Karya: Gutamining Saida
Setiap bulan Agustus, hati kita kembali diingatkan pada sebuah perjuangan besar. Bangsa Indonesia pernah berada dalam masa yang tidak mudah. Para pahlawan berjuang melawan penjajahan dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Mereka rela kehilangan waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa demi satu kata yang begitu berharga bernama kemerdekaan.
Kemerdekaan tidak datang dengan mudah. Ada air mata yang jatuh, darah yang tertumpah, keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Para pejuang tidak berhenti. Mereka terus melangkah karena memiliki keyakinan bahwa suatu hari bangsa ini akan terbebas dari belenggu penjajahan.
Membaca sebuah chat Pak Gun di grup Muda Swimming Squad 2, tiba-tiba saya menemukan makna perjuangan yang lain. Bukan lagi perjuangan bangsa melawan penjajah, tetapi perjuangan manusia melawan rasa sakit.
"Bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka dari penjajah. Kita berjuang untuk merdeka dari sakit."
Selama ini kita sering memandang sakit sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Ketika tubuh terasa tidak nyaman, tenaga berkurang, aktivitas yang dahulu mudah dilakukan tiba-tiba terasa berat, hati kita bertanya, “Mengapa saya harus mengalami ini?”
Tidak jarang rasa sakit membuat seseorang merasa lemah, kehilangan semangat, merasa hidupnya tidak lagi sebebas dahulu, diam-diam menangis karena tidak ingin orang lain mengetahui betapa berat perjuangan yang sedang dijalani.
Allah Subhanahu Wata'alla memberikan ujian bukan untuk membuat manusia hancur. Ujian dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ketika sehat, terkadang manusia terlalu sibuk dengan dunia. Langkah kaki begitu cepat mengejar pekerjaan, keluarga, keinginan, cita-cita, dan berbagai urusan. Doa mungkin hanya menjadi bagian kecil dari kesibukan.
Ketika tubuh mulai memberi tanda, kekuatan berkurang, harus berhenti sejenak, saat itulah manusia sering kembali mengingat dirinya hanyalah makhluk. Akhirnya, kita membutuhkan Allah Subhanahu Wata'alla. Sakit terkadang menjadi pengingat yang sangat lembut bahwa manusia bukan pemilik kehidupan. Kita hanya menjalani amanah yang diberikan oleh-Nya.
Kita perlu berjuang bukan hanya kesembuhan dari penyakit, tetapi kemerdekaan hati dari rasa takut, kecewa, putus asa, dan terlalu banyak mengeluh.
Sembuh tentu menjadi harapan. Berobat adalah ikhtiar. Menjaga tubuh adalah bentuk tanggung jawab. Berolahraga, mengikuti terapi, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, menjaga pola hidup, dan melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kesehatan merupakan bagian dari perjuangan manusia.
Setelah semua ikhtiar dilakukan, ada satu hal yang harus kita belajar berserah diri. Manusia boleh merencanakan, Allah Subhanahu Wata'alla yang menentukan. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla yang memiliki keputusan terakhir. Manusia boleh berharap kesembuhan datang hari ini, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla memiliki waktu yang paling tepat.
Di sinilah arti ridha menjadi begitu penting. Ridha bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ridha juga bukan berarti pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Ridha menerima ketetapan Allah dengan hati yang berusaha tetap percaya, sambil terus melakukan ikhtiar terbaik.
Duduk dengan nyaman, berjalan tanpa rasa sakit, tidur nyenyak, menikmati secangkir minuman hangat, tertawa bersama teman, menghirup udara pagi, atau sekadar bisa melakukan aktivitas sehari-hari ternyata adalah nikmat yang luar biasa.
Kadang manusia baru menyadari mahalnya sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang. Saya pun belajar bahwa perjuangan mendapatkan kesehatan tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada orang-orang yang hadir memberikan semangat. Ada teman yang mengajak bergerak. Ada seseorang yang mengingatkan untuk tetap berusaha. Ada lingkungan yang membuat kita merasa bahwa kita tidak sendirian menghadapi ujian.
Para pejuang kemerdekaan yang dahulu berjuang bersama, manusia yang sedang menghadapi sakit pun membutuhkan dukungan. Satu kalimat penyemangat terkadang mampu membuat seseorang kembali berdiri. Satu senyuman bisa mengurangi rasa berat. Satu ajakan sederhana untuk bergerak bisa menjadi awal dari harapan baru.
Ada yang hari ini terlihat kuat, mungkin karena kemarin ia pernah melewati masa yang sangat berat. Ada yang tertawa lepas, mungkin karena ia sudah belajar berdamai dengan keadaan. Ada yang terus menyemangati orang lain, mungkin karena ia tahu bagaimana rasanya ketika dirinya membutuhkan semangat.
Allah tentu mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya. Ujian datang dengan ukuran yang tidak pernah salah. Apa yang menurut kita terlalu berat, mungkin dalam pandangan Allah kita memiliki kekuatan untuk melewatinya. Bahkan ketika kita merasa sudah tidak sanggup, sering kali masih ada kekuatan yang muncul sedikit demi sedikit.
Tidak perlu membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain. Sebab setiap tubuh memiliki kemampuan berbeda, setiap hati memiliki kekuatan berbeda, dan setiap manusia memiliki waktunya sendiri. Ada pula yang justru mendapatkan pelajaran kehidupan yang jauh lebih besar daripada sekadar kesembuhan.
Maka, ketika sakit datang, semoga kita tidak hanya bertanya, “Kapan saya sembuh?” Tetapi juga berani bertanya, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui sakit ini?” Allah sedang mempertemukan kita dengan orang-orang baik yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.
Kemerdekaan bangsa diraih melalui perjuangan panjang. Begitu pula kemerdekaan dari rasa sakit. Tidak selalu berarti tubuh kembali seperti semula. Terkadang kemerdekaan itu justru terjadi ketika hati sudah tidak lagi dikuasai ketakutan.
Kita semua sedang menjadi pejuang dalam bentuk yang berbeda. Para pahlawan dahulu berjuang agar bangsa ini merdeka. Kita hari ini berjuang agar tubuh dan hati kembali menemukan kekuatan. Perjuangan terbesar bukanlah melawan rasa sakit, melainkan belajar menerima di balik setiap ujian ada kehendak Allah yang belum tentu langsung mampu kita pahami.
“Ya Allah, saya akan terus berusaha. Jika kesembuhan adalah jalan terbaik bagi saya, mudahkanlah. Jika ujian ini masih harus saya jalani, kuatkanlah hati saya. Jangan biarkan rasa sakit menjauhkan saya dari-Mu. Jadikan setiap rasa sakit sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu dan menemukan hikmah yang luar biasa.” Melainkan ketika hati telah merdeka menerima ketetapan-Nya, jiwa tetap penuh harapan, dan langkah tetap berjalan menuju Allah.
Cepu 21 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar