Karya: Gutamining Saida
Liburan sekolah selalu menjadi waktu yang paling dinanti oleh anak-anak. Liburan adalah kesempatan untuk bermain sepuasnya, bertemu keluarga, dan mencoba berbagai pengalaman baru. Bagi saya, liburan memiliki makna yang penting. Liburan adalah kesempatan emas untuk menanamkan kasih sayang, nilai-nilai kehidupan, serta mempererat ikatan keluarga yang telah Allah Subhanahu Wata'alla anugerahkan.
Alhamdulillah, liburan kali ini cucu-cucu tercinta datang dari Kota Tegal menuju Cepu. Rumah yang biasanya terasa tenang mendadak berubah menjadi penuh canda, tawa, dan langkah-langkah kecil yang berlarian ke sana kemari. Kehadiran mereka menjadi nikmat yang tak ternilai. Saya menyadari bahwa tidak semua kakek atau nenek diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu Wata'alla untuk menemani tumbuh kembang cucunya. Karena itulah, setiap detik kebersamaan menjadi amanah yang harus disyukuri.
Sejak beberapa hari sebelumnya, saya telah mempersiapkan sebuah kegiatan sederhana. Saya ingin mereka tidak hanya menonton televisi, tetapi juga belajar berkreasi menggunakan tangan mereka sendiri. Saya percaya kenangan masa kecil yang paling indah bukanlah tentang mainan yang mahal, melainkan tentang waktu yang diberikan oleh orang-orang yang mencintai mereka.
Saya menyiapkan beberapa lembar kertas bergambar buah-buahan, yaitu stroberi, mangga, dan apel. Saya juga memotong sedotan warna merah dan hijau menjadi potongan-potongan kecil sebagai bahan hiasan. Semua perlengkapan saya tata dengan rapi. Mungkin bagi orang lain benda-benda itu tampak sederhana, tetapi di mata saya, semua itu adalah sarana untuk menghadirkan kebahagiaan sekaligus menanamkan kreativitas kepada cucu-cucu.
Mereka bertiga memiliki usia yang berbeda. Elmira, si bungsu, sebentar lagi akan masuk taman kanak-kanak. Wajahnya masih begitu polos dan penuh rasa ingin tahu. Hamzah, sang kakak, akan memasuki bangku sekolah dasar. Ia mulai belajar berpikir lebih mandiri dan senang mencoba hal-hal baru. Sementara Zaskia, cucu pertama, telah naik ke kelas tiga sekolah dasar. Ia tampak lebih teliti, lebih sabar, dan mampu memahami instruksi dengan baik.
Perbedaan usia ternyata bukan penghalang untuk berkarya bersama. Justru saya melihat betapa indahnya Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki kelebihan sesuai tahap perkembangannya. Hal itu mengingatkan saya pada firman Allah bahwa Dia meninggikan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam berbagai derajat agar mereka saling belajar dan saling melengkapi.
Saat saya mempersilakan mereka memilih gambar, tidak ada sedikit pun pertengkaran. Mereka memilih gambar stroberi, mangga, ataupun apel dengan tenang. Hati saya dipenuhi rasa syukur melihat mereka saling menghargai. Betapa indah jika sikap seperti ini terus tumbuh hingga dewasa nanti.
Setelah semua memperoleh gambar, saya memberikan contoh cara menempel potongan-potongan sedotan mengikuti bentuk buah yang telah tersedia. Mereka memperhatikan dengan baik. Tidak lama kemudian, tangan-tangan mungil itu mulai bekerja. Ada yang menempel perlahan-lahan, ada yang sesekali bertanya, bahkan ada yang tersenyum bangga setiap kali berhasil menempel satu demi satu potongan sedotan.
Saya hanya mengamati, sesekali memberikan semangat, lalu membiarkan mereka berimajinasi. Saya ingin mereka belajar bahwa sebuah karya membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan usaha. Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla juga mengajarkan kepada manusia bahwa setiap hasil yang baik lahir dari ikhtiar yang sungguh-sungguh?
Melihat mereka berkarya, hati saya dipenuhi rasa haru. Waktu seolah berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dahulu masih digendong orang tuanya, kini mulai belajar menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri. Saya pun teringat bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan singkat. Anak-anak akan tumbuh besar, memiliki cita-cita, keluarga, dan kehidupan mereka masing-masing. Karena itulah, saya ingin meninggalkan jejak kenangan yang baik dalam hati mereka.
Saya berharap suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa, mereka akan mengenang masa kecilnya di Cepu. Mungkin mereka akan berkata, "Dulu saat liburan, kami sering membuat karya bersama Timmi." Kenangan seperti itulah yang tidak dapat dibeli dengan uang. Ia lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang yang tulus.
Tidak membutuhkan waktu lama, satu per satu karya mereka selesai. Hasilnya sungguh luar biasa. Walaupun bentuknya berbeda-beda, semuanya tampak indah. Saya tidak membandingkan hasil karya mereka, sebab setiap anak memiliki keunikan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Yang terpenting bukanlah siapa yang paling bagus, tetapi siapa yang berani mencoba, belajar, dan menikmati prosesnya.
Saya memuji setiap karya mereka. Senyum bahagia langsung menghiasi wajah-wajah mungil itu. Betapa mudahnya membuat anak merasa dihargai. Cukup dengan kata-kata yang baik dan perhatian yang tulus, semangat mereka tumbuh semakin besar.
"Ya Allah, jadikanlah cucu-cucu saya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada ilmu, akhlak yang mulia, rasa hormat kepada orang tua, serta semangat untuk selalu berkarya demi kebaikan. Lindungilah mereka di mana pun mereka berada, mudahkan langkah mereka dalam menuntut ilmu, dan jadikan mereka generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan sesama manusia."
Semoga setiap tawa yang terukir di rumah menjadi saksi rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla Semoga setiap karya sederhana yang mereka buat menjadi awal tumbuhnya kreativitas, kesabaran, dan rasa percaya diri. Semoga setiap detik kebersamaan selama liburan menjadi amal saleh yang bernilai ibadah. Semoga kenangan indah ini tersimpan dalam hati cucu-cucu saya hingga mereka dewasa kelak, menjadi pengingat bahwa cinta keluarga yang dilandasi iman adalah salah satu nikmat terbesar yang patut disyukuri. Aamiin
Cepu, 2 Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar