Senin, 13 Juli 2026

Kenangan Indah

Karya : Gutamining Saida

Tahun ajaran baru telah dimulai. Suasana rumah kembali seperti semula. Kamar-kamar yang beberapa minggu lalu dipenuhi suara tawa kini kembali sunyi. Mainan yang berserakan sudah dirapikan. Gelas-gelas kecil yang biasa digunakan untuk minum bersama cucu telah kembali tersusun rapi di rak. Setelah liburan panjang usai, ketiga cucu kembali pulang ke Tegal untuk melanjutkan sekolah dan aktivitas mereka.

Kesunyian itu selalu datang setiap kali liburan berakhir. Di balik sunyi tersebut, hati saya dipenuhi rasa syukur. Liburan kali ini kembali menghadirkan begitu banyak kenangan indah yang layak disimpan, bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam bentuk tulisan.

Saya memang memiliki kebiasaan mengabadikan setiap momen bersama keluarga. Bagi sebagian orang, mungkin cukup dengan foto atau video. Bagi saya, tulisan memiliki kekuatan yang berbeda. Tulisan mampu menyimpan suasana, emosi, percakapan, bahkan pelajaran hidup yang mungkin suatu saat nanti terlupakan.

Tujuan saya sangat sederhana. Saya ingin ketika cucu-cucu saya telah dewasa, mereka dapat membaca kembali kisah-kisah masa kecilnya. Mungkin saat itu mereka sudah menjadi mahasiswa, bekerja, atau bahkan telah berkeluarga. Saya berharap tulisan-tulisan ini dapat membawa mereka kembali ke masa ketika mereka menghabiskan liburan di Cepu bersama Akung dan Timminya.

Setiap liburan mereka datang ke Cepu. Saya selalu berusaha agar liburan mereka tidak sekadar diisi dengan menonton televisi. Saya ingin mereka memiliki pengalaman yang beragam, belajar sambil bermain, tertawa bersama, sekaligus membawa pulang kenangan yang menyenangkan.

Tentu tidak mudah menghibur anak-anak. Dunia mereka berubah sangat cepat. Apa yang hari ini membuat mereka antusias, belum tentu menarik lagi keesokan harinya. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar sekaligus mudah merasa bosan.

Saya pun belajar memahami dunia mereka. Setiap akan membuat permainan baru, saya sering mencari inspirasi dari berbagai media sosial. Saya mengamati berbagai ide kreatif dari para pendidik, orang tua, maupun kreator pendidikan. Setelah menemukan ide yang menarik, saya tidak serta-merta menirunya. Saya menerapkan prinsip ATM, yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi.

Saya mengamati konsep permainannya, memahami tujuan belajarnya, lalu memodifikasinya agar sesuai dengan usia cucu-cucu saya. Kadang saya menyesuaikan dengan bahan yang ada di rumah sehingga tidak perlu membeli perlengkapan baru. Di situlah letak keseruannya.

Barang-barang sederhana yang sering dianggap sampah dapat berubah menjadi media belajar yang menyenangkan. Kardus bekas bungkus makanan ringan, kertas warna, tutup botol, stik es krim, hingga kardus bekas kemasan dapat disulap menjadi alat permainan edukatif.

Suatu hari saya membuat media belajar penjumlahan menggunakan potongan kardus bekas bungkus makanan ringan. Saya memotongnya menjadi beberapa bagian, menuliskan angka-angka, lalu menyusun aturan permainan yang sederhana. Tidak ada teknologi canggih. Tidak ada suara digital. Hanya kreativitas dan sedikit sentuhan imajinasi.

Sebelum permainan dimulai, saya sempat bertanya dalam hati, "Apakah mereka akan tertarik?" Sebab saya tahu betul, mereka tidak suka memainkan permainan yang sama berulang kali. Jika permainan itu pernah dimainkan saat liburan sebelumnya, biasanya mereka akan langsung berkata, "Ini sudah pernah timmi."

Karena itulah saya selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang baru.  Begitu permainan dimulai, mereka justru sangat antusias. Mereka saling berebut giliran, menghitung dengan penuh semangat, kemudian mencocokkan jawaban sambil tertawa ketika ada yang keliru.

Yang membuat saya semakin bahagia adalah mereka memainkan permainan itu hingga selesai. Tidak ada yang meninggalkan tempat permainan. Tidak ada yang sibuk mencari ainan lain. Mereka menikmati setiap prosesnya.

Saat melihat wajah-wajah kecil yang penuh semangat itu, saya kembali menyadari bahwa anak-anak sebenarnya tidak selalu membutuhkan mainan mahal. Mereka lebih membutuhkan orang dewasa yang mau hadir, menemani, dan ikut bermain bersama mereka. Kehadiran jauh lebih berharga daripada hadiah.

Permainan sederhana yang dibuat dengan penuh perhatian ternyata mampu menciptakan kebahagiaan yang begitu besar. Tnpa disadari, mereka sedang belajar berhitung, melatih konsentrasi, bersabar menunggu giliran, bekerja sama, sekaligus belajar menerima jika jawabannya belum benar.

Semua itu terjadi secara alami, tanpa mereka merasa sedang belajar. Keterbatasan sering kali memunculkan ide-ide terbaik. Barang bekas yang semula dianggap tidak berguna dapat menjadi sarana belajar yang menarik apabila dipadukan dengan kasih sayang dan kreativitas.

Liburan akan selalu berakhir. Anak-anak akan tumbuh. Permainan-permainan sederhana ini suatu hari nanti mungkin akan mereka lupakan. Kardus-kardus bekas itu pun suatu saat akan dibuang. Saya berharap, rasa bahagia yang mereka rasakan akan tetap tinggal di dalam hati.

Saya ingin setiap tawa, setiap permainan, setiap perjalanan kecil selama liburan di Cepu tetap hidup melalui rangkaian kata. Kelak ketika mereka membaca tulisan ini, saya berharap mereka akan tersenyum dan berkata, "Dulu, setiap liburan kami selalu ke rumah Akung ke Cepu. Di sana ada Akung dan Timmi yang selalu punya permainan baru untuk kami."

Mungkin mereka tidak akan mengingat semua detail permainan yang pernah dibuat. Pada akhirnya, warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada anak dan cucu yaitu perhatian, kasih sayang, dan kenangan yang indah. Masa kecil hanya datang sekali. Ketika ia telah berlalu, tidak ada yang dapat mengulangnya. Melalui tulisan, setiap jejak kebahagiaan itu akan tetap hidup, menjadi pengingat.

Cepu, 14 Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar