Karya : Gutamining Saida
Hati seorang ibu mendadak panik ketika melihat handphone anak tidak aktif sejak pukul 22.30 hingga 05.00 WIB.
Pesan sudah dikirim, telepon berkali-kali dilakukan, hanya centang satu yang terlihat. Pikiran pun mulai dipenuhi berbagai kekhawatiran.
Kecemasan, ibu segera menghubungi anak pertama untuk meminta nomor telepon teman dekat Faiz yang sering bermain bersamanya, tinggal satu kota. Tujuan minta nomor dekat di Cepu.
Nomor pun diperoleh. Dengan hati-hati, ibu mengirim pesan, “Maaf mengganggu, Mbak. Saya uminya Faiz. Faiz bersama Mbak?”
Beberapa waktu ibu menunggu dengan cemas. Setiap beberapa menit, handphone kembali dilihat. Hingga akhirnya muncul tanda centang biru.
Ada setitik rasa lega. Setidaknya pesan sudah terbaca dan mungkin sebentar lagi ada kabar.
Balasan yang datang justru membuat hati kembali berdebar.
“Tidak, Bu. Chat saya semalam juga belum dibalas.”
Seribu pikiran kembali berkelindan. Belum ada titik terang tentang keberadaan Faiz.
Ibu kemudian mencoba mencari cara lain. Tetangga yang rumahnya dekat dengan rumah Faiz pun dihubungi.
“Tolong lihatkan rumah, Bu?”
Tak lama kemudian, balasan masuk.
“Lampu masih nyala.”
Sedikit informasi itu belum cukup menenangkan. Ibu kembali bertanya, “Motor ada?”
“Motor hanya satu,” jawab tetangga.
“Motor putih nggak ada?” tanya ibu lagi, berharap dari kendaraan itu bisa diketahui apakah Faiz berada di rumah atau sedang pergi.
Pagi terasa begitu panjang. Seorang ibu hanya membutuhkan satu hal sederhana kabar anaknya baik-baik saja.
Hingga sekitar pukul 06.05, tiba-tiba sebuah chat masuk dari Faiz.
“Habis subuh berangkat.”
Sesederhana itu kalimatnya. Bagi seorang ibu yang sejak pagi diliputi kecemasan, pesan singkat tersebut terasa seperti disiram air dingin ke tubuh yang panas creees! Seketika dada terasa lapang. Napas yang sejak tadi tertahan seolah kembali normal.
Kekhawatiran yang memenuhi kepala perlahan luruh, berganti dengan rasa syukur.
Keadaan anak baik-baik saja. Ia hanya berangkat setelah salat Subuh dan mungkin tidak menyadari ada seorang ibu yang sejak pagi menunggu kabarnya dengan penuh kecemasan.
Dari kejadian ini seorang ibu kembali belajar kasih sayang sering kali hadir dalam bentuk kekhawatiran. Anak mungkin menganggap sebuah pesan hanyalah kabar biasa, bagi ibu, satu pesan bisa menjadi penawar kecemasan, bahkan mampu mengubah air mata menjadi senyum.
Kejadian itu mengajarkan kabar kecil bisa memiliki arti yang sangat besar bagi seseorang yang mencintai kita.
Alhamdulillah.
Satu kabar dari anak, seribu syukur bagi seorang ibu.
Kudus, 22 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar