Karya: Gutamining Saida
Ada sebuah fenomena sederhana yang terus berputar dalam pikiran saya. Mungkin bagi sebagian orang hal itu biasa saja, tetapi bagi saya menyimpan pelajaran kehidupan yang sangat dalam. Fenomena itu saya alami berkali-kali ketika mengikuti terapi bersama teman-teman di kolam.
Di dalam air, kami bergerak dengan arah yang berbeda. Ada yang sedang meluncur, ada yang berlatih mengambil napas, ada yang sedang belajar mengapung, dan ada pula yang sedang menyempurnakan gerakan kaki. Karena jumlah peserta cukup banyak, sesekali kaki saling beradu, tangan tidak sengaja menyentuh tubuh teman, bahkan terkadang kaki saling bersenggolan.
Anehnya, hampir tidak pernah terdengar suara kemarahan. Yang muncul justru senyum. Bahkan sering kali disusul tawa yang lepas.
"Maaf ya..."
"Iya, tidak apa-apa."
Lalu kami tersenyum, tertawa bersama dan lanjut berenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada wajah memerah karena emosi. Tidak ada mata melotot. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada keinginan membalas. Yang ada hanyalah saling memahami bahwa semua itu terjadi tanpa disengaja. Saya kemudian bertanya dalam hati, mengapa suasana di kolam bisa sedamai itu? Padahal benturan fisik benar-benar terjadi. Mengapa hati terasa begitu lapang?
Semakin lama kita merenung, semakin kita menemukan bahwa air bukan sekadar tempat berolahraga. Air memiliki sifat yang mengajarkan ketenangan. Air selalu mencari tempat yang rendah. Air tidak pernah sombong. Air mampu membersihkan kotoran. Air juga mampu menyejukkan tubuh yang kepanasan. Tanpa disadari, air ikut mendinginkan hati orang-orang yang berada di dalamnya.
Dalam ajaran Islam, air memiliki kedudukan yang sangat mulia. Air menjadi sarana bersuci melalui wudu maupun mandi. Sebelum menghadap Allah Subhanahu Wata'alla dalam salat, seorang muslim diperintahkan membersihkan anggota tubuhnya dengan air. Bukan hanya badan yang dibersihkan, tetapi hati juga dipersiapkan agar lebih tenang ketika berdiri di hadapan Sang Pencipta.
Rasulullah, mengajarkan ketika seseorang sedang marah, hendaknya ia berwudu. Para ulama menjelaskan bahwa marah diibaratkan berasal dari panasnya godaan setan, sedangkan air mampu memadamkan panas tersebut. Betapa indahnya ajaran Islam. Bahkan sebelum ilmu psikologi modern berkembang, Islam telah mengajarkan cara mengendalikan emosi dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla melalui air dan ibadah.
Ketika seseorang membasuh wajahnya, seolah ia sedang mencuci kesombongan. Ketika membasuh tangan, mengingat kita agar tidak mudah menyakiti orang lain. Ketika membasuh kepala, ia diajak menjernihkan pikiran. Ketika membasuh kaki, diingatkan agar melangkah menuju kebaikan.
Air ternyata bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi juga mendidik jiwa. Lalu pikiran saya melayang ke tempat lain, yaitu jalan raya. Di sana suasananya sering kali berbeda. Senggolan kecil antara kendaraan bisa berubah menjadi pertengkaran besar. Klakson dibunyikan berkali-kali. Kata-kata kasar terlontar. Wajah berubah merah. Bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan perkelahian hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan saling meminta maaf.
Jika direnungkan, banyak kejadian di jalan terjadi karena tidak sengaja. Sama seperti benturan di kolam renang. Bedanya hanyalah cara hati menyikapinya. Di kolam, orang lebih mudah berkata, "Maaf." Di jalan raya, sebagian orang justru lebih cepat berkata, "Salahmu!"
Padahal satu kata maaf sering kali jauh lebih kuat daripada seribu kata pembelaan. Alangkah indahnya jika suasana di jalan raya memiliki semangat seperti suasana di kolam. Ketika tersenggol, masing-masing tersenyum. Ketika terjadi kesalahan, saling memaafkan. Ketika ada kekeliruan, lebih memilih menahan ego daripada mempertahankan amarah.
Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla mencintai orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesamanya?
Menahan marah bukan berarti lemah. Justru itulah tanda kekuatan sejati. Orang yang mampu mengalahkan emosinya adalah orang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Kemenangan terbesar bukanlah ketika mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika mampu mengendalikan hawa nafsu.
Air kolam pun dapat menjadi guru kehidupan. Ia mengajarkan kelembutan, kesabaran, kebersamaan, dan kerendahan hati. Setiap cipratan air seolah mengingatkan bahwa hidup akan jauh lebih damai jika hati tetap sejuk. Setiap senyum teman yang tidak sengaja tersenggol menjadi bukti bahwa memaafkan adalah pilihan yang membahagiakan. Setiap tawa yang terdengar di tengah latihan menjadi isyarat bahwa persaudaraan jauh lebih penting daripada mempertahankan ego.
Semoga kita mampu membawa kesejukan air itu ke mana pun melangkah. Ke rumah, ke sekolah, ke tempat kerja, ke media sosial, hingga ke jalan raya. Jangan biarkan hati menjadi panas hanya karena persoalan kecil. Jika emosi mulai muncul, ingatlah nasihat Rasulullah untuk segera berwudhu. Basuhlah wajah, tangan, kepala, dan kaki. Mohonlah kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar hati kembali teduh.
Karena dunia tidak membutuhkan banyak orang yang mudah marah. Dunia membutuhkan lebih banyak hati yang lembut, jiwa yang lapang, dan manusia yang mudah memaafkan. Semoga setiap tetes air yang menyentuh tubuh kita menjadi pengingat agar hati tetap bersih, pikiran tetap jernih, dan akhlak semakin mulia. Aamiin
Cepu, 17 Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar