Karya: Gutamining Saida
Tidak semua proses belajar harus berlangsung di dalam ruang kelas. Tidak semua ilmu harus disampaikan melalui media yang mahal. Kadang. Belajar yang paling membekas justru lahir dari benda-benda sederhana yang disentuh oleh tangan penuh cinta dan hati yang tulus.
Liburan sekolah tahun ini menjadi momen yang sangat saya syukuri. Rumah kami di Cepu kembali dipenuhi suara tawa cucu-cucu yang datang dari Kota Tegal. Kehadiran mereka menghidupkan setiap sudut rumah. Langkah kaki kecil yang berlarian, canda yang tak pernah habis, dan wajah-wajah polos yang selalu ingin mencoba hal baru menjadi anugerah yang tak ternilai.
Sejak mereka datang, saya memiliki satu harapan sederhana. Saya ingin mereka pulang membawa kenangan indah yang akan tetap tinggal di hati hingga mereka dewasa. Saya percaya, anak-anak mungkin akan lupa hadiah yang pernah diterima, tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang meluangkan waktu untuk menemani mereka.
Saya juga tidak membeli alat peraga yang mahal. Saya membuka tumpukan kardus bekas yang masih layak digunakan. Di sudut rumah masih tersimpan kalender tahun lalu yang sudah tidak terpakai. Dengan gunting sederhana, saya memotong angka demi angka. Lembaran-lembaran yang tadinya dianggap tidak berguna perlahan berubah menjadi media belajar penjumlahan dan pengurangan.
Saat menyusun potongan-potongan angka itu, hati saya dipenuhi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa setiap nikmat patut dihargai. Sesuatu yang dianggap usang masih dapat menghadirkan manfaat jika berada di tangan yang mau berikhtiar. Kardus bekas itu seolah mengingatkan bahwa manusia pun akan selalu bernilai ketika mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Tidak lama kemudian, cucu-cucu saya yang masih duduk di bangku TK dan SD berkumpul mengelilingi saya. Mata mereka berbinar melihat permainan baru yang belum pernah mereka coba. Mereka tidak peduli bahwa semua dibuat dari barang bekas. Yang mereka lihat hanyalah sebuah permainan yang mengasyikkan bersama nenek yang mereka cintai..
Saya mengambil beberapa angka untuk memberi contoh. Lalu meminta mereka menghitung hasil penjumlahan. Setelah itu saya mengganti dengan soal pengurangan. Suasana langsung berubah menjadi riuh. Mereka saling berebut menjawab. Ada yang menghitung dengan jari-jari mungilnya, ada yang menjawab dengan penuh percaya diri, dan ada pula yang tertawa ketika ternyata jawabannya masih keliru.
Saya tidak pernah mengatakan mereka salah dengan nada yang membuat mereka takut. Saya memilih mendampingi, memberi petunjuk sedikit demi sedikit, hingga mereka menemukan sendiri jawaban yang benar. Saat itulah senyum bangga muncul di wajah mereka. Bukan karena diberi hadiah, melainkan karena berhasil mengalahkan rasa ragu dalam dirinya.
Di tengah-tengah permainan saya tersadar, ternyata anak-anak belajar jauh lebih cepat ketika hati mereka bahagia. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang melatih kemampuan berhitung. Yang mereka rasakan hanyalah bermain bersama neneknya. Yang mereka sapa dengan "TIMMI"
Di sela-sela permainan saya mengajak mereka mengucapkan basmalah sebelum memulai. Setelah berhasil menjawab beberapa soal, kami bersama-sama mengucapkan hamdalah. Saya ingin mereka memahami bahwa ilmu adalah karunia Allah Subhanahu Wata'alla. Kepandaian bukan alasan untuk sombong, tetapi jalan untuk semakin bersyukur kepada-Nya.
Saya pun berkata kepada mereka dengan bahasa yang mudah dipahami, "Kalau rajin belajar, Allah akan sayang. Kalau ilmunya dipakai untuk membantu orang lain, pahalanya akan terus mengalir." Saya semakin yakin bahwa mendidik bukan hanya soal mengajarkan angka dan huruf. Mendidik adalah menanamkan rasa percaya diri, kesabaran, rasa syukur, kepedulian, dan cinta kepada Allah Subhanahu Wata'alla melalui pengalaman-pengalaman kecil yang menyenangkan.
Permainan pun usai. Potongan angka kembali dikumpulkan. Kertas bekas itu mungkin tampak biasa bagi orang lain. Bagi saya, benda-benda sederhana tersebut telah menjadi saksi lahirnya tawa, semangat belajar, dan kasih sayang yang mengalir tanpa syarat.
"Ya Allah, jadikan setiap detik kebersamaan ini sebagai amal jariyah. Tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam hati cucu-cucu kami. Jadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah, rendah hati ketika berilmu, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama." Aamiin.
Cepu, 3 Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar