-Nya, bukan hanya hasil yang tampak indah di mata manusia.

Saat mereka selesai, saya mengajak mereka melihat karya masing-masing. Saya bertanya, “Bagaimana rasanya membuat mainan hari ini?” Salah satu cucu saya menjawab, “Senang, tapi capek Timmi.” Saya tertawa kecil dan menjelaskan bahwa setiap kebaikan memang butuh usaha. Belajar, beribadah, bahkan berbuat baik pun kadang melelahkan, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla selalu memberi balasan yang manis.

Selesai kegiatan saya mengajak membaca hamdalah. Saya bersyukur, tidak hanya karya itu terlihat bagus, tetapi karena pagi itu Allah Subhanahu Wata'alla memberi saya kesempatan menanamkan nilai sabar, syukur, dan cinta pada ciptaan-Nya melalui kegiatan sederhana. Saya berharap kenangan kecil ini kelak tumbuh menjadi pelajaran besar di hati mereka bahwa berkarya adalah bagian dari mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wata'alla, dan setiap tangan kecil pun mampu menghasilkan kebaikan jika diarahkan dengan cinta dan iman.

Cepu, 22 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar