Karya: Gutamining Saida
“Lala,” begitu biasanya saya menyapanya. Nama lengkapnya cukup indah dan mudah diingat, Chrestella Giovanna Yunianto. Nama bukan sekadar rangkaian kata yang melekat pada seseorang. Nama adalah identitas, doa, harapan, sekaligus bagian kecil dari perjalanan hidup yang kelak akan menjadi kenangan.
Lala adalah salah satu peserta didik yang rajin mengikuti pembelajaran yang saya ampu. Ia hadir, memperhatikan, mengerjakan tugas dengan telaten, dan berusaha menyelesaikannya tepat waktu. Bagi seorang guru, hal-hal seperti itu mungkin terlihat sederhana. Di balik sebuah tugas yang selesai tepat waktu, ada tanggung jawab, kedisiplinan, dan kesungguhan seorang anak dalam menjalani proses belajar.
Saya selalu percaya bila keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang mampu disampaikan kepada peserta didik. Keberhasilan dapat terlihat dari bagaimana seorang guru mampu menumbuhkan semangat belajar, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan kebahagiaan dalam diri anak-anak yang didampinginya.
Lala mengajarkan saya tentang hal sederhana. Setiap kali tugas selesai dikerjakan, ia mengumpulkannya dengan penuh perhatian. Tidak asal selesai, tetapi dikerjakan dengan telaten. Ketika waktunya mengumpulkan tugas tiba, ada satu kebiasaan kecil yang membuat saya tersenyum.
“Bu, boleh foto?”
Ia meminta saya memotretnya sebagai bukti bahwa ia sudah mengumpulkan tugas. Bukan hanya sekadar bukti, tetapi menurutnya foto itu juga bisa menjadi sesuatu yang abadi. Permintaan sederhana, menyimpan makna yang dalam.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang besar sehingga lupa bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal kecil. Sebuah foto, sebuah senyum, sebuah tugas yang berhasil diselesaikan, atau sekadar sapaan dari seorang guru dapat menjadi kenangan yang tersimpan lama dalam ingatan seorang anak.
Saya pun memenuhi permintaannya. Saya mengambil foto Lala. Dalam sekejap, sebuah momen sederhana berubah menjadi kenangan. Tugas telah dikumpulkan, tanggung jawab telah ditunaikan, dan sebuah gambar menjadi saksi bahwa pada suatu hari seorang anak bernama Lala pernah berjuang menyelesaikan tugasnya dengan sungguh-sungguh.
Bukan hanya Lala yang mendapatkan kebahagiaan dari momen itu. Saya pun ikut bahagia. Saya melihat senyumnya. Senyum yang sederhana, tetapi mampu menunjukkan bahwa ia merasa senang. Dari senyum itu saya dapat melihat kebahagiaannya. Kebahagiaan seorang anak ternyata dapat menular kepada gurunya.
Menjadi guru harus menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk merasa dihargai, diperhatikan, dan diterima. Seorang anak mungkin lupa materi pelajaran yang disampaikan gurunya beberapa tahun kemudian. Ia mungkin lupa tanggal kapan sebuah tugas pernah diberikan. Ia mungkin lupa nilai yang pernah diperolehnya. Tetapi bisa jadi ia akan mengingat sebuah peristiwa kecil ketika gurunya tersenyum, memanggil namanya, menghargai hasil pekerjaannya, atau bersedia mengabadikan dirinya dalam sebuah foto.
Mungkin foto itu suatu hari nanti akan kembali dilihatnya ketika ia sudah dewasa.
Ia mungkin akan tersenyum dan berkata dalam hati, “Dulu aku pernah menjadi anak sekolah yang rajin mengerjakan tugas. Dulu ada guru yang menghargai usahaku.”
Betapa indah jika sebuah pembelajaran mampu meninggalkan kenangan seperti itu.
Saya sengaja ingin mengabadikan Lala bukan hanya melalui foto, tetapi juga melalui tulisan. Sebab bagi saya, foto mengabadikan wajah, sedangkan tulisan berusaha mengabadikan makna di balik sebuah peristiwa.
Hari ini mungkin Lala masih menjadi seorang pelajar. Ia sedang berada dalam fase kehidupan ketika tugas sekolah, teman-teman, guru, bermain, bercanda, dan belajar menjadi bagian dari hari-harinya. Namun waktu akan terus berjalan. Suatu saat ia akan meninggalkan bangku SMP. Ia akan melanjutkan perjalanan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Akan ada lingkungan baru, teman baru, guru baru, tantangan baru, bahkan mungkin impian baru.
Saya berharap satu hal: jangan pernah kehilangan semangat seperti yang terlihat hari ini.
Tetaplah menjadi anak yang rajin. Tetaplah telaten. Tetaplah menghargai proses. Jangan takut melakukan kesalahan, karena kesalahan adalah bagian dari perjalanan belajar. Jangan merasa kecil hanya karena belum mampu mencapai sesuatu yang besar. Ingatlah bahwa keberhasilan selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Tugas yang dikerjakan tepat waktu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi kebiasaan menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu adalah bekal kehidupan.
Ketelitian yang dilakukan ketika mengerjakan tugas mungkin terlihat biasa.
Tetapi ketelitian dapat menjadi kekuatan ketika kelak menghadapi pekerjaan dan kehidupan yang lebih kompleks.
Keberanian meminta sebuah foto mungkin terlihat sepele.
Tetapi keinginan untuk mengabadikan sebuah proses menunjukkan bahwa Lala mampu menghargai momen yang sedang dijalaninya.
Dan senyum yang terlihat hari ini mungkin kelak menjadi salah satu kenangan paling manis tentang masa sekolah.
Saya juga belajar dari Lala bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang kebahagiaan hadir ketika kita mampu membuat orang lain bahagia. Ketika seorang anak tersenyum karena permintaannya dipenuhi, gurunya pun ikut tersenyum. Ketika seorang siswa merasa dihargai, guru merasakan kepuasan. Ketika sebuah tugas selesai dengan baik, ada rasa syukur yang tumbuh.
Begitulah hubungan sederhana antara guru dan murid.
Tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah.
Tidak harus dengan hadiah mahal.
Terkadang cukup dengan perhatian, penghargaan, dan sebuah senyum.
Lala, teruslah melangkah.
Jadilah pribadi yang rajin bukan karena takut mendapatkan nilai rendah, tetapi karena memahami bahwa belajar adalah investasi untuk masa depan. Kerjakan tugas bukan hanya untuk memenuhi kewajiban kepada guru, tetapi sebagai latihan untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Dan jangan pernah kehilangan senyum.
Karena senyum yang tulus bukan hanya membuat wajah terlihat lebih indah, tetapi juga mampu membuat orang lain merasakan kebahagiaan.
Hari ini saya mengabadikanmu dalam sebuah foto.
Namun lebih dari itu, saya ingin mengabadikan sebuah pesan dalam tulisan ini: setiap usaha kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh layak dihargai.
Mungkin bagi orang lain, kisah ini hanyalah cerita sederhana tentang seorang siswa yang mengumpulkan tugas dan meminta foto.
Tetapi bagi saya, ini adalah cerita tentang semangat belajar, tanggung jawab, penghargaan, kebahagiaan, dan indahnya hubungan antara guru dengan peserta didik.
Lala, suatu hari nanti ketika kamu membaca tulisan ini kembali, mungkin kamu sudah jauh lebih dewasa. Mungkin kamu sudah mencapai cita-cita yang sekarang sedang kamu impikan. Saat itu, semoga kamu masih mengingat satu hal:
Pernah ada seorang guru yang bahagia melihat senyummu.
Dan mungkin, tanpa kamu sadari, pada hari itu kamu bukan hanya berhasil menyelesaikan sebuah tugas.
Kamu juga telah mengajarkan gurumu bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari sebuah perhatian kecil, sebuah foto sederhana, dan sebuah senyum yang tulus.
Teruslah belajar, teruslah bertumbuh, dan teruslah menjadi Lala yang rajin, telaten, bertanggung jawab, serta mampu membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarmu.
Sebab kehidupan ini terlalu singkat untuk hanya diisi dengan mengejar keberhasilan.
Sesekali, berhentilah sejenak.
Tersenyumlah.
Nikmati prosesnya.
Dan abadikan kenangan baik sebanyak mungkin.
Karena kelak, ketika waktu telah berlalu, kenangan-kenangan kecil itulah yang sering kali menjadi harta paling berhar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar